repertoar malam

repertoar malam

overture sunyi pada oktaf ketiga
meniti frekuensi
tak berhingga
menyembunyikan kata-kata
merehatkan nada
repertoar malam menjelma puisi
rahasia tak terperi
bulan terpejam
rindu menghujam

bogor, 26/9/2017

Advertisements

Cinta itu Sedekah

Enak tidaknya masakan tergantung seberapa besar cinta dalam hatimu saat memasaknya. Bagusnya tulisanmu pertama-tama bertumpu pada besarnya cinta dalam hatimu saat menulis. Bagus tidaknya cara mengajarmu adalah buah dari cinta dalam hatimu. Pendek kata, apapun statusmu, bagus tidaknya hasil pekerjaanmu lebih erat berikatan dengan cinta ketimbang talenta atau kemahiran.

Setiap manusia tidak lahir dalam keadaan pintar, mahir, atau kaya. Ia hadir ke dunia dalam keadaan papa untuk belajar menumbuhkan cinta yang telah ditanam oleh Sang Maha Pencipta. Dalam cinta ada kesungguhan untuk menyajikan yang terbaik sebagai pengabdian kepada Pemilik Kehidupan.

Cinta yang ditanam Allah swt sejak di alam kasih sayang ibu (rahim) tumbuh untuk menebar kasih sayangNya. Hanya dengan nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang Penyayang, cinta manusia tumbuh-menumbuhkan dalam kehidupan. Tiada pupus, kecuali terputus dari rahmat Allah swt.

Begitulah, sesungguhnya cinta itu memberi, bukan mendamba atau meminta. Cinta adalah keberadaan untuk mengisi yang tidak ada. Cinta tumbuh untuk mengisi kekosongan. Cintalah yang nyata, ada, tidak nisbi. Cinta seperti cahaya, yang pasti selalu menang atas gelap. Karena gelap adalah ketiadaan cahaya, dan karenanya gelap itu sesungguhnya tidak ada.

Bismillahirrahmanirrahim. Mari terus tumbuhkan cinta di hati untuk tumbuh-menumbuhkan dalam kehidupan.

Selamat Tahun Baru 1439 H

Bersyukur dimulai dari kesadaran betapa sedikit yang sanggup kita kenali di antara limpahan tak terkirakan nikmat dan rahmat Allah swt.  Karena itu, melekat pula padanya keharusan belajar: belajar mengenali diri dengan nikmat-rahmatNya yang tak terhitung. Semakin banyak belajar, semakin banyak kesempatan berterimakasih dengan pemanfaatan terbaik karunia-Nya.

Berterimakasih tak selalu mudah, dan rintangan terbesarnya ada dalam diri: kebodohan, kemalasan, kesombongan, dan hawa nafsu. Semua kelemahan itu terus ada dan tak pernah hilang. Kesabaran berikhtiar adalah jalan untuk mengatasi rintangan-rintangan itu.

Bersabar adalah perkara yang berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’. Orang yang khusyu’ adalah orang-orang yang menyadari tujuan hidupnya: kembali kepada Allah swt, tempat bergantung segala urusan, tempat memohon pertolongan atas segala kesulitan.

Semoga Allah swt senantiasa membimbing langkah kita. Amin ya Mujib as-sailin.

Selamat Tahun Baru 1439 H

Purnama Tembi Memulangkan Yudhistira Massardi

Sepasang tugu berwarna merah bata berdiri tegap di belakang arena teater mungil yang menghadap tribun berkapasitas seratusan penonton. Pagar teralis setinggi satu setengah-an meter yang bertumpu pada tembok bata memisahkannya dari hamparan sawah. Teater alam terbuka milik Rumah Budaya Tembi menjajakan sajian khas berselera… (upppps… koq jadi terbawa-bawa ke syair Katon Bagaskara???).

Maaf-maaf. Tapi, Tembi memang salah satu dari berjuta harta kebudayaan Yogyakarta. Tempatnya sekitar 15 kilometer dari pusat kota. Malam purnama sempurna Rabu 6 September lalu para pegiat sastra memadatinya. Tribun penuh, tapi syahdu, meyimak “Yudhistira ANM Massardi Kembali ke Yogya Membaca Sastra”.


PHOTO BY HALIDA WIBAWATY

Begitulah tema Sastra Bulan Purnama Tembi ke-72 yang menandai ulangtahunnya yang keenam. Ons Untoro, sang panglima hajatan bulanan itu, menuturkan tingginya gairah bersastra di sana. Dari berbagai kalangan. Yang belia dan yang sepuh. Menurut Ons, sastrawan Yogya yang (sebagaimana Yudhis) juga alumnus  Persada Studi Klub asuhan Umbu Landu Paranggi, mereka rela antre untuk bisa tampil membaca puisi atau musikalisasi puisi di acara yang sudah terjadwal setahun penuh.

Pulangnya Yudhistira Massardi setelah 50 tahun seperti refleksi dan dialog lintas generasi kesusastraan Yogyakarta. Dimulai sekitar pukul delapan malam, pembacaan karya-karya Yudhis dibuka dengan “Sebelum Pintu” dari buku puisi terbaru Yudhis, Perjalanan 63 Cinta, yang dibawakan Dita Yuliana Paramita.  Tahun ini Dita baru lulus kuliah dan sedang menanti saat penugasan sebagai abdi negara.

Sebelum Pintu

Sebelum pintu
Kau menciumku
Ada angin membuka
Kelopak mawar
Dekat jendela kamar

“Kamukah yang berbisik
Di telinga daun?”

Ah, sayangku
Pagi masih berkabut
Dedaun kering di rumput
Sinar matahari melukis embun
Dua ekor semut ngungun
Capung-capung bersenandung

“Apakah kita masih berbulan madu?”

***

Meski tetap menulis sajak sedikitnya satu setiap tahun untuk ulang tahun sang istri Siska Yudhistira Massardi dan perkawinan mereka, Yudhis belakangan lebih disibukkan oleh kegiatan sosial di bidang pendidikan. Mereka mengelola Sekolah Batutis Al-Ilmi, sekolah gratis untuk kaum dhuafa di Pekayon Bekasi.

Yudhis baru kembali melahirkan karya sastra pada tahun 2015, setelah absen lebih dari 20 tahun, dengan buku puisi 99 Sajak. Buku itu langsung menggebrak dengan meraih dua penghargaan sekaligus, sebagai buku puisi terbaik versi Yayasan Hari Puisi Indonesia dan Badan Bahasa. Tahun berikutnya, Kepustakan Populer Gramedia (KPG) kembali menerbitkan karya Yudhis, Perjalanan 63 Cinta, yang malam itu lebih memikat para penampil di Tembi.

Dari buku itu, Ninuk Nirawati dari generasi yang lebih senior dari Dita, membawakan “Sunyi Itu”. Vokalnya yang lembut dan kuat berhasil mengayun penonton menapaki lintasan diksi-diksi Yudhis yang segar, usil dan penuh kejutan. Ada pula “Presiden” Mari Membaca Puisi (MPP) Aly D Musyrifa yang sangat bernas membawakan “Siska” .

Dokter Halida Wibawaty, seorang ahli mata dari Surakarta yang supersibuk, turut antusias menyemarakkan arena teater Tembi. Ia mengaku sudah lama menjadi penikmat karya-karya Yudhis. Saat mendapat tawaran untuk tampil, ia segera mencari kedua buku puisi mutakhir Yudhis, dan menemukan masing-masing satu puisi dari kedua buku puisi itu yang “benar-benar klik di hati saya”: “Sajak Sembilan Rasa (6)” dan “Hujan Mawar”.

Syukurlah, jadwalnya pas. Malam itu Halida bisa tampil segar di Tembi setelah pulang dari dua lawatan ke luar negeri, Tokyo dan Melbourne.

Jarak generasi tak menghalangi para penampil untuk lancar menyuguhkan tafsir vokal yang memesonakan atas karya-karya Yudhis. Jauh sebelum Dita lahir sebagai generasi milennial, Yudhis sudah menyeruak dengan buku kumpulan puisi fenomenal Sajak Sikat Gigi, yang terpilih menjadi buku puisi terbaik 1977 dari Dewan Kesenian Jakarta. Meniti untaian kata Yudhis yang –meskipun tak senakal era 70 dan 80-an– tetap usil, para penampil sukses meletupkan dentuman-dentuman vokal yang pas pada tiap tikungan diksinya.”

….
Angin pun tertidur di genting
Hingga hujan menggelantung

“Kenapa harus ada jarak antara kota?” katamu

Ya, sayangku
Karena sunyi tak ada di peta!
“Sunyi”, Perjalanan 63 Cinta.

***

Sastra Bulan Puranama Tembi malam itu tentu saja menjadi ajang reuni dan napak tilas bagi Yudhis. Sutirman Eka Ardhana, teman seangkatan di Yogya, hadir dan tampil membawakan “Biarin” dari buku Sajak Sikat Gigi.  Selain itu, Yudhis juga tiba-tiba terbawa kepada kenangan bersama salah satu sahabat baiknya, mendiang Franky Sahilatua. Rinawan Ardono atau lebih dikenal dengan sapaan Donas menyuguhkan tafsir nada yang memukau atas Hujan Mawar. Donas adalah  pemusik yang mengerjakan beberapa album terakhir Franky. Sedangkan Yudhis adalah penulis lirik lagu-lagu pada enam album awal Franky.

Yudhis mengaku sangat bersuka cita dengan keragaman warna tafsir-tafsir vokal dan nada yang malam itu hadir di Tembi. Sebelum membaca Sajak Sembilan Rasa dan beberapa puisi dari Perjalanan 63 Cinta, Yudhis mengajak penonton berkelana ke masa silam. “Si Mbah mau mendongeng,” katanya.

Datang di Yogya tahun 1967 sebagai murid SMP Taman Dewasa di Jalan AM Sangaji, Yudhis mengaku sangat beruntung berada di tahun-tahun yang luar biasa. Dengan status anak yang masih “bercelana pendek”, Yudhis mengaku beruntung bisa bertemu, bergaul dan berguru pada begitu banyak tokoh dan calon tokoh nasional. Tak perlu disebutkan satu-satu di sini, karena mereka sangat terkenal pakai banget.

Dari mereka dan dari Yogyakarta yang luar biasa itu, Yudhis mengasah ketajaman berkesusastraan dan keterampilan merekam kehidupan dalam endapan makna yang sarat. Di Tembi, Yudhis pulang membacakan catatan-catatannya. Olah vokalnya yang tetap prima seperti menyuguhkan drama di bawah purnama.

3 (Sajak Sembilan Rasa)

Banjir lagi?
Ya, ya, ya, banjir lagi
Cuma bandang yang ke luar batasan
Karena sungai menciut
Karena sampah ketinggalan truk
Karena rumah-rumah mengerami penduduk

“Yang bisa banjir cuma air
Emang mau jadi apa lagi?”

Segala yang kotor girang berenang
Mereka berenang di ruang tamu
Mereka masuk ke kamar gadis-gadis
Mereka mencuri makanan di dapur-dapur
Mereka juga naik ke atap-atap
Seperti tikus got beli apartemen!

Emang mau main layang-layang juga?
“So, what? Sudah tradisi, mas bro!”
***

Malam itu para penonton di Tembi juga  khusyuk menikmati sebagian dari 100 puisi terbaru Yudhis yang akan segera terbit dalam buku puisi Luka Cinta Jakarta. Selesai acara, seorang pegiat teater Yogya menghampirinya, meminta print-out puisi-puisi terbaru yang dibacakan itu.

Puisi-puisi itu sebetulnya khusus untuk Jakarta.  Ah, tapi dalam bingkai catatan kehidupan Yudhis, Jakarta dan Yogyakarta itu memang dekat. Sedekat kenangan dari generasi ke generasi. Jadi, harap dicatat pula, di Yogkarta bukan waktu bergerak melambat. Itu mungkin lebih karena efek kenangan yang memuai.

Dzulhijjah Bulan Yudisium Akhir Tahun

Dzulhijjah adalah bulan penghabisan dalam kalender hijriyah. Jika hidup adalah perniagaan, niscaya manusia pebisnis di bulan ini melakukan penghitungan teliti, mengevaluasi diri. Sehingga, didapatlah pijakan yang baik untuk menyusun rencana peningkatan di tahun baru.

Umumnya, pebisnis ulung tidak menyukai sesuatu yang rutin dan biasa-biasa saja. Ia selalu tekun mengasah kreativitas, mengendus peluang baru, dan mengurai setiap sumber masalah. Karenanya, pebisnis yang tangguh tidak pernah anteng dalam semata-mata zona kenyamanan laba maunpun sebaliknya nyungsep meringkuk dalam tindihan rugi. Bisnis adalah jalan hidup bagi mereka.

Untuk semua ketangguhan dan keteguhan itu, para pebisnis sejati mendapatkan tempaan dari beragam pengalaman dan pelajaran. Terkadang pelajaran didapat dari ikhtiar dengan niat, perencanaan dan kesadaran. Tapi, tak jarang pula seorang pebisnis naik derajat mendaki sejengkal demi sejengkal dari jalan terjal panjang kesalahan-kesalahan yang harus dilalui tanpa ada pilihan lain.

Mengapa? Karena memang tidak tersedia jalan lain baginya menemukan pelajaran, selain mencoba, berusaha dan membentur kekeliruan (trial-and-error). Tidak ada jalan lain karena dia hanya punya satu pilihan: bergerak untuk bertahan.

Dari manapun pelajaran didapat, pebisnis ulung adalah amtsal kehidupan yang sejati. Sebab, pebisnis ulung mewujudkan pelajaran menjadi laku kehidupan nyata. Pebisnis ulung tidak sama dengan pelajar yang tekun menjaring ijazah demi ijazah sampai sekolah tinggi, lalu mengandalkan hidupnya pada tanda-tanda kelulusan itu. Ilmu yang dipelajarinya sepanjang masa bersekolah sudah diekstrak menjadi label-label angka-angka. Maka, keahlian dan keterampilan untuk kehidupan baru akan mulai dipelajari setelah lulus.

Jika kita memilih jalan pebisnis ulung, bukan pelajar pemburu ijazah, maka seseungguhnya amatlah besar rangkaian pelajaran kehidupan yang baru kita lalui tiga bulan sebelum Dzulhijjah. Dimulai dengan bulan Ramadhan, kita diajak melakukan overhaul fisik-mental selama sebulan penuh.

Dari segi fisik, tubuh kita dibersihkan dari asupan-asupan yang tidak baik maupun asupan-asupan baik yang berlebihan selama delapan atau bahkan sebelas bulan sebelumnya. Banyak yang menambah pembersihan itu dengan puasa Syawal, puasa Tasyrik atau puasa-puasa sunah lainnya. Jika berhasil, berarti kita sebetulnya berhasil membebaskan diri dari penguasaan hawa nafsu material ragawi.

Dari segi mental, dengan jumlah raka’at bertambah banyak dengan shalat-shalat tarawih di malam hari, maka mestinya semakin terlatih pula shalat kita dalam kehidupan nyata. Sekurang-kurangnya, kita memiliki daya juang yang lebih kuat dalam menghadapi bermacam-macam tantangan, karena kita mampu bekerja dalam keadaan lapar dan dahaga.

Kita pun seyogyanya semakin terlatih membawa misi kasih sayang dengan semakin seringnya kita lantunkan ikrar Bismillahirrahmanirrahim. Kita menjadi lebih peka dan lebih peduli pada sesama manusia yang kekurangan, baik karena merasakan lapar dan dahaga maupun karena keringanan hati untuk melakukan zakat dan sedekah.

Lalu, ibadah haji, baik bagi hamba yang telah mentdapat kehormatan menjadi tamu-Nya di  Haramain maupun yang belum, adalah pelajaran kehidupan besar yang dinukilkan dari keteladanan keluarga kekasih Allah, Nabiyullah Ibrahim as. Sebab, setiap manusia yang ingin hidup sukses pertama-tama harus mengenali diri dan tujuan hidupnya (wuquf di Arafah); berthawaf dalam garis edar kehidupan yang teratur; berjibaku sa’i tanpa kenal putus asa mencari rizki-Nya; dan selalu membersihkan dan membuang kekuatan buruk dalam jiwa.

Dan terakhir, dengan rangkaian penempaan mental itu, puncaknya adalah kemampua menyembelih kekuasaan hawa nafsu material atas hati, akal dan jiwa.

Semoga kita termasuk manusia yang meraih yudisium berkualitas di bulan Dzulhijjah ini, dan siap memasuki tahun baru hijriyah dengan bekal yang baik. Allah al-Musta’an.

Ketika Akal Budi Menjadi Ruang Hampa

Lagi. Pejabat tinggi ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Kali ini Direktur Jenderal Hubungan Laut, Kementerian Perhubungan. Kenikmatan apa lagi yang membayang dalam perburuan yang menjerumuskan seorang pejabat dengan pangkat setinggi itu?

Dalam terminologi birokrasi, Direktur Jenderal, atau Director General, adalah pangkat tertinggi. Tak ada lagi tangga karier di atasnya kecuali keberuntungan politik membawa seseorang ke kursi menteri atau presiden. Tapi, hawa nafsu selalu menyediakan tangga tak terbatas. Dengan hawa nafsu, batas-batas menjadi kosong dan akal budi (af’idah) menjadi ruang hampa.

Dalam keadaan seperti itu, akal budi sudah bukan lagi subjek aktif, melainkan predikat benda atau materi. Ia tidak lagi bergerak atau menggerakkan, tapi berada di manapun, mengikuti benda atau materi. Ia digerakkan, walau tampak berkuasa. Dengan kata lain, ia adalah beban bagi alam semesta, bukan pembawa manfaat, apalagi penyampai rahmat.

Maka bayangkan jauhnya derajat nista seseorang yang dikuasai hawa nafsu dengan derajat tinggi sehelai daun mungil yang bertasbih dalam peran kehidupan yang istiqamah sampai akhir masa tugasnya. Tasbihnya membawa manfaat dan rahmat bagi alam semesta.

Hawa nafsu adalah hijab, pemisah antara kesadaran diri dan tujuan hidup. Seseorang yang dikuasai hawa nafsu bukan tidak berpengetahuan, juga bukan tidak beragama. Pengetahuannya tidak hilang. Pun, ia sangat mungkin religius. Tapi, hawa nafsu melebur pengetahuan dan ritual agama menjadi kekosongan dalam ruang hampa.

Bagiku, tragedi Dirjen Hubla adalah warning betapa berat mengendalikan diri, mengendalikan hawa nafsu. Butuh latihan terus menerus dengan ikrar penyadaran setiap saat untuk tetap berada pada garis tujuan hidup, untuk tetap berada dalam garis Syahadat. Semakin jelas bagiku bahwa Syahadat adalah rukun kehidupan yang kubutuhkan tidak semata-mata sebagai akad lisan di permulaan.

Syahadat adalah pemandu utama pada setiap jengkal perjalanan. Jika Syahadat-ku hampa, maka shalatku pun hanya gerak-gerik ritual tanpa makna. Puasaku hanya berbuah lapar dan dahaga. Zakatku sekadar keresahan pada materi yang berkurang sebagian. Aku tak akan pernah sampai pada padang pemahaman sejati (‘arafah), apalagi beroleh zam-zam maslahat bagi dari dan orang lain. Na’udzu billah.

Ya Muqallib al-qulub, tsabbit qalby ‘ala dinik.