Pendidikan (Bukan Mata Pelajaran) Karakter

Pendidikan (Bukan Mata Pelajaran) Karakter
(Koran Tempo, Opini, 24 Agustus 2011)
Oleh: Yanto Musthofa
Anggota Majelis Pengurus Pusat ICMI Bidang Pemberdayaan Anak dan Remaja

Setelah suguhan parade kehancuran moral di pentas pendidikan, sungguh pantas kita berharap sesuatu yang radikal tentang pendidikan nasional tercetus pada pidato kenegaraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, 16 Agustus lalu. Kecuali, tentu saja, jika deretan peristiwa kebejatan akhlak di seputar penyelenggaraan ujian akhir nasional (UAN) SD-SMP-SMA tahun ini tak dipandang sebagai bencana yang membinasakan. Apa lagi yang bisa diharapkan dari bangsa yang tidur pulas di tengah bencana?
Presiden menyisipkan isu pendidikan (dan kesehatan) dalam delapan kalimat dari pidato yang naskahnya tak kurang dari 80 paragraf itu. Dengan semakin membaiknya keuangan negara, kata Presiden, “Kita juga meningkatkan kualitas pelayanan dan akses warga negara terhadap pendidikan dan kesehatan.” Intinya, Presiden menegaskan komitmen pemerintah untuk memastikan tak ada anak usia wajib belajar yang tidak bersekolah. Presiden tak merasa perlu mengulas ancaman pembusukan sumber daya manusia sejak periode yang sangat dini ini.
Mari coba menerima bahwa urusan pendidikan karakter sudah didelegasikan Presiden kepada Menteri Pendidikan Nasional. Maka, yang kita dapati adalah satu seremoni kering pada 12 Juli 2011 di SMA 70 Jakarta, menandai dimulainya tahun ajar 2011/2012. Dalam pidato tertulis yang dibacakan Wakil Menteri Fasli Jalal, Menteri Pendidikan Nasional Muhammad Nuh mencanangkan penerapan pendidikan karakter di semua jenjang sekolah. Ya, hanya pencanangan, tanpa grand design, model rujukan, atau sekadar definisi pendidikan karakter di sekolah.
Jangan heran bila, di sekolah-sekolah, pendidikan karakter hanya sebatas bumbu penyedap untuk ditaburkan ke aneka mata pelajaran. Atau, paling banter, pendidikan karakter sekadar faktor penguat, nilai tambah, atau kata sifat unggulan. Sementara itu, sekolahnya sendiri tetap dengan paradigma yang menuhankan prestasi akademis-kognitif dalam wujud angka-angka sumir rapor dan UAN.
Pendidikan karakter semestinya adalah sebuah paradigma, bukan mata pelajaran untuk diajarkan kepada anak. Membangun karakter tak bisa mengandalkan mata pelajaran karakter, muatan pelajaran karakter, apalagi sekadar penataran 100 jam ala Penataran P-4. Sebagai pelajaran, sangat mungkin puluhan bahkan ratusan item karakter yang baik dapat dihafal anak. Namun sikap hidup dan watak yang hendak dibangun tetap berada di dunia lain, jauh dari kehidupan anak. Dalam hal ini, karakter menjadi hasil untung-untungan, bukan upaya pendidikan secara sengaja (by-design).

Paradigma pendidikan karakter meniscayakan suatu desain menyeluruh, kesinambungan proses panjang sejak usia dini, dan pembebasan pendidikan dari segala bentuk ambisi yang menodai kemuliaan anak sebagai manusia yang multidimensi. Desain itu harus menjamin hak anak untuk tumbuh mengasah karakter diri tanpa intimidasi target paksa-massal oleh sistem pendidikan yang sok tahu akan kebutuhan masa depan.
Anak berhak bebas dari stigma “bodoh” dari sistem yang memberhalakan nilai UAN. Semulia apa pun tujuan UAN, faktanya UAN telah menanam di alam bawah sadar guru-orang tua-anak suatu garis-garis strata definisi nasib di masa depan. Seolah-olah nilai UAN adalah tiket masa depan, sehingga harus dibela dengan segala cara dan segenap energi. Akibatnya, pendidikan melahirkan manusia-manusia instan yang mengandalkan ijazah untuk naik jenjang atau mendapatkan pekerjaan dengan mudah, bukan pribadi-pribadi yang siap dengan bekal hidup (life skill), mampu bekerja dan siap berkarya. Faktanya, di tengah berlimpahnya sumber daya alam, mayoritas output pendidikan selalu berorientasi menjadi karyawan perusahaan atau pegawai negeri.
Desain sentra-proyek
Itu bisa dihindari seandainya pendidikan tidak didesain layaknya restoran cepat saji yang menyuruh konsumen menyantap menu yang sudah tertentu. Sekolah seyogianya bukan sebuah pencetakan massal-seragam, melainkan tempat di mana setiap anak berkesempatan mengembangkan diri sesuai dengan kecenderungan minat masing-masing dan sesuai dengan tahapan perkembangan masing-masing (developmentally appropriate practices).
Dalam kerangka ini, pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah fondasi dan inti dari pendidikan karakter. Inilah periode kesempatan emas menanamkan sikap-sikap hidup positif menjadi otomatis-logis melalui pengalaman konkret yang terekam pada sambungan-sambungan antarsel otak. Perekaman itu hanya mungkin melalui pemenuhan kebutuhan dan tahapan main anak dengan baik, dari main fungsional (sensorimotor play), main pembangunan (constructive play), main peran (role play), hingga main dengan aturan (play with rules).
Dari situlah anak menemukan dan menanam konsep-konsep serta keterampilan dasar kehidupan dengan akar yang kuat. Fondasi yang diharapkan terbangun dari pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah tuntasnya fase praoperasional dalam skala empat perkembangan kognitif Jean Piaget. Maksudnya adalah fase ketika anak belum memiliki kemampuan operasi mental yang memadai, masih bergantung pada benda-benda (mainan). Bila terbangun dengan matang, pada akhir fase ini, anak meraih dasar-dasar kemampuan untuk mengerjakan suatu proyek secara mandiri, bertanggung jawab, dan tuntas. Fase ini berproses dari usia 4 tahun hingga menjelang usia 7 tahun (kelas I SD).
Salah satu ciri kognitif yang menonjol pada anak yang sukses melalui fase praoperasional, sebagaimana terlihat pada anak-anak lulusan PAUD ber-Metode Sentra, adalah curiosity yang kuat. Di tangan guru yang mumpuni meladeni “kehausannya”, anak seperti itu berpeluang tumbuh menjadi pembelajar-peneliti yang efektif. Anak-anak seperti itu, sejak kelas IV SD, hanya membutuhkan guru-guru pemandu/pendamping proyek-proyek belajar, bukan guru-guru penceramah yang selalu tertekan oleh beban target kurikulum.

Selain memiliki ciri kognitif di atas, mereka beranjak dari pijakan konkret benda-benda ke representasi konsep abstrak dalam operasi mental. Dalam kehidupan sehari-hari, misalnya, mereka tak perlu merasakan ditangkap pengawas untuk mengerti bahwa menyontek itu salah. Mereka tak melakukannya karena logikanya berkata itu tak berguna dan merugikan diri. Kelak, mereka tak butuh palang pintu besi sebagai penanda larangan memasuki busway dengan mobil pribadi, karena simbol verboden sudah cukup sebagai penanda abstrak yang logis. Mereka tak perlu merasakan penjara untuk membenarkan bahwa korupsi itu perbuatan nista.
Jadi, pendidikan karakter pada hakikatnya adalah proses membangun otak secara terpadu, dalam rangka mengantar anak mencapai tahap-tahap kematangan multidimensinya secara utuh. Berhentilah mereduksi pendidikan hanya untuk beberapa item akademis-kognitif dengan ukuran angka-angka yang sumir. Mari merdekakan anak-anak dari pengebirian sistemik peluang masa depan mereka.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s