Refleksi tentang Belajar Matematika

Di satu grup diskusi praktisi pendidikan Matematika, saya mendapatkan penjelasan tentang lima unsur yang dibutuhkan dalam pembelajaran Matematika, yaitu (1) pemahaman konseptual (conceptual understanding), (2) kemahiran prosedural (procedural fluency), (3) penalaran adaptif (adaptive reasoning), (4) kompetensi strategis (strategic competence), dan (5) disposisi produktif (productive disposition). Kelima unsur ini harus diraih untuk menuju mahir Matematika.

Jika mengacu pada teori tahap perkembangan kognitif Piaget, maka anak usia dini membutuhkan pematangan tahap pra-operasional (tahap konkret) yang matang agar pembelajaran Matematikanya di kemudian hari menjadi kokoh.Pengajaran teknik-teknik operasi matematika mental (abstrak) tertentu memang terbukti bisa mengajak anak usia dini lompat ke kemahiran prosedural dan penalaran adaptif dengan cepat.

Tapi, apakah dengan itu anak usia dini secara otomatis memiliki basis pemahaman konseptual dari operasi-operasi mental Matematik yang berhasil dikerjakannya? Apakah kemahiran Matematika abstrak itu membawa serta penalaran logis anak dalam bertindak untuk kehidupannya (disposisi produktif) ? Pertanyaan lain, apakah kemahiran-kemahiran dari pengajaran Matematika secara abstrak pada usia dini punya efek permanen pada kemampuan Matematika anak di kemudian hari? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini diperlukan penelitian yang komprehensif.

Namun, saat ini berbagai hasil penelitian ilmiah yang sudah menjadi rujukan baku para ahli pendidikan anak usia dini adalah bahwa anak usia dini membutuhkan tiga jenis main (main sensorimotor, main pembangunan, dan main peran) sebagai moda belajar dan basis pembangunan secara terukur, terpadu, dan menyeluruh kemampuan kognitif dan psikologisnya.

Jadi, yang lebih aman, prioritaskan untuk cukupi kebutuhan tiga jenis main anak usia dini, ketimbang kemahiran cepat Matematika yang berbasis operasi abstrak. Toh, jika pembangunan kemampuan kognitif dan psikologis anak dilalui dengan lancar dan optimal sesuai tahap perkembangannya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan dalam pembelajaran anak di kemudian hari. Termasuk belajar Matematika.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s