Jernihkan Perbedaan Makna Mendidik dengan Menyekolahkan Anak

PENDIDIKAN DASAR atau PRIMARY EDUCATION adalah PENDIDIKAN PRIMER, yaitu ikhtiar berbasis pemahaman yang benar untuk membangun pondasi kehidupan anak dalam rentang periode usia 0 tahun sampai dengan akil balig. Pemahaman yang benar itu meliputi aspek apa tujuan PENDIDIKAN DASAR, apa yang dibutuhkan anak untuk mencapai tujuan itu, dan bagaimana cara memenuhi kebutuhannya agar tujuan itu tercapai. Seyogyanya kesiapan dalam masalah ini menjadi bekal yang sama penting dengan kesiapan mental dan finansial sebelum seseorang menapak ke jenjang pernikahan atau rumahtangga.

Jika setiap orangtua sudah memiliki bekal itu, maka apapun gejolak, bahkan gonjang-ganjing sekalipun, yang terjadi pada ranah kebijakan persekolahan formal tak akan membuat orangtua bingung, galau, cemas dan lain-lain. Aspek-aspek yang disebutkan tadi, yaitu tujuan, kebutuhan dan cara mendidik anak adalah hal-hal yang bersifat prinsip yang semestinya sudah ditetapkan dan tidak terpengaruh oleh perubahan cuaca politik apapun.

Bagaimanapun, sekolah formal tentu saja berjalan dengan kebijakan yang dihasilkan dari keputusan-keputusan politik yang datang dan pergi bersama para pelaku politiknya. CBSA, THB, EBTA, EBTANAS, Nilai Ebta Murni (NEM), UN, UAN, Kurikulum 1975, Kurikulum 1984, Kurikulum Berbasis Kompetensi, KTSP, Kurikulum 2013, dan entah apa lagi. Semua rutin dan biasa. Meskipun rutin, biasa dan berulang-ulang, tetap saja ketiga pantangan sikap dalam filosofi Jawa, yaitu ojo gumunan, ojo kagetan dan ojo dumeh justru menjadi hal yang rutin menyertai setiap munculnya kebijakan baru pendidikan.

Yang punya otoritas masih butuh membuktikan eksistensinya dengan “yang penting mewariskan sesuatu yang berbeda”. Para bawahan membela tanpa reserve, bahkan mengkhianati integritas intelektualnya. Rakyatnya, terutama guru yang akan menjadi ujung tombak pelaksanaannya, terkaget-kaget karena memang sudah terbiasa mentaat-patuhi titah target dari atas, bukan perencana yang independen atas misi hidupnya yang mulia.

Ketika muncul sebuah kebijakan politik pendidikan semisal Kurikulum 2013, maka seharusnya tak ada pertanyaan “akan dibawa ke mana pendidikan kita?” Seharusnya arah PENDIDIKAN DASAR sudah jelas dalam pikiran setiap orangtua (dan guru, jika guru dipersepsikan sebagai pengganti orangtua di sekolah). PENDIDIKAN DASAR berarti mengantarkan anak mencapai usia akil balig, yaitu mencapai garis start pertanggungjawaban menjadi khalifah Allah swt di muka bumi, garis kesadaran bahwa hidup adalah perjalanan menebar manfaat-manfaat terbaik agar bisa pulang dengan selamat kepada-Nya.

Kendali PENDIDIKAN DASAR sepenuhnya ada pada orangtua dan guru. Apapun selera politik pembuat kebijakan pendidikan tidak mengubah dan memengaruhi tujuan hidup yang haqiqi, kebutuhan hidup dan cara hidup yang benar yang harus diejawantahkan dalam PENDIDIKAN DASAR.
Dan, PENDIDIKAN DASAR itu tidak sama dengan SEKOLAH DASAR. MENYEKOLAHKAN anak adalah bagian kecil dari MENDIDIK anak. Jumlah waktu anak berada di sekolah hanya sekitar lima sampai delapan jam sehari. Sudah begitu, seperti yang sudah terjadi berulang-ulang, sekolah akan selalu mengikuti perubahan cuaca politik. Jika kita sebagai orangtua pasrah bongkokan kepada sekolah sebagai pelaksana PENDIDIKAN DASAR anak-anak kita, lalu bagian besarnya mau kita serahkan dan percayakan kepada siapa?

Ada bermacam-macam alternatif pengganti yang siap dengan sukarela menggantikan (bahkan merebut) peran orangtua sebagai pendidik utama anak. Ada televisi, pergaulan di luar rumah, tempat nongkrong, internet, play station dan lain-lain. Kalau kita merasa sekolah sudah cukup sebagai pelaksana pendidikan, maka bagian besar pendidikan anak akan diisi oleh pengganti-pengganti alternatif itu.

Hasil akhirnya adalah produk cetakan massal (one-mold-fits-all) dengan label-label (ijazah). Produk-produk itu dicetak untuk dipungut oleh industri berdasarkan label-labelnya yang sudah baku. Dari waktu ke waktu, harga label-label itu terus meluncur ke bawah (inflasi) karena hukum besi industri yaitu membeli semurah-murahnya faktor-faktor produksi dan menjual semahal-mahalnya hasil produksi.

Industry-bound-education sudah bercokol sejak ke-19, ketika Horace Mann mengimpor model pendidikan Prussianisme ke bumi Amerika dengan memperkenalkan tes-tes standar (standardized tests). Mann menyediakan model yang sangat efisien dan efektif bagi industri untuk memperbudak pendidikan agar bisa memenuhi kebutuhan tenaga terampil, massal, murah, patuh dan mudah dikendalikan. Dan, kita di sini sampai hari ini masih tertatih-tatih belajar merangkak mengikuti jejak Mann, mencetak manusia-manusia peserta ujian terbaik, manusia-manusia paling memenuhi standar-standar (mediocrity), manusia-manusia yang menghabiskan waktu sepanjang hidupnya untuk mendapatkan pengakuan dalam hal keterampilan mengerjakan soal-soal ujian.

Jika ini terus berlanjut, maka akan semakin langka manusia-manusia pembelajar sepanjang hayat, manusia-manusia pemikir kreatif, manusia-manusia dengan otot-otot dasar kehidupan yang kuat. Maka tidak mengherankan, di bagian bumi tropis yang subur ini, sebagian besar penghuninya membebani wilayah lain bumi yang tidak terlalu subur untuk memasok kebutuhan aneka jenis makanan yang dibutuhkan. Pengurus negaranya lebih suka berfungsi sebagai makelar impor. Garam dapur, gula, bawang putih, jagung, kacang, kedelai, jengkol, aneka buah, dan bahkan ikan kembung dan lele!!!

Ah, sudahlah. Negara memang antara ada dan tiada. Tapi, PENDIDIKAN DASAR harus tetap ada dan tetap pada relnya. Siapapun Presidennya nanti, siapapun Menteri Pendidikan-nya nanti, dan apapun jargon dan resepnya nanti, semuanya adalah rutin dan biasa. Kita sebagai orangtua dan guru ojo kagetan, tetap fokus dan berpegang teguh pada tujuan puncak kehidupan anak menuju Tuhannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s