Suara Kecemasan para Akademisi tentang Pendidikan

Surat ditujukan kepada:

Dr. Andreas Schleicher, direktur Programme for International Student Assessment (PISA) OECD.

Surat ditandatangani para akademisi dari berbagai negara.

Surat dimuat di harian The Guardian, pada 6 Mei 2014, dengan judul: OECD and Pisa tests are damaging education worldwide – academics

Yang Terhomat Dr Schleicher,

Kami menulis kepada Anda dalam kapasitas Anda sebagai direktur PISA OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development). Kini pada tahun ke-13, PISA dikenal di seluruh dunia sebagai sebuah instrumen untuk meranking negara-negara OECD dan non-OECD (60-plus pada jumlah terakhir) berdasarkan ukuran pencapaian akademis murid berusia 15 tahun dalam bidang matematika, sains dan membaca. Diselenggarakan setiap tiga tahun, hasil-hasil PISA dinanti-nanti dengan cemas oleh pemerintah-pemerintah, para menteri pendidikan, dan dewan redaksi koran-koran, dan dikutip secara otoritatif di berbagai laporan kebijakan yang tak terhitung jumlahnya. Hasil tes itu memengaruhi sangat dalam praktik-praktik pendidikan di banyak negara. Akibat PISA, negara-negara merombak sistem pendidikan dengan harapan memperbaiki ranking mereka. Tanpa perbaikan di daftar PISA berarti memunculkan deklarasi-deklarasi krisis dan “gejolak PISA” di banyak negara, diikuti dengan tuntutan-tuntutan mundur, dan reformasi-reformasi yang berefek luas sesuai dengan persepsi PISA.

Kami secara jujur cemas dengan berbagai dampak negatif dari ranking PISA. Berikut ini adalah beberapa kecemasan kami:

  • Sementara standardized testing sudah digunakan di banyak negara selama beberapa dekade (meskipun ada berbagai keberatan serius atas validitas dan reliabilitasnya, PISA telah berkontribusi pada eskalasi tes semacam itu dan secara dramatis meningkatkan ketergantungan pada ukuran-ukuran kuantitatif. Misalnya, di AS, PISA telah diperlakukan sebagai justifikasi utama bagi program “Race to the Top”, yang telah meningkatkan penggunaan standardized testing dalam evaluasi murid-, guru-, dan pengelola, yang meranking dan melabeli murid, di samping guru dan pengelola, menurut hasil-hasil tes yang secara luas diketahui tidak sempurna (lihat, misalnya, turunnya Filnandia yang tak terjelaskan dari puncak tabel PISA).
  • Dalam kebijakan pendidikan, PSA, dengan siklus asesmen tiga-tahunannya, telah menyebabkan bergesernya perhatian pada penyesuaian-penyesuaian jangka pendek untuk membantu sebuah negara agar dengan cepat bisa menaiki tangga ranking, walaupun riset menunjukkan bahwa perubahan-perubahan langgeng dalam praktik pendidikan membutuhkan waktu beberapa dekade, bukan beberapa tahun, untuk membuahkan hasil. Misalnya, kita tahu bahwa status para guru dan prestise mengajar sebagai sebuah profesi memiliki pengaruh kuat pada kualitas pengajaran, tapi status itu memiliki keragaman sangat luas sesuai dengan budaya-budaya setempat dan tidak mudah dipengaruhi oleh kebijakan jangka pendek.
  • Dengan menekankan satu rentang sempit aspek-aspek pengukuran dalam pendidikan, PSA menjauhkan perhatian dari tujuan-tujuan pendidikan yang kurang bisa dikukur atau tidak bisa diukur seperti perkembangan fisik, moral, kewarganegaraan, dan kesenian, sehingga mempersempit secara berbahaya pandangan kolektif kita berkenaan dengan apa itu pendidikan dan bagaimana seharusnya pendidikan.
  • Sebagai sebuah organisasi pembangunan ekonomi, OECD secara alamiah bias pada peran ekonomi dari sekolah-sekolah publik. Tapi, menyiapkan anak-anak untuk mendapatkan pekerjaan bukanlah satu-satunya, dan bahkan bukan tujuan utama pendidikan publik, yang harus menyiapkan murid untuk partisipasi dalam pemerintahan mandiri yang demokratis, aksi moral, dan kehidupan yang meliputi perkembangan, pertumbuhan dan kesejahteraan personal.
  • Tak seperti organisasi-organisasi PBB, semacam UNESCO atau UNICEF yang memiliki mandat yang jelas dan sah untuk memperbaiki pendidikan dan kehidupan anak-anak di seluruh dunia, OECD tak memiliki mandat semacam itu. Tidak ada juga, saat ini, mekanisme tentang partisipasi demokratis yang efektif dalam proses-proses pembuatan keputusan dalam bidang pendidikannya.
  • Dalam menyelenggarakan PISA dan layanan-layanan follow-upnya, OECD menempuh “kemitraan negara-swasta” dan melakukan aliansi-aliansi dengan perusahaan-perusahaan bisnis multinasional, yang didirikan untuk mencari keuntungan finansial dari setiap kelemahan –baik yang riil maupun yang dipersepsikan—yang tak diungkapkan oleh PISA. Sebagian dari perusahaan-perusahaan ini menyediakan layanan pendidikan bagi sekolah-sekolah Amerika dan distrik-distrik sekolah dengan keuntungan yang masif, sambil menggarap rencana-rencana untuk mengembangkan bisnis pendidikan dasar di Afrika, di mana OECD kini berencana untuk memperkenalkan program PISA.
  • Akhirnya, dan yang paling penting: rezim baru PSA, dengan siklus kontinyu tes globalnya, merusak anak-anak kita dan mengacaukan ruang-ruang kelas kita, karena secara tak terhindarkan melibatkan lebih banyak dan lebih banyak lagi tes pilihan ganda, pelajaran-pelajaran yang didiktekan “vendor, dan memperkecil otonomi guru. Dengan cara ini PSA telah semakin meningkatkan tingkat stress di sekolah-sekolah yang sudah tinggi, yang membahayakan kesejahteraan murid dan guru.

Perkembangan-perkembangan ini nyata-nyata bertentangan dengan prinsip-prinsip yang telah diterima secara luas tentang pendidikan dan praktik demokrasi yang baik:

  • Tidak ada reformasi dengan sebab apapun yang boleh didasarkan pada satu ukuran tunggal kualitas yang sempit.
  • Tidak ada reformasi dengan sebab apapun yang boleh mengabaikan peran penting faktor-faktor non-edukasional, salah satu yang paling penting adalah ketidaksetaraan sosio-ekonomi. Di banyak negara, termasuk AS, ketidaksetaraan telah secara dramatis meningkat pada 15 tahun terakhir ini, yang menjelaskan meluasnya gap antara yang kaya dan miskin yang tidak mungkin bisa diatasi oleh reformasi-reformasi pendidikan, betapapun canggihnya.
  • Sebuah organisasi seperti OECD, sebagaimana organisasi manapun yang sangat dalam memengarhui kehidupan masyarakat-masyarakat kita, harus terbuka pada akuntabilitas demokratis di hadapan anggota masyarakat-masyarakat itu.

Kami menulis tidak hanya untuk mengemukakan kelemahan-kelemahan dan problem-problem. Kami juga ingin menawarkan ide-ide serta saran-saran konstruktif yang bisa membantu menghilangkan kecemasan-kecemasan yang disebutkan di atas. Walaupun tidak sempurna, saran-saran ini menggambarkan betapa pembelajaran bisa diperbaiki tanpa efek-efek negatif seperti disebutkan di atas:

  1. Kembangkan alternatif-alternatif tabel liga: eksplorasi cara-cara yang lebih bermakna dan lebih sedikit menimbulkan sensasi dalam melaporkan hasil asesmen. Misalnya, membandingkan negara-negara berkembang, di mana anak usia 15 tahun sudah biasa dikerahkan dalam praktik perburuhan anak, dengan negara-negara kelas satu dunia tidak memiliki makna edukasional maupun politik dan justru membuka peluang bagi OECD untuk dituduh melakukan kolonialisme pendidikan.
  2. Buat ruang untuk partisipasi dengan keterlibatan penuh konstituen-konstituen dan keahlian yang relevan: saat ini, golongan yang memiliki pengaruh terbesar pada apa dan bagaimana asesmen terhadap pembelajaran internasional adalah kalangan ahli psikometri, ahli statistik dan ekonomi. Mereka memang pantas memiliki peran, tapi demikian juga banyak golongan lain: orangtua, pendidik, administratur, tokoh masyarakat, murid, juga para sarjana dari berbagai disiplin ilmu seperti antropologi, sosiologi, sejarah, filsafat, linguistik, serta seni dan humaniora. Apa dan bagaimana melakukan asesmen pendidikan anak usia 15 tahun harus didiskusikan dengan melibatkan semua golongan ini di tingkat lokal, nasional maupun internasional.
  3. Masukkan organisasi nasional dan internasional dalam formulasi metode dan standar asesmen, yang misinya bukan semata-mata aspek ekonomi dari pendidikan publik dan yang memiliki kepedulian pada kesehatan, pembangunan manusia, kesejahteraan dan kebahagiaan murid-murid dan guru. Ini akan mencakup organisasi-organisasi PBB yang disebutkan di atas, di samping asosiasi-asosiasi guru, orangtua, dan administratur, sekadar untuk menyebutkan sebagian.
  4. Publikasikan biaya langsung dan tidak langsung dalam menyelenggarakan PISA agar para pembayar pajak di sejumlah negara bisa memperhitungkan alternatif pemakaian jutaan dolar yang dihabiskan untuk tes ini dan memutuskan apakah mereka ingin meneruskan partisipasi mereka atau tidak.
  5. Terimalah pengawasan oleh tim pemantau internasional independen yang bisa mengobservasi penyelenggaraan PSA dari sejak perencanaan sampai eksekusi, sehingga pertanyaan-pertanyaan tentang format tes dan prosedur statistik serta penilaian cukup kuat menepis tuduhan bias dan pembandingan yang tidak adil.
  6. Sediakan uraian-uraian terperinci berkaitan dengan peran perusahaan bisnis swasta dalam persiapan, eksekusi, dan follow-up atas tes tiga tahunan PISA untuk menghindarkan munculnya atau realitas konflik kepentingan.
  7. Tahanlah sementara tes PISA. Agar ada waktu bagi diskusi-diskusi tentang isu-isu yang disebutkan di sini pada level lokal, nasional dan internasional, pertimbangkan untuk meniadakan siklus PISA berikutnya. Ini akan memberi waktu untuk memasukkan pembelajaran kolektif yang dihasilkan dari pembahasan-pembahasan tersebut dalam satu model asesmen baru yang sudah diperbaiki.

Kami berasumisi para ahli PISA OECD termotivasi oleh hasrat yang tulus untuk memperbaiki pendidikan. Tapi, kami gagal memahami bagaimana organisasi Anda telah menjadi arbiter global dalam urusan sarana dan tujuan pendidikan di seluruh dunia. Fokus sempit OECD pada standardized testing berisiko mengubah pembelajaran menjadi aktivitas yang membosankan dan pembunuhan kebahagiaan belajar. Dengan kekuatan PISA yang mampu menggiring banyak pemerintahan untuk memasuki kompetisi internasional angka hasil ujian, OECD telah menjalankan kekuatan untuk membentuk kebijakan pendidikan di seluruh dunia, tanpa perdebatan tentang perlu tidaknya atau pembatasan-pembatasan atas tujuan-tujuan OECD. Kami sangat prihatin bahwa mengukur keragaman yang begitu luas tradisi-tradisi dan budaya-budaya pendidikan dengan satu penggaris tunggal yang sempit yang bias pada akhirnya akan menghasilkan kerusakan yang tak bisa diperbaiki pada sekolah-sekolah dan murid-murid kita.

Hormat kami,

  1. Andrews, Paul Professor of Mathematics Education, Stockholm University
  2. Atkinson, Lori New York State Allies for Public Education
  3. Ball, Stephen J Karl Mannheim Professor of Sociology of Education, Institute of Education, University of London
  4. Barber, Melissa Parents Against High Stakes Testing
  5. Beckett, Lori Winifred Mercier Professor of Teacher Education, Leeds Metropolitan University
  6. Berardi, Jillaine Linden Avenue Middle School, Assistant Principal
  7. Berliner, David Regents Professor of Education at Arizona State University
  8. Bloom, Elizabeth EdD Associate Professor of Education, Hartwick College
  9. Boudet, Danielle Oneonta Area for Public Education
  10. Boland, Neil Senior lecturer, AUT University, Auckland, New Zealand
  11. Burris, Carol Principal and former Teacher of the Year
  12. Cauthen, Nancy PhD Change the Stakes, NYS Allies for Public Education
  13. Cerrone, Chris Testing Hurts Kids; NYS Allies for Public Education
  14. Ciaran, Sugrue Professor, Head of School, School of Education, University College Dublin
  15. Deutermann, Jeanette Founder Long Island Opt Out, Co-founder NYS Allies for Public Education
  16. Devine, Nesta Associate Professor, Auckland University of Technology, New Zealand
  17. Dodge, Arnie Chair, Department of Educational Leadership, Long Island University
  18. Dodge, Judith Author, Educational Consultant
  19. Farley, Tim Principal, Ichabod Crane School; New York State Allies for Public Education
  20. Fellicello, Stacia Principal, Chambers Elementary School
  21. Fleming, Mary Lecturer, School of Education, National University of Ireland, Galway
  22. Fransson, Göran Associate Professor of Education, University of Gävle, Sweden
  23. Giroux, Henry Professor of English and Cultural Studies, McMaster University
  24. Glass, Gene Senior Researcher, National Education Policy Center, Santa Fe, New Mexico
  25. Glynn, Kevin Educator, co-founder of Lace to the Top
  26. Goldstein, Harvey Professor of Social Statistics, University of Bristol
  27. Gorlewski, David Director, Educational Leadership Doctoral Program, D’Youville College
  28. Gorlewski, Julie PhD, Assistant Professor, State University of New York at New Paltz
  29. Gowie, Cheryl Professor of Education, Siena College
  30. Greene, Kiersten Assistant Professor of Literacy, State University of New York at New Paltz
  31. Haimson, Leonie Parent Advocate and Director of “Class Size Matters”
  32. Heinz, Manuela Director of Teaching Practice, School of Education, National University of Ireland Galway
  33. Hughes, Michelle Principal, High Meadows Independent School
  34. Jury, Mark Chair, Education Department, Siena College
  35. Kahn, Hudson Valley Against Common Core
  36. Kayden, Michelle Linden Avenue Middle School Red Hook, New York
  37. Kempf, Arlo Program Coordinator of School and Society, OISE, University of Toronto
  38. Kilfoyle, Marla NBCT, General Manager of BATs
  39. Labaree, David Professor of Education, Stanford University
  40. Leonardatos, Harry Principal, high school, Clarkstown, New York
  41. MacBeath, John Professor Emeritus, Director of Leadership for Learning, University of Cambridge
  42. McLaren, Peter Distinguished Professor, Chapman University
  43. McNair, Jessica Co-founder Opt-Out CNY, parent member NYS Allies for Public Education
  44. Meyer, Heinz-Dieter Associate Professor, Education Governance & Policy, State University of New York (Albany)
  45. Meyer, Tom Associate Professor of Secondary Education, State University of New York at New Paltz
  46. Millham, Rosemary PhD Science Coordinator, Master Teacher Campus Director, SUNY New Paltz
  47. Millham, Rosemary Science Coordinator/Assistant Professor, Master Teacher Campus Director, State University of New York, New Paltz
  48. Oliveira Andreotti Vanessa Canada Research Chair in Race, Inequality, and Global Change, University of British Columbia
  49. Sperry, Carol Emerita, Millersville University, Pennsylvania
  50. Mitchell, Ken Lower Hudson Valley Superintendents Council
  51. Mucher, Stephen Director, Bard Master of Arts in Teaching Program, Los Angeles
  52. Tuck, Eve Assistant Professor, Coordinator of Native American Studies, State University of New York at New Paltz
  53. Naison, Mark Professor of African American Studies and History, Fordham University; Co-Founder, Badass Teachers Association
  54. Nielsen, Kris Author, Children of the Core
  55. Noddings, Nel Professor (emerita) Philosophy of Education, Stanford University
  56. Noguera, Pedro Peter L. Agnew Professor of Education, New York University
  57. Nunez, Isabel Associate Professor, Concordia University, Chicago
  58. Pallas, Aaron Arthur I Gates Professor of Sociology and Education, Columbia University
  59. Peters, Michael Professor, University of Waikato, Honorary Fellow, Royal Society New Zealand
  60. Pugh, Nigel Principal, Richard R Green High School of Teaching, New York City
  61. Ravitch, Diane Research Professor, New York University
  62. Rivera-Wilson Jerusalem Senior Faculty Associate and Director of Clinical Training and Field Experiences, University at Albany
  63. Roberts, Peter Professor, School of Educational Studies and Leadership, University of Canterbury, New Zealand
  64. Rougle, Eija Instructor, State University of New York, Albany
  65. Rudley, Lisa Director: Education Policy-Autism Action Network
  66. Saltzman, Janet Science Chair, Physics Teacher, Red Hook High School
  67. Schniedewind, Nancy Professor of Education, State University of New York, New Paltz
  68. Silverberg, Ruth Associate Professor, College of Staten Island, City University of New York
  69. Sperry, Carol Professor of Education, Emerita, Millersville University
  70. St. John, Edward Algo D. Henderson Collegiate Professor, University of Michigan
  71. Suzuki, Daiyu Teachers College at Columbia University
  72. Swaffield, Sue Senior Lecturer, Educational Leadership and School Improvement, University of Cambridge
  73. Tanis, Bianca Parent Member: ReThinking Testing
  74. Thomas, Paul Associate Professor of Education, Furman University
  75. Thrupp, Martin Professor of Education, University of Waikato, New Zealand
  76. Tobin, KT Founding member, ReThinking Testing
  77. Tomlinson, Sally Emeritus Professor, Goldsmiths College, University of London; Senior Research Fellow, Department of Education, Oxford University
  78. Tuck, Eve Coordinator of Native American Studies, State University of New York at New Paltz
  79. VanSlyke-Briggs Kjersti Associate Professor, State University of New York, Oneonta
  80. Wilson, Elaine Faculty of Education, University of Cambridge
  81. Wrigley, Terry Honorary senior research fellow, University of Ballarat, Australia
  82. Zahedi, Katie Principal, Linden Ave Middle School, Red Hook, New York
  83. Zhao, Yong Professor of Education, Presidential Chair, University of Oregon
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s