Kami Belajar dari Nadin

Sudah beberapa hari berlalu, dan saya terus berusaha keras untuk memetik hikmahnya, bertanya pelajaran apa yang belum kami serap agar kami (saya dan isteri saya, Rina Fauziah Zulfa) bisa menjadi orangtua yang baik. Pada 3 September lalu, putri bungsu kami, Nadin Mumtaz, berulangtahun ke-6. Beberapa hari sebelumnya dia “memesan” perayaan dengan kue ulangtahun dan bingkisan buat teman-temannya di TKIT An-Nahl.
Saya sendiri terus terang belum menemukan cara yang tepat untuk menanamkan pengertian kepada Nadin (juga kedua anak kami yang lain) bahwa perayaan ulangtahun itu bukan sesuatu yang prinsip. Kami pun masih terus belajar bagaimana cara yang tepat untuk menanamkan kepada mereka pemahaman yang benar, baik, dan bermanfaat tentang mensyukuri nikmat Allah swt dalam tiap detik kehidupan.
Singkat cerita, setelah diskusi yang juga melibatkan kakak Nadin, Negar Zuhayra (9 tahun), kami menyepakati ada kue ulangtahun dan bingkisan buat teman-teman Nadin di sekolah. Sebagai imbalannya, Nadin sepakat untuk lebih mandiri dalam hal makan, ke kamar mandi dan tidur. Deal! Cukup bagus, pikir saya, dengan tetap menyadari bahwa kemandirian itu tentu tidak bisa tercipta bak sulap. Paling tidak, kesepakatan itu bisa jadi bekal penting saat mengingatkan dia, dan juga kakaknya, tentang hal-hal baik yang mereka butuhkan dalam hidup.
Benar saja, dua hari setelah ulangtahun itu, saya mendapati isteri saya menyuapi Nadin makan. Dengan santai, saya menggoda Nadin. “Lho, Bu, bukannya kita sudah sepakat, Nadin makan sendiri? Nadin perlu makan sendiri biar tangannya terlatih dan kuat.” Ibunya, diam saja, dan Nadin yang bersuara, “Bapak, pokoknya kalau di rumah aku minta disuapi. Bapak jangan ikut campur. Pokoknya aku minta disuapi.” Hah!? Saya terkesima, bukan oleh pembangkangan Nadin, tapi oleh kalimat ungkapannya, dengan kosakata “ikut campur.” Kalimat itu memancing tawa spontan saya. “Yang penting, Nadin tahu mengapa Nadin harus makan sendiri,” jawab saya.
Saya berpikir positif karena saya percaya bahwa Nadin sesungguhnya sudah berusaha untuk mandiri seiring dengan tumbuhnya kemampuan berpikir logisnya. Salah satu yang turut menguatkan pikiran positif saya adalah ketika persiapan ulangtahun. Nadin, yang dilibatkan oleh ibunya saat menyiapkan bingkisan untuk teman-temannya itu, melihat sendiri ketika ibunya pulang dari sekolah dengan membawa belanjaan membonceng motor saya. Nah, di tengah kesibukan membungkus-bungkus bingkisan itulah keluar kalimat Nadin yang membuat hati saya terenyuh dan saya tak bisa berkata-kata. “Ibu, maafkan Nadin, ya, karena ulangtahun ini membuat ibu jadi repot.”
Ternyata, masih terlalu banyak yang harus saya pelajari.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s