Untuk Siapa Evaluasi Pendidikan?

Apa yang ada dalam pikiran kita, misalnya kita seorang guru, ketika kita mengumumkan, “Anak-anak, minggu depan kita ulangan tengah semester”?
A. Berharap para murid belajar dengan tekun agar mereka mendapat angka yang bagus dari jumlah jawaban benar atas soal-soal ujian.
B. Berharap para murid bisa mengukur dan mengevaluasi diri secara mandiri sampai di mana pencapaian hasil belajar mereka.

Jika jawaban A yang benar, maka kemungkinan paling logis adalah anak bersekolah hanya untuk pandai mengerjakan soal-soal ujian, supaya mendapat angka setinggi mungkin.

Jika jawaban B yang benar, mengapa output hasil ujian masih dirupakan angka-angka? Untuk siapa sebetulnya daftar angka itu? Sulit dibantah bahwa yang paling berkepentingan atas daftar angka itu sesungguhnya adalah guru, sekolah, sekolah lanjutan, sekolah lanjutannya lagi, dan calon majikan yang akan menerima anak sekolah itu kelak menjadi buruh. Dengan angka, pekerjaan menjadi jauh lebih sederhana. Tanggungjawab mendidik bisa direduksi menjadi upaya memastikan pencapaian angka-angka yang akan dipakai dengan mudah pula oleh industri.

Dengan ukuran menjawab 500, 1.000. 2.000 atau bahkan 10.000 item soal sekalipun, murid sebetulnya tidak mendapatkan gambaran yang utuh tentang pencapaian dirinya dalam proses pembelajaran. Karena dengan angka-angka itu tidak akan pernah tergambar tentang inisiatif, daya juang, otonomi, kepercayaan diri, kedisiplinan, kejujuran, kebahagiaan, kreativitas, dan banyak lagi aspek kualitas diri yang lainnya yang justru menjadi modal lebih penting dalam kehidupan dewasa kelak.

Faktanya, evaluasi pendidikan dengan output berupa angka-angka rapor, UAN, IPK saat ini sama sekali bukan ditujukan untuk menuntut akuntabilitas penyelenggara atau otoritas pendidikan. Output evaluasi pendidikan yang menjadi alat bantu mengukur kinerja penyelenggara dan otoritas pendidikan itu malah secara paksa ditimpakan menjadi menjadi beban bagi peserta didik dan sekaligus menjadi satu-satunya tujuan belajar peserta didik.

Mungkin ada yang bertanya, kalau kualitas manusia itu tidak dikuantifikasi, bagaimana caranya penyelenggara dan otoritas pendidikan mengukur kinerja pendidikan? Dengan patokan atau kriteria apa industri akan menyambut mereka? Kita hanya bisa menjawab kedua pertanyaan ini jika kita sudah siap mengembalikan kemuliaan manusia dalam pendidikan dan memulihkan kedaulatan pendidikan dari penjajahan oleh industri.

Advertisements