Apakah Sekolah Kita Mempertimbangkan Fitrah Anak Manusia?

Kata Kurikulum atau Curriculum berasal dari bahasa Latin yang berarti perlombaan atau jalannya perlombaan. Kata ini mulai dipakai di dunia pendidikan pada abad ke-17 oleh University of Glasgow dan kemudian semakin gencar pada abad ke-19 oleh banyak universitas di Eropa. Pengertiannya merujuk pada suatu program pembelajaran yang direncanakan dan diarahkan oleh institusi pendidikan atau sekolah.

Dengan pengertian itu, terutama dalam paradigma Behavioris yang dominan di seluruh dunia hingga kini, kurikulum itu ibarat menu baku restoran yang tersedia untuk pembeli. Meskipun menunya bisa bervariasi, tapi siapapun pembelinya, dia tidak dalam posisi menentukan dan membuat racikan sendiri serta memasak sendiri sesuai dengan selera dan keahliannya. Racikan, resep, cara memasak dan penyajiannya baku, dirancang oleh pemilik restoran dan dilaksanakan oleh para pegawai restoran.

Mengikuti analogi itu, sekolah adalah tempat paket pembelajaran yang sudah baku, ditentukan oleh sekolah (atau otoritas pendidikan) dan diawaki oleh para guru. Menu pembelajarannya baku, standar, all-sized, dan take-it-or-leave it. Walaupun, tentu saja ada alternatif-alternatif (jurusan-jurusan) yang tersedia untuk dituju. Seperti variasi menu-menu restoran.

Penyediaan alternatif-alternatif itu didasarkan pada kebutuhan (bisa juga disebut peluang) bidang-bidang pekerjaan yang SUDAH TERSEDIA. Jadi, proses pendidikan telah direduksi menjadi proses transformasi di dalam institusi bernama sekolah, proses penyiapan manusia menuju kamar-kamar nasib masa depan yang SUDAH DIDEFINISIKAN.

Maka, cara pandang yang tertancap kokoh di alam bawah sadar orangtua pada umumnya tentang sekolah buat putera-puterinya adalah tempat menyiapkan mereka untuk memasuki peran-peran kehidupan yang sudah tergambar tadi. Peran-peran kehidupan yang didefinisikan oleh siapa yang dituju? Industri adalah pendikte tunggal paling perkasa yang belum pernah tergantikan sejak Revolusi Industri pada abad ke-18.

Pada awalnya, pendiktean sekolah sebagai mesin penyedia “sumberdaya-produksi” (berupa lulusan sekolah) dijalankan secara paksa melalui  “compulsory  public schooling.” Model dikte ini mendapatkan momentumnya setelah diimpor dari ranah totalitarian-militeristik Prussia oleh Horace Mann, ke Masschussetts, Amerika Serikat, pada tahun 1837. Mann, politikus dan pernah menjabat Sekretaris Dewan Pendidikan Massachussetts, adalah pencetus gagasan “cemerlang” untuk mengatasi kebutuhan industri akan buruh-buruh yang mudah dikendalikan dengan tes tertulis (standardized testing). Berkat idenya, penguji tidak perlu lagi mendengarkan satu per satu calon lulusan sekolah.

Lambat laun, industri mendikte lembaga pendidikan dengan cara yang lebih halus, seiring dengan kemapanan mekanisme standardisasi, pemeringkatan dan kompetisi. Bahkan, pada perkembangan selanjutnya, lembaga pendidikan atau sekolah semakin fasih mendikte dirinya sendiri untuk tunduk dan patuh pada kehendak industri. Sebab, sekolah pun sudah terjebak hawa pekat persaingan yang ditularkan oleh industri.

Sekolah berlomba-lomba, bersaing, menjadikan dirinya unggul, favorit, bonafide bukan semata-mata mematuhi titah industri, tetapi sekolah itu sendiri sudah menjelma menjadi industri pendidikan. Sekolah dan dunia pendidikan pada umumnya sudah tidak malu-malu lagi mengusung mantra LINK-AND-MATCH, sebagai syahadat penghambaan kepada industri.

Untuk keperluan itu, sekolah harus menjaring input pendidikan, anak-anak manusia, dengan kriteria-kriteria unggul. Sekolah yang unggul, favorit dan bonafide jelas bukan disediakan untuk anak-anak manusia yang “dilabeli” kualitas rendah. Label-label stigma kualitas disediakan buat anak-anak manusia, dan dirupakan selembar dokumen berisi data numerik nilai-nilai ujian beberapa mata pelajaran saja.

Akibatnya, tidak ada pilihan lain bagi anak-anak manusia selain mengejar dokumen stigma label kualitas itu sepanjang hidupnya. Di sekolah, mereka bukan menempa segenap potensi unggul pemberian Sang Khaliq, tetapi memantas-mantaskan diri dengan standar baku yang sudah disediakan di sekolah. Mereka harus terampil menjadi peserta ujian. Hanya itu. Dari Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi, mereka memburu nilai ujian dan ijazah yang diharapkan bisa dibawa ke konter-konter penerimaan “sumber-daya-manusia” untuk masuk ke dalam salah satu faktor biaya-produksi industri.

Sementara itu, dengan ayat pertama dalam kitab sucinya: “menekan biaya produksi sekecil-kecilnya untuk menghasilkan keuntungan sebesar-besarnya”, industri memaksakan penyusutan nilai terus-menerus (inflasi) ijazah. Tiga puluh tahun yang lalu, betapa tidak mudahnya sebuah sekolah yang baru didirikan mencari seorang sarjana (S-1) untuk didapuk menjadi kepala sekolah. Sekarang, jangankan S-1, lulusan S-2 pun tidak mudah mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan minat dan bidangnya. Setiap tahun, sekitar 60 ribu sarjana Indonesia yang baru diwisuda langsung masuk tangki limbah industri-pendidikan sebagai pengangguran.

Mengapa para penganggur tidak beralih saja ke peran-peran kehidupan lain yang begitu luas, yang tersedia di alam sekitarnya? Ah, tentu saja tidak mudah. Sebab, kekayaan potensi dan otot-otot kehidupan mereka sudah diserut dan diampelas oleh mesin industri pendidikan. Mereka memang dicetak, untuk menuju peran-peran yang disediakan industri, yang jumlahnya tidak akan pernah mengejar pertambahan jumlah lulusan.

Sehingga, di negeri yang punya garis pantai terpanjang di dunia, para nelayannya melarat. Sementara para makelar yang menyaru sebagai pejabat pemerintah bisa mengimpor ikan kembung dari Pakistan, yang pantainya hanya seuprit. Di tengah negeri agraris yang tanahnya subur tiada banding, para penggadai negara lebih suka melestarikan impor beras, gula, jagung, kedelai, buah-buahan, daging sapi, bahkan jengkol!!!!

Wah, ternyata, bukan hanya dunia pendidikan saja yang kehilangan kedaulatan. Negara pun sudah dikangkangi para makelar industri. Jadi, masihkah tersisa ruang untuk membebaskan pendidikan dan sekolah dari dikte industri?

Kalau diteruskan, pertayaan itu akan menuju pertanyaan yang lebih spesifik: bisakah kurikulum pendidikan dipulihkan kedaulatannya? Bisakah kurikulum dirancang, bukan sekadar membebaskan pendidikan dari dikte industri, tapi justru dirancang untuk mengendalikan industri? Artinya, bisakah pendidikan dan sekolah dirancang untuk memfasilitasi anak-anak manusia tumbuh membangun segenap otot-otot kehidupannya secara sempurna? Dengan begitu, setiap anak manusia, sekali lagi SETIAP ANAK MANUSIA, pasti punya peran dalam menjadikan dunia ini tempat hidup yang semakin baik dan semakin baik?  Dengan begitu, tidak satupun anak manusia yang menjadi limbah industri pendidikan?

Ada suatu paradigma yang masih minoritas dalam dunia pendidikan, suaranya masih sayup-sayup terdengar. Paradigma itu memperhatikan dan mempertimbangkan dengan sungguh-sungguh kenyataan bahwa setiap manusia yang terlahir di dunia ini adalah juara. Sebab, dari miliaran sel sperma yang bertarung dalam perlombaan “the winner takes all” menuju dan membuahi sel telur, hanya ada satu pemenang. Paradigma itu memandang setiap anak yang terlahir di dunia ini memiliki keunikan kombinasi otot kehidupan karya Sang Super-Director, Sang Maha Sutradara, Rabbul ‘aalamiin. (Maka terkutuklah manusia yang berani-beraninya mengklasifikasi anak-anak manusia dengan label-label serupa produk keramik).

Yang perlu digarisbawahi, paradigma yang masih minoritas ini bukan representasi satu-dua pemikir, ideologi, aliran filsafat, atau apapun namanya. Pijakan paradigma ini bertumpu pada banyak kearifan, banyak pemikiran, dan banyak proses pembelajaran, dari mereka-mereka yang berusaha untuk terus menghargai manusia sebagai khalifah di muka bumi, bukan sebagai bahan baku pabrik lulusan.

Namun, sebagai jendela untuk mengintip geliat paradigma ini –syukurlah, abad “perpustakaan google” semakin memudahkan manusia untuk belajar—penelusuran bisa dimulai dari salah satu tumpuan pijakannya, yaitu aliran Constructivism, yang cukup lekat dengan nama pemikir Swiss Jean Piaget dan psikolog Rusia Lev Vygotsky. Mereka memandang proses belajar manusia itu adalah proses pembangunan diri. Ibarat tanaman, dia butuh lahan yang subur, kaya zat hara, air cukup, dan petani yang sabar merawat agar dia bisa tumbuh menjadi dirinya sendiri secara sempurna, tidak dibonsai, dan tentu saja tidak berubah menjadi tanaman lain.

Tumpuan pijakan lainnya adalah temuan-temuan para pakar neurosains yang telah menjelentrehkan bahwa ada jendela periode sempit yang krusial dalam rentang panjang kehidupan manusia. Yaitu, periode “usia emas”, periode usia dini, yang di dalamnya 80 persen struktur otak manusia sudah selesai dibangun. Paradigma ini juga bertumpu pada teori Kecerdasan Jamak Howard Gardner, yang mengoreksi paradigma IQ sebagai indikator tunggal kualitas manusia. Paradigma ini juga bertumpu pada hasil riset psikolog Israel Sara Smilansky yang mengidentifikasi jenis-jenis kebutuhan main sebagai moda belajar anak usia dini. Dan masih banyak lagi.

Dengan begitu banyaknya tumpuan, para penggagas, pelopor dan para pendidik yang memilih paradigma ini berusaha berhati-hati untuk tidak sok tahu akan masa depan anak manusia. Mereka memposisikan diri sebagai orang yang harus selalu belajar pada anak-anak manusia yang mereka temani untuk tumbuh. Mereka hanya menemani dan membantu anak-anak menapaki tahap-tahap perkembangan dirinya dan mengantarkan mereka menjadi pembelajar mandiri sepanjang hayat.

Karena itu, mereka tidak berpretensi menguji dan memberi nilai atas kemampuan anak-anak dengan standar-standar dan target-target tertentu. Mereka hanya berusaha mengobservasi dan merekam perjalanan setiap anak yang multi-dimensi. Mereka tidak berani menentukan angka-angka kualitas anak manusia. Mereka berusaha dengan sabar mendengarkan, menyimak, menjelajahi fitrah anak manusia yang sudah dibekali Sang Pencipta modal untuk belajar dan membangun diri menjadi manusia yang kaffah. Sekali lagi, terkutuklah manusia yang berani-beraninya mengklasifikasi anak-anak manusia dengan label-label serupa produk keramik.

Paradigma minoritas seperti yang digambarkan di atas itulah yang dicoba-ikhtiarkan Metode Sentra sebagai model kurikulum. Sangat mungkin ada model-model lain yang mengikhtiarkan paradigma itu. Prinsipnya, cintailah anak-anak dengan cara memastikan mereka tumbuh di tempat-tempat yang memuliakan mereka. Tempat-tempat yang mempertimbangkan dengan sungguh-sungguh fitrah mereka.

Advertisements

One thought on “Apakah Sekolah Kita Mempertimbangkan Fitrah Anak Manusia?

  1. Subhanallah….artikel ini begitu kuat menggelegar…..ini celah bagi guru untuk berkreasi sesuai yang di mampui di lembaganya. tanpa harus ditakut-takuti aturan-aturan dari atas sana yang belum tentu tahu apa yang kita butuhkan, apa yang menjadi hal tersulit di lembaga….semoga kembali pada fitrahnya…anak menjadi pembelajar yang ulung tanpa harus di dikte dan di atur2 dengan aturan yang tidak sesuai dengan yang dibutuhkannya..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s