Curhat Guru Amerika tentang Dehumanisasi Sekolah

[Pengantar: berikut ini adalah terjemahan atas tulisan di blog milik Diane Ravitch. Dalam tulisan itu, Diane mengutip curhat seorang guru bernama Heather Keith. Meskipun ini terjadi nun jauh di Amerika Serikat sana, esensi kegelisahannya patut menjadi renungan bagi kita pecinta pendidikan Indonesia. http://dianeravitch.net/2013/02/09/the-dehumanization-of-education/]

Di saat para politisi dan birokrat berdebat tentang bagaimana merekalibrasi ide-ide mereka untuk mereformasi sekolah-sekolah di negara ini, kinilah saat yang baik utuk membaca apa yang ditulis seorang guru tentang apa yang tengah dilakukan Washington terhadap mereka. Mungkin seseorang yang bijak bisa meneruskan ini ke sidang-sidang pembahasan tentang program NCLB (No Child Left Behind). Tidak adakah seseorang di Kongres yang mendengar suara para pendidik? Mengapa mereka tak mengundang pendidik yang sesungguhnya, kepala sekolah yang sesungguhnya, pengawas yang sesungguhnya untuk memberi penjelasan, ketimbang hanya mendengarkan orang-orang dari think tanks dan anggota-anggota komisi di DC?
Heather menulis seperti ini (Heather Keith adalah penulis buku Intellectual Disability: Ethics, Dehumanization and a New Moral Community):
Saya menjadi guru karena cinta saya pada sekolah. Saya mencintai para guru saya. Saya bahagia saat belajar. Saya mencintai interaksi dengan teman-teman saya. Saya merasa aman dan berhasil di sekolah… sekalipun ketika saya melakukan kesalahan.
Kalangan politik dan non-pendidik telah mengubah sekolah-sekolah kita. Mereka mengubahnya menjadi bisnis-bisnis yang hanya fokus pada angka-angka dan status-status. Mereka telah merenggut komponen kemanusiaan. Bukan guru-guru yang fokus pada kesejahteraan anak-anak, kita memiliki guru-guru yang dipaksa menyekopkan kumpulan informasi masif ke tenggorokan anak-anak yang sesungguhnya membutuhkan cinta dan pengasuhan. Mereka telah merenggut waktu kegembiraan yang dibutuhkan anak untuk mengembangkan cinta belajar. Bukan melakukan semua yang bisa kita lakukan demi anak-anak, kita dilarang menyentuh mereka… Mereka adalah anak-anak. Mereka membutuhkan pelukan dan tepukan di punggung mereka. Mereka perlu tahu bahwa itu baik-baik saja untuk menunjukkan kasih sayang dan bahwa ada cara yang tepat untuk menunjukkannya.
Anak-anak bukan satu-satunya korban keputusan-keputusan orang-orang ini, yang tak pernah menjejakkan kaki di depan kelas. Para guru dibuat tak berdaya. Mereka merasa bahwa fungsi mereka hanya menjejalkan sebanyak mungkin informasi kepada anak-anak. Para guru mulai lapuk di bawah tekanan. Mereka dikritik dan dibuat merasa bahwa opini mereka serta pengetahuan profesional mereka tak berarti apa-apa.
Kaum non-pendidik itu seharusnya menjejakkan kaki mereka di depan kelas. Mereka akan melihat anak yang mendominasi waktu belajar dengan perilaku mereka yang kasar dan kurang ajar. Mereka akan melihat anak yang merangkak di lantai dan meringkuk di lemar-lemari mantel. Mereka akan melihat anak-anak yang datang tanpa sarapan terlebih dahulu atau berpakaian yang bersih. Mereka akan melihat anak-anak yang cari-cari perhatian dan berdiri sedekat mungkin dengan guru. Mereka akan melihat airmata dan kecemasan saat guru meluku pelajaran-pelajaran.
Lalu, biarkan para “pakar” ini mengunjungi orangtua yang tak punya waktu sedikitpun untuk bersama anak-anak mereka, tapi merasa bahwa semua kesalahan ada pada guru ketika anak berperilaku buruk atau meraih nilai buruk. Mereka harus melihat cara tidak patut para orangtua berbicara kepada guru… dan bahwa para guru diinstruksikan untuk “menerima saja.”
Kertas kerja dan interupsi-interupsi pelajaran akan masuk dalam daftar observasi mereka berikutnya. Mereka tentu akan melihat bahwa mesikpun ada waktu yang tersedia untuk perencanaan, tapi waktu itu terenggut oleh pertemuan-pertemuan dengan orangtua, pertemuan-pertemuan tim, sidang-sidang, dan kertas kerja.
Mereka harus bersama para guru sampai para guru mengakhiri pekerjaan mereka dalam satu hari. Harus masuk dalam agenda pula perjalanan pulang dengan guru, mengatur rumahtangga sambil meneruskan pekerjaan mereka untuk sekolah esoknya.
Mungkin setelah satu kunjungan ke anak-anak dan guru, mereka akan melihat kesalahan mereka. Sekolah bukan melulu urusan angka-angka… sekolah ada untuk hati anak-anak. Sekolah diadakan untuk menanamkan cinta belajar yang akan bertahan sepanjang hayat.
Jika itu belum terjadi, saya khawatir sekolah-sekolah kita akan terus menempuh perjalanan dehumanisasi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s