Politikus Membela Agama, Mungkinkah?

Tulisan ini saya tempatkan dalam kategori “Tadarus”, yang berarti renungan yang bersifat subjektif-personal. Tiba-tiba saja terbersit dalam pikiran saya, berandai-andai kalau saya menjadi seorang politikus. Hanya sebatas berandai-andai, karena saya merasakan sekujur pribadi dan pengalaman saya tak punya potongan, apalagi bakat, menjadi politikus. Pun, dalam pergaulan, sampai saat ini saya belum punya teman dekat seorang politikus. Teman dekat itu bisa berarti teman sekolah, teman sekantor, teman sekampung, atau sekurang-kurangnya saat ini saya punya keleluasaan untuk berkomunikasi dengan orang seperti itu. Tidak ada.

OK, kenapa saya memilih topik “membela agama”? Ya, terus terang, hiruk-pikuk politik yang begitu turbulent sejak Pemilihan Presiden 2014, ditambah Pilkada DKI 2017, memapar saya dengan isu agama, dengan intensitas yang sangat-sangat besar. Mungkin tak berlebihan kalau saya katakan kedua event politik itu membawa gemuruh isu agama yang paling besar sepanjang sejarah politik di Indonesia.

Mungkin pakar politik bisa membangun argumentasi rasional bahwa gemuruh isu agama itu hanya semacam kewajaran, atau bahkan keniscayaan. Tapi, sebagai bukan siapa-siapa selain “fulan bin awam” dalam urusan politik, yang saya lihat adalah banyak ekses negatif, walau tidak semua berimbas langsung ke saya sebagai pribadi. Misalnya, banyak energi tersedot untuk perdebatan muter-muter, perselisihan pendapat tanpa ujung, bahkan pertengkaran dan permusuhan (dalam lingkup pertemanan dan keluarga). Sebegitu mahalkah pertaruhannya?

Pertanyaan itulah titik pijakan untuk judul tulisan yang saya pilih. Segala hiruk pikuk ini bisa dikerucutkan menjadi sebuah proposisi bahwa ada sebuah arus besar yang menempatkan agama begitu tegas, begitu formal, begitu saklek, begitu rigid di belakang satu pilihan politik tunggal. Arus itu memaklumkan garis tegas kepada khalayak pemilih, sangat mirip dengan ungkapan terkenal Presiden Amerika Serikat George W. Bush di awal milennium sebelum menggelar perang di Irak: “Either you’re with us, or against us.” (Saat itu, Bush bahkan secara harfiah menyetarakan tawarannya itu dengan jargon “Crusade” atau Perang Salib).

Bisa dikatakan, gemuruh isu agama di Pilpres 2014 dan Pilkada DKI 2017 adalah fenomena yang belum ada presedennya di Indonesia. Di zaman Orde Lama, memang pernah terjadi Kongres Umat Islam. Tapi faktanya, politik Islam tersalur alamiah ke lebih dari satu aliran. Ada Masyumi, ada NU, ada sosialis Islam, dan tentu saja nasionalis. Ketika patron hegemoni Orde Baru runtuh di tahun 1998, ada peluang lagi dan bahkan sudah ada upaya “menunggalkan” kembali politik Islam. Faktanya, upaya itu bukan hanya gagal, tapi para politikus senior Islam sampai akar rumut pun sangat nyaman memegang bendera masing-masing: PKB, PKS, PAN, PPP, PBB, dan sederet partai-partai mungil. Yang di Golkar dan PDIP pun bejibun.

OK, mungkin tidak sopan kalau menggugat para politikus Islam pasca Orde Baru ketika itu, kenapa mereka belum mengerti bagaimana caranya bersatu. Tapi, sebaliknya tentu boleh, dong, memaknai pilihan-pilihan bendera itu adalah pilihan politik biasa-biasa saja. Pilihan politik yang sah, pilihan firqah yang OK, pilihan tha’ifah yang lumrah, pilihan jam’iyat yang acceptable untuk membangun negara. Yang penting, akhlak bagus, integritas kokoh, prinsip-prinsip religiusitas dijalankan… dan seterusnya. Lho, kenapa sekarang tiba-tiba pemilih diancam label keluar shaf ketika punya pandangan yang baik untuk negara, yang kebetulan berbeda bendera?

Ada yang mengatakan Pilpres 2014 dan Pilkada DKI 2017 adalah momentum suci penyatuan umat Islam yang tak boleh disia-siakan. Saatnya umat bersatu, begitu katanya. Bersatu dengan apa? Dengan koalisi pelangi partai-partai politik merah-kuning-hijau di langit yang biru? Apakah legislator muslim sudah bersih dari hobi nilep anggaran? Apakah legislator muslim sudah bersih dari riwayat tamasya ke luar negeri dengan menipu pake “studi banding”? Apakah legislator muslim sudah tak tersangkut arisan proyek negara?

Mungkin ajakan umat Islam bersatu dalam pilihan politik akan memiliki basis yang kuat, tanpa harus menjawab semua pertanyaan-pertanyaan itu. Caranya? Berikan bukti yang otentik bahwa politikus muslim itu memang membela agama, yang berarti memperjuangkan rahmat Allah untuk bangsa Indonesia. Misalnya, gaya hidup sederhana, tanpa jam Rolex dan berbagai aksesoris mewah sejenisnya, tanpa mobil berharga “M”. Akan lebih memikat lagi, kalau seluruh pendapatan mereka dari negara sebagai anggota Dewan masuk ke Baitul Maal, dan mereka digaji oleh Baitul Maal.

Kalau tidak bisa? Ya sudah, tahu diri saja, politikus itu ya cuma pekerja biasa yang profan. Tak perlu dicanteli predikat “pembela agama”. Bisa bekerja dengan baik, bersungguh-sungguh dan jujur itu sudah bagus. Menunjukkan prestasi kerja yang bagus insya Allah mengundang doa baik segenap rakyat. Tapi, urusan pahala dan ridha hanya Allah yang punya kuasa.

Berat, Mas Bro, predikat “membela agama” di jalan politik itu. Bayangkanlah Khalifah Abu Bakar As-Siddiq, r.a., yang tak lagi mengurusi niaga, cukup hidup dengan gaji dari Baitul Maal. Ketika isteri beliau meminta dibelikan manisan, dengan apa adanya beliau bilang tak punya cukup uang. Ketika isteri beliau akhirnya berhasil menyisihkan uang gaji, dan terkumpul cukup untuk membeli manisan, apa kata beliau? “Ternyata gaji kita lebih, ya. Kita kembalikan kelebihannya itu ke Baitul Maal.”

Wallahu a’lam bi al-shawab.

Renungan Menjadi Orangtua

Kian banyak tahu kesalahan yang kubuat dalam mendidik anak, kian terang bagiku bahwa menjadi orangtua tak bisa ditamsil layaknya orang memasak. Tinggal ikuti resep, bersih-bersih, potong-potong, ulek, aduk, cemplung, panaskan, matang.

Ilmu mendidik anak tidak sama dengan tips parenting. Ilmu dari guru, pakar, buku, kuliah, seminar, workshop… semua adalah himpunan pengetahuan umum dari banyak pengalaman. Sedangkan setiap anak mengukir pengalaman dan merangkai perjalanannya sendiri.

Tak ada orang yang sempurna, dan karena itu orangtua tak diminta menjadi sempurna tahu segalanya. Anak-anak hanya butuh orangtua yang bersedia terus belajar bersama mereka.

Menjadi orangtua tak seperti memasak sekali jadi. Tidak ada resep atau tips jitu. Yang ada hanya kesempatan untuk memperbaiki. Memperbaiki dan terus memperbaiki. Hanya dengan itu aku berhak mengharapkan pertolongan dan petunjuk Allah, agar perjalananku selamat.

Semoga Allah mengampuni kesalahan-kesalahanku. Amin ya Rabbal ‘alamin.

UNBK SMK: Sekolah Kejuruan dengan Keterampilan Tulis

Kemarin, tanggal 3 April 2017, Ujian Nasional (UN) bagi anak Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dimulai. Yang menonjol dari ritual ujian akhir jenjang tahun ini, seperti tergambar dalam berbagai berita di media, adalah kesemarakan penggunaan teknologi komputer. Ujiannya dinamakan UNBK atau Ujian Nasional Berbasis Komputer. Kemajuan?

Bukan. Ini hanyalah sekadar penguatan ritual yang sesungguhnya merupakan bentuk pelanggaran. Hanya komputerisasi kegiatan yang manfaatnya dipertanyakan banyak ahli. UN melanggar Keputusan Mahkamah Agung Tahun 2009 yang memerintahkan penangguhan penyelenggaraan UN. Juga, melanggar janji politik Presiden Joko Widodo untuk menghapuskan UN.

Baiklah. Kita tinggalkan urusan hukum dan politik dari UN. Biarlah itu bergulir dalam proses adu kuat kepentingan-kepentingan yang tak bisa ditebak ujungnya. Tapi, mari coba mencerna dengan sepenuh hati UN dari sudut pandang anak-anak Indonesia yang hari ini menghadapi UN.

Ya, setelah melalui masa belajar selama tiga tahun, UN bagi anak-anak kelas III SMK adalah ibarat pintu masuk jalur nasib. Masa depannya dia akan ditentukan oleh angka-angka. Angka-angka ditentukan oleh keterampilan anak mengerjakan soal-soal dalam ritual selama tiga hari itu.

Sudah pasti jumlah maupun jangkauan soal-soal itu tidak mungkin merepresentasi pencapaian belajar selama tiga tahun. Tapi, angka-angka itulah penentu posisi anak dalam fase berikutnya, terutama dalam jalur formal. Entah melanjutkan kuliah, atau memasuki dunia kerja. Hanya angka-angka itulah yang berlaku. Itu sebabnya, UN disebut tes bertaruhan tinggi, atau dalam istilah bahasa Inggris high-stake tests.

Hanya latihan mengerjakan soal

Kondisi ini berimplikasi sangat luas. Pertama, kecenderungan untuk mereduksi belajar hanya serangkaian aktivitas dengan tujuan pokok meraih angka-angka. Dengan demikian, belajar menghabiskan energi lebih banyak untuk berlatih mengerjakan soal-soal ujian. Ekstremnya, latihan-latihan mengerjakan soal di sekolah sering dianggap tidak cukup, sehingga anak ‘terpaksa’ menambah dosisnya di lembaga-lembaga bimbingan belajar.

Kedua, dengan orientasi sempit melatih keterampilan mengerjakan soal, kesempatan pembelajaran substantif, termasuk pembangunan soft-skill yang seyogyanya menjadi menu utama sekolah kejuruan, pun tergerus. Bayangkan, ketika lulusan SMK menghadap seorang Manajer SDM sebuah perusahaan ditanya, “Apa keahlianmu yang utama?” Kalau bisa jujur, anak itu mestinya akan menjawab, “Mengerjakan soal ujian.” Mengapa? Karena masa belajar selama tiga tahun lebih difokuskan untuk terampil mengerjakan soal-soal ujian tertulis ketimbang menghasilkan portofolio sebagai lulusan sekolah kejuruan.

Ketiga, dengan pintu sortir yang seragam di seluruh Indonesia, anak-anak SMK itu sejatinya telah dijauhkan secara sistematis dari potensi-potensi riil alam yang melingkupinya. Dengan kondisi itu, seorang lulusan SMK dibuat tidak peka dan kreativitasnya dikebiri bahkan untuk sekadar bisa mengenali apa sesungguhnya potensi yang mengharapkan kehadirannya sebagai seorang lulusan SMK. Sebab, lulusan SMK hanya disiapkan untuk menjadi pegawai atau karyawan.

Hasilnya, lulusan SMK tahun demi tahun akan terus menyesaki ruang sempit lowongan kerja sebagai pegawai atau karyawan. Secara alamiah mereka tergusur dalam persaingan melawan para pencari kerja lulusan perguruan tinggi, yang jumlahnya juga terus membludak.

Berat untuk mengatakan, tapi sangat mengkhawatirkan bahwa SMK-SMK sesungguhnya diadakan hanya untuk memproduksi limbah pendidikan!

Abaikan Stimulus yang Tidak Relevan

Salah satu ciri ideal ruang belajar yang menggunakan model pembelajaran Metode Sentra adalah balai besar tanpa sekat tembok. Balai besar itu dibagi-bagi dengan sekat rak-rak yang tingginya tetap memungkinkan para guru di satu kelompok bisa saling melihat dengan rekannya di kelompok lain. Dengan demikian, jika terjadi, misalnya, kegaduhan di satu kelompok atau kelas, maka kelompok atau kelas lain bisa mendengarkan.

Dengan pengaturan seperti itu, anak belajar membiasakan diri tetap fokus pada pekerjaan dan urusan mereka, membebaskan diri dari stimulus yang tak berhubungan dengan pekerjaan dan urusan mereka. Anak-anak sekolah Batutis Al-Ilmi di Pekayon Bekasi, hampir sepanjang tahun dikunjungi para peserta pelatihan maupun observasi. Dan, belajar mereka tak terganggu. “Abaikan stimulus yang tidak berhubungan dengan pekerjaan kita,” begitu kalimat yang biasa diucapkan guru kepada anak-anak sekolah Batutis.
Beberapa pekan lalu, saya menemani para peserta pelatihan mengobservasi SD Batutis Al-Ilmi. Mereka terpesona pada ketertiban belajar anak-anak kelas IV, V dan VI SD yang menempati ruang belajar di lantai 2, Nyaris sunyi.Keadaan cukup berbeda di lantai 1, yang ditempati anak kelas I, II dan III yang, meskipun relatif lebih tertib dari anak-anak TK, sesekali masih ada anak berlari di koridor ruang kelas.
Jika terlatih fokus, anak-anak memiliki bekal untuk tahan terhadap berbagai stimulus negatif di sekiarnya. Dan yang lebih penting, lincah membawa diri dalam berbagai situasi tanpa menimbulkan gangguan pada orang lain. Mungkin alam media sosial akan elok sekali seandainya diisi oleh generasi yang fokus.
SD Batutis

Hakikat Pilihan Politik

Ketika sampai saatnya bagi kita untuk menentukan pilihan politik dalam pemilihan umum, entah itu memilih anggota legislatif pusat, legislatif daerah, kepala pemerintahan pusat, kepala daerah, bahkan kepala Desa sekalipun, hal pertama yang perlu dipahami adalah bahwa kita tidak sedang memilih antara yang benar dan yang salah. Tidak. Kita hanya berusaha menyusun sebuah komposisi, yang banyak unsurnya tidak terjangkau oleh pilihan kita.

Ketidak-terjangkauan itu bukan semata-mata urusan akses informasi kita yang sudah pasti terbatas, melainkan juga karena begitu banyak faktor penentu keberhasilan yang jauh di luar jangkauan kita sebagai pemilih. Komposisi yang tersusun setelah pemilihan sesungguhnya hanyalah satu titik awal dari sebuah proses panjang-dinamis dengan berjuta-juta kemungkinan, yang dipengaruhi oleh banyak faktor. Pun harus diingat bahwa kompsosi yang tersusun dari hasil pemilihan umum sesungguhnya adalah cerminan dari realitas kita sebagai pemilih secara kolektif, sebagai bangsa. Baik-buruk, jujur-korup, maju-mundur, gesit-lamban….. begitulah keadaan kita sebagai bangsa.

Ketika kita menganggap hasil pemilihan umum adalah panacea, dan berharap segera terjadi keajaiban, wes-ewes-ewes, simsalabim, keadaan beres berkat “pilihan kita yang benar”, itulah awal kekecewaan kita. Demikian pula, ketika ada politikus yang menjanjikan kebenaran tunggal dalam kampanye dengan bermacam-macam alasan dan dalih –dari yang teknis sampai yang ideologis– maka itulah kebohongan awalnya sebagai politikus.

Andaipun ada seorang kepala desa berkualitas super, ia tetap hanya salah satu manusia dari sekian banyak aparatur pelayanan masyarakat. Hasil kerjanya akan ditentukan oleh: kualitas individu-individu aparatur pemerintahan desa, kesigapan ketua-ketua RT-RW, antusiasme partisipasi warga desa, kelancaran warga dalam memenuhi kewajiban, juga kelancaran distribusi sumberdaya dari organisasi pemerintahan di atasnya (kecamatan, kabupaten, provinsi). Begitu bejibun faktor penentu yang tak terjangkau oleh pilihan pemilih kepala desa.

Apatah lagi seorang Bupati, Walikota, Gubernur, Presiden. Para kepala eksekutif itu bekerja dengan “lilitan” tali kekang di dalam isi kepala para kepala dinas, para anggota legislatif, yang kapanpun bisa berjalin-jalin dengan rongrongan barisan pedagang rente beserta makelar-makelarnya, barisan wartawan bodrex…. sampai khalayak netizen yang ganjen dan berisik. Banyak sekali.

Jadi, tak perlu tegang dalam perkara politik. Rileks, waspada, peduli, tetap bekerja, dan…. jangan lupa bahagia.

Cinta Mengurung Yudhistira “Arjuna” Massardi

Cukup lama resensi ini tertunda, sepekan lebih. Tak ada penyebab dan alasan lain yang bisa saya ajukan buat mengharapkan permakluman, selain tetek-bengek klise rutinitas sebagai penulis lepas dan tuntutan-tuntutan tenggatnya. Sebagaimana pentas pembacaan puisi sekitar satu setengah tahun sebelumnya, pentas “Perayaan Cinta” menghadirkan “tikungan-tikungan” yang mengejutkan khas puisi-puisi Yudhistira Massardi.

Untuk kedua kalinya, penyair senior Yudhistira ANM Massardi menyuguhkan pentas pembacaan puisi di Galeri Indonesia Kaya, Mal Grand Indonesia Jakarta Pusat, pada 28 Februari 2017. Di tempat yang sama, pada 19 Agustus 2015, Yudhistira menghadirkan pentas pembacaan buku kumpulan puisi 99 Sajak, yang meraih dua penghargaan: Buku Puisi Terbaik 2015 dari Yayasan Hari Puisi Indonesia 2015 dan Buku Puisi Terbaik versi Pusat Pembinaan Bahasa Tahun 2016. Kali ini, pentas untuk buku kumpulan puisi berjudul Perjalanan 63 Cinta, Kumpulan Puisi Biografis hadir bersamaan dengan perayaan ulangtahun Yudhis yang ke-63. Kedua buku puisi diterbitkan oleh Kepustakaan Popular Gramedia (KPG).

Selain mengandalkan kekuatan olah vokal Yudhis sendiri yang tetap prima, pentas menyuguhkan dua jawara jagad panggung teater, Renny Djajoesman dan putrinya, Yuka Mandiri. Meski demikian, entah karena kekuatan puisi-puisi Yudhis atau karena kejelian memilih pembaca-pembaca puisi (mungkin dua-duanya), pentas malam itu terasa mengalir begitu mulus, mulai dari pembaca belia Danastri Ramadhani (Dhani) dan Si Bungsu Kafka Dikara, sampai Renny-Yuka dan sastrawan senior Jose Rizal Manua.

Dahni, misalnya, dengan suara lembutnya mampu menampilkan secara utuh tikungan bait pada Hongdae.

Seperti nyanyi empat musim
Dalam sonata dan orkestra
Yang selalu dimainkan ulang
Oleh para pecinta yang ogah pulang
“Kita akan pindahkan Bekasi ke sini?” katamu.

Atau Kafka yang berpostur atletis mengibarkan aura daya juang dalam Orchard

Beberapa lagu
Melupakan waktu
Ketika kata-kata

Menguning
Tak mau luruh
Menjadi Nada

Dalam olah vokal padat Jose Rizal Manua, Tahun Baru tampil mengusik, menggalaukan dan jenaka sekaligus.

Ingin kutuliskan sesuatu yang bukan Senin sampai Minggu
Bukan juga 1 sampai 31

Aku ingin menulis tentang Kamu
Pemilik segala yang silam maupun yang datang
………..dst.

……..
“Apakah kita melupakan sesuatu?
Seperti sepasang sepatu yang menyesatkan tamu?”

“Ah, kamu terlalu parno! Tenang saja.
Sang waktu ibarat borgol, ia selalu menepati janji sampai kita mati!”

“Ah, kenapa kita bicara mati?”
“Selamat Tahun Baru sayangku. Selamat menempuh hidup baru!”

“Kalau mati?”

“Mungkin mejan. Ganti sumbunya!”

Ya, jelajah Cinta Yudhistira mengembara ke segala penjuru, bahkan tersungkur di lantai Raudhah, sebagaimana terlukis dalam Madinah yang ditampilkan secara teatrikal nan elok oleh Renny Djajoesman.

Aku duduk ngungun di sudut kasur
Tertatih-tatih mengeja alif-ba-ta-Mu
Duka itu tak terlepas juga
Aku masih terlilit oleh tetek bengek yang fana
Padahal, jauh dari negeriku aku datang untuk memahami-Mu
Ingin mencari Cinta-Mu.

Juga dalam Nur, melalui interpetrasi teatrikal lain oleh Yuka Mandiri.

……
: Al-Qur’an

Dan bintang-bintang
Berkilau
Di sayap-sayap malaikat

: Kata
Demi akhlak
Demi akhlak
Demi akhlak

:Ku

(15 abad tak sudah!)

Iga “Barasuara” Massardi

Pentas “Perayaan Cinta” juga diperkaya oleh keragaman tafsir musikal atas karya-karya Yudhis. Duet Antareza dan Soemantri Junior dengan nuansa gitar akustik, duo Chikita-Isabella Fawzi dengan perpaduan gitar akustik dan akordion, penjelajahan Iga “Barasuara” Massardi dalam desis-desis melodi gitar elektrik beserta efeknya yang sublim untuk berdialog dengan olah vokal Tika yang berselancar dalam rentang nada tak kurang dari tiga oktaf, dan…. persekutuan vokal soprano Artidewi dengan notasi-notasi anggun grand-piano dan cello.

“Kebebasan interpretasi”, begitu Iga menggambarkan dalam introduksinya beberapa saat sebelum pentas dimulai. Setiap tafsir musikal berangkat dari kebebasan. Lengkap, memukau, memesonakan! Maka pantas pentas ini jauh-jauh hari di-woro-woro-kan dengan tajuk “Merayakan Cinta Bagi yang Berjiwa Muda.” Sepanjang pertunjukan, tafsir-tafsir musikal yang berbeda-beda itu seperti meruapkan puisi-puisi tersendiri dalam apresiasi dan gemuruh tepuk tangan sekitar 200 penonton.

Perjalanan 63 Cinta bukan sekadar resume puitis biografi cinta Yudhistira, sang penulis novel legendaris Arjuna Mencari Cinta. Ini bukan buku tentang pencarian cinta. Buku ini mendekati visualisasi perjalanan Yudhis yang telah basah kuyup dikurung cinta. Cinta bersama Siska yang tidak hanya menyemai satu demi satu keluarga baru dan kehadiran cucu, tetapi juga membuka ladang amal bersama yang siap diolah siapapun penerusnya: Sekolah Batutis Al-Ilmi. Iga yang semakin kokoh mengibarkan bendera “Barasuara” memberinya cucu cerdas jelita Kiarakuma, Taya (puteri satu-satunya) yang telah berteduh dalam mahligai rumahtangga kini turut berkhikmad di Sekolah Batutis. Dan Kafka, tak lama lagi merampungkan kuliahnya.

………
Menjadi 50 tahun kekasihku,
Bagai prasasti: terpahat gurat dan tanda, tangis dan tawa
juga debu dan ilalang, yang datang dan yang hilang
juga berpasang-pasang harapan
yang terbang bersama 19 kupu-kupu perkawinan
membawa Iga, Taya dan Kafka ke masa depan
………

(50)

Dan, saya, sebagai salah satu pemetik keindahan “Perayaan Cinta” malam itu mendapatkan apa yang dijanjikan Agus Darmawan T dalam kata pengantar buku, “….kita dikondisikan seperti sedang mencuri baca buku harian orang lain. Asyik, buru-buru dan deg-degan….” mencurinya secara lebih lengkap dari panggung yang dipandu Ario Kiswinar Teguh. Yang tidak sempat nonton, baca saja, bukunya tetap asyik, buru-buru dan deg-degan, bahkan setelah saya menonton pertunjukan itu.