Indonesia yang Mengerikan

(Transkrip Imajiner Orasi The Economic Hitman)

Terlalu berisiko membiarkan Indonesia memiliki pemerintahan yang independen dan efektif. Sumberdaya alamnya melimpah. Indonesia punya segala-galanya, kecuali satu: kemampuan memanfaatkan sumberdaya alamnya yang melimpah laksana surga itu.
Tapi ingat, penduduknya sebetulnya pintar-pintar. Bikin pesawat bisa, bikin kapal bisa, bikin senjata bisa, bikin roket bisa, (berarti bisa bikin rudal, kan?) bikin virus komputer juga bisa. Apalagi cuma mobil, cukup anak SMK yang melakukannya.
Bayangkan kalau negara itu ada di tangan pemerintahan yang serius, tidak bisa dipegang, tak bisa dikendalikan, apalagi mau jadi makelar. Bagaimana nasib produk dan industri pertanian kita, produk dan industri perkebunan kita, produk tekstil kita, industri otomotif kita, industri kedirgantaraan kita, industri pertahanan kita, industri farmasi kita, industri elektronik kita, industri makanan kita, industri berbasis mineral kita? Kalau Indonesia sudah bisa melakukan semuanya sendiri, kebagian apa lagi kita? Karena itu, jangan pernah biarkan industri-industri strategis mereka mendapat fasilitas apapun yang membuat mereka hidup dan menjadi raksasa.
Mari sibukkan orang Indonesia dengan hal-hal kecil yang tidak penting, kebetulan mereka memang senang dengan itu. Kebanyakan ganjen politik ketimbang kerja produktif. Ini medan yang efektif untuk menghabiskan energi mereka. Mereka juga bisa disibukkan dengan aneka pertentangan dan perselisihan, khususnya menyangkut keagamaan.
Mereka juga tidak masalah, koq, mengimpor barang-barang yang seharusnya bisa mereka produksi sendiri. Beras, gula, kedelai, garam, jeruk, apel, melon, bahkan ikan kembung, lele dan jengkol… sudah biasa mereka impor. Cukup dengan uraian-uraian njelimet tentang neraca, inflasi, defisit, stok, stabilitas harga dan sejenisnya, masyarakat bisa tenang. Ya, sesekali memang ada riak-riak akibat kenaikan harga barang impor tertentu. Tapi, itu hanya sekadar mekanisme penyelesaian pembagian rejeki antarmakelar saja. Setelah itu akan adem ayem lagi.
Satu lagi, mereka super konsumtif dengan produk-produk mutakhir teknologi IT dan otomotif sekadar buat gaya-gayaan. Perlu juga, sih, diwaspadai adalah anak-anak muda kreatif yang gandrung dengan pengembangan aplikasi opensource. Tapi, selama mereka tidak punya akses pada pembuat kebijakan di pemerintahan, tidak masalah.
Mari bantu para makelar kita menguasai jaringan informasi media. Kalau ada tokoh serius yang mulai naik pamor, munculkan predator, dan hancurkan reputasi tokoh seperti itu. Jangan pernah biarkan rakyat mengenal tokoh seperti itu. Bunuhlah setiap benih kemandirian industri Indonesia. Terus arahkan lembaga-lembaga pendidikan untuk menghasilkan pelamar-pelamar kerja, bukan kreator, apalagi leader.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s