Sesi Belajar (Saat Makan) Bersama

Kecenderungan dunia sekolah yang digenjot untuk memburu prestasi akademis semakin jauh meninggalkan elemen belajar yang mendasar. Belajar untuk kehidupan. Budi pekerti atau akhlak telah menjadi bagian dari himpunan pengetahuan yang dikemas untuk keperluan latihan menjawab soal-soal ujian. Tidak lagi menjadi ikhtiar pembangunan diri anak-anak.

Maka, wujud belajar dalam persekolahan (dan efeknya mendesak hidup keseharian anak di rumah) adalah aktivitas untuk menguasai pengetahuan sebanyak-banyaknya. Pembangunan kemandirian, tanggungjawab, daya juang, kejujuran, cinta belajar dan berbagai kualitas mental unggul lainnya pun terpinggirkan.

Makna belajar menjadi semakin sempit. Berbagai kegiatan rutin yang sesungguhnya kaya akan kesempatan pembelajaran dibiarkan berlalu begitu saja. Padahal, semua kegiatan rutin seperti makan, tidur, berpakaian, ke kamar kecil dan lain-lain, adalah momen yang berharga untuk pembelajaran (lihat infografis Routines are Teachable Moments).

Mari mengintip kehidupan belajar dan belajar untuk kehidupan di Sekolah Batutis Al-Ilmi. Sesi makan bersama adalah bagian melekat dalam rangkaian pembelajaran di Sekolah Batutis Al-Ilmi, sebuah sekolah gratis untuk anak-anak dari keluarga dhu’afa di kawasan Pekayon, Bekasi, Jawa Barat. Dalam sehari, semua murid Batutis, dari kelas Rumah Bayi (Baby House), Kelompok Bermain, TK, sampai kelas VI SD, melakukan dua kali makan bersama, yaitu kudapan pagi sekitar pukul setengah sepuluh dan makan siang sebelum shalat zhuhur. Kecuali kelas Bayi, menunya sama.

Didampingi satu atau dua guru yang juga ikut makan dengan menu yang sama, tiap-tiap kelompok (kelas) duduk melingkar di meja yang sudah dirapikan dan dibersihkan dari aneka peralatan bermain dan belajar. Kudapan atau makanan berikut alat-alat makan seperti piring, sendok dan gelas diedarkan dari tangan ke tangan. Mereka menyendok nasi atau sayur bergantian sesuai dengan urutan menurut arah edar yang disepakati masing-masing kelompok.

Sebelum makanan atau alat makan beredar, selama beberapa saat guru mengajak berdiskusi tentang kandungan nutrisi makanan yang akan mereka nikmati, juga tentang asal-usul makanan dan proses pengolahannya. Lalu, guru memimpin doa bersama.
Dengan model pembelajaran Metode Sentra yang di dalamnya guru senantiasa berusaha memastikan terciptanya ketertiban, tidak berarti sesi makan bersama selalu berjalan mulus.

Terkadang, anak yang mendapat giliran terakhir menyendok nasi atau kuah kebagian porsi “ekonomis”. Kerap juga terjadi, seorang murid berusaha berpindah dari tempat duduk asalnya agar mendapat giliran lebih awal. Atau, sesekali ada anak yang ngambek karena potongan lauk yang ingin dipilihnya sudah keburu diambil temannya.

Hal-hal seperti itu adalah dinamika yang muncul secara alamiah dan menjadi tantangan sekaligus kesempatan berharga bagi anggota kelompok untuk belajar. Ya, belajar saat sesi makan bersama tidak hanya sebatas pengetahuan tentang makanan, tetapi juga (dan yang lebih penting) belajar tentang sikap-sikap terpuji. Belajar tentang bersyukur, tentang qana’ah, tentang tanggungjawab, kesabaran, kepedulian, ketertiban dan lain-lain.

Dalam hal ini, kontrol atas perilaku tidak selalu muncul dari guru, tapi juga dari anak-anak yang saling mengingatkan, dan guru menguatkannya dengan apresiasi wajar, tidak berlebihan. Guru antara lain selalu mengingatkan agar para murid mengambil makanan “secukupnya sesuai kebutuhan.” Di hari-hari pertama tahun ajaran baru, biasanya ada saja anak yang mengambil porsi makanan yang melebihi kebutuhannya, sehingga tidak habis.

Menghadapi hal seperti ini, guru tetap ramah tapi tegas dengan mengatakan “Kita bertanggungjawab atas makanan yang kita ambil. Ibu dan teman-teman lain bisa menunggu sampai kamu menghabiskannya.” Dengan pengalaman bersusah payah menghabiskan makanan itu, anak yang bersangkutan (juga teman-temannya) mendapatkan pelajaran yang menancap kuat tentang “secukupnya sesuai kebutuhan”.

Pembelajaran-pembelajaran yang amat kaya itu memang tidak dibingkai dalam Mata Pelajaran Akhlak atau Budi Pekerti. Tapi, dari sesi makan bersama, anak-anak Batutis belajar banyak bekal kehidupan yang mereka butuhkan untuk masa depan mereka.

 

routines-are-teachable-moments

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s