Belajar Melalui Bermain, Bukan Belajar Sambil Bermain

Dalam praktik sehari-hari tidak jarang terjadi orangtua atau guru menegur anak usia dini dengan kalimat sejenis ini: “Kamu hanya bermain terus, tidak belajar?” Teguran ini menunjukkan adanya pemahaman bahwa bermain dan belajar merupakan dua hal yang berbeda dan terpisah.
Belajar dipandang sebagai kegiatan edukatif dengan seperangkat alat, media, dan cara-cara serta target tertentu yang bernilai primer dalam konteks kebutuhan anak. Sebaliknya, bermain dipandang hanya sebagai kegiatan bersenang-senang yang bersifat rekreatif dan bernilai sekunder.
Ungkapan “dunia anak adalah dunia bermain”, sejatinya mewakili suatu pemikiran pedagogis yang memandang belajar dengan makna yang luas. Belajar tidak terbatas pada gambaran situasi ketika anak memegang alat tulis, duduk di depan meja belajar, membaca buku dan semacamnya..
Di kalangan para penganut pemikiran Jean Piaget, belajar itu bisa dalam bentuk sesederhana anak asyik bermain busa sabun atau main “mamah-mamahan” (main peran). Dalam keasyikan itu anak melihat, merasakan, mengamati kejadian-kejadian, menyerap pemahaman, pengetahuan, bahkan konsep dari aktivitas yang dilakukannya. Dalam situasi itu, yang terjadi sama sekali bukan anak belajar sambil bermain, tapi anak belajar melalui bermain.
Karena itu, jangan pernah merendahkan nilai bermain bagi anak usia dini. Sebaliknya, waspadai “kekurangan asupan” bermain bagi anak usia dini, karena bermain adalah moda belajar anak usia dini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s