Siapa Peduli Pendidikan Karakter

[PENGANTAR: Bulan tanggal 10, 11 dan 12 Oktober nanti, dua pakar pendidikan anak usia dini, Dr Pamela C. Phelps dan Dr. Laura L. Stannard akan kembali ke Indonesia untuk Konferensi VI Pendidikan Anak Usia Dini di Jakarta. Phelps adalah pencipta model pembelajaran BCCT (Beyond Centers and Circle Time), yang di Indonesia lebih dikenal dengan sebutan Metode Sentra, Sentra dan Lingkaran atau Senling. Artikel ini pernah dimuat di Koran Tempo pada 23 Oktober 2010.]

Opini | Koran Tempo | 23 Oktober 2010
Oleh Yanto Musthofa
Pekerja pendidikan, tinggal di Bogor

Selama tiga hari mulai 22 Oktober 2010, berlangsung konferensi ketiga pendidikan anak usia dini di Jakarta. Dua pakar sekaligus praktisi pendidikan anak usia dini dari Tallahassee, Florida, Amerika Serikat, Dr Pamela C. Phelps dan Dr Laura Stannard, hadir sebagai pembicara utama. Konferensi ini memang kurang bergaung. Pun, mungkin tak banyak praktisi pendidikan di Tanah Air yang mengenal kedua pakar tersebut. Namun ratusan ribu guru pendidikan anak usia dini di Indonesia sebetulnya telah cukup akrab dengan metode pembelajaran yang dikembangkan Phelps di Creative Pre-School, Tallahassee, sejak dekade 1960-an.
Phelps adalah perancang konsep kurikulum Beyond Centers and Circle Time (BCCT)® , yang biasa diterjemahkan “Lebih Jauh tentang Sentra dan Saat Lingkaran”, atau disebut Pendekatan Sentra dan Lingkaran (Senling) atau Metode Sentra. Meski tak secara tegas mengidentifikasi diri sebagai penganut paradigma tertentu, bila ditelusuri, Phelps sangat kuat dipengaruhi teori Konstruktivisme yang dipelopori pemikir Swiss, Jean Piaget (1896-1980), juga “Mozart-nya psikologi” asal Rusia, Lev Vygotsky (1896-1934), yang memperkenalkan paradigma Konstruktivisme Sosial. Salah satu indikatornya adalah preferensi kata “membangun” ketimbang kata “mengajar” atau “melatih” seperti yang akrab di kalangan penganut Behaviorisme.
Meski demikian, Phelps punya alasan kuat untuk tidak mau digolongkan pada satu paradigma tertentu, karena ia memang mengusung sejumlah teori atau paradigma lain sebagai basis konsepnya, termasuk tentu saja pandangan-pandangan mentor doktoralnya di Florida State University, Charles H. Wolfgang. Phelps juga sangat berkepentingan dengan teori kecerdasan jamak (multiple intelligences) yang dicetuskan Howard Gardner pada 1983.
Terlepas dari apa pun basis teoretisnya, konsep Phelps (yang di Tallahassee diterapkan dalam satu sekolah multikultural) terbukti sangat membumi di Indonesia. Di sini, konsepnya telah 15 tahun dieksperimenkan oleh sebuah sekolah Islam, Sekolah Al-Falah, di Jakarta Timur, yang menggandeng Phelps sebagai konsultan. Eksperimen dijalankan dengan modifikasi dan kemasan bercorak keislaman yang kental. Namun itu tak menghalangi beberapa sekolah non-Islam mengirim wakilnya untuk belajar Metode Sentra di sana.
Paradigma Sentra
Secara sederhana bisa digambarkan, Metode Sentra menyediakan sentra-sentra tempat anak-anak “bekerja” untuk menemukan sendiri informasi, pengetahuan, pemahaman, konsep, atau nilai-nilai yang mereka butuhkan untuk hidup mereka. Dalam hal ini, guru berperan sebagai penjamin bahwa sentra yang dimasuki anak adalah sentra yang bermutu. Jaminan mutu bertumpu pada pengetahuan, wawasan, sikap, dan karakter yang dimiliki guru.
Anak memang menjadi pembelajar aktif, dan guru tidak menyuapkan pengetahuan kepada anak. Namun kerja guru sama sekali tidak menjadi ringan. Metode Sentra tidak menoleransi kerja sambil lalu. Guru harus selalu siaga untuk memastikan kebenaran informasi, pengetahuan, pemahaman, konsep, sikap, atau nilai yang diserap setiap anak. Salah satu prinsip penerapan Metode Sentra adalah perhatian, perlakuan, dan pencatatan perkembangan anak secara individual.
Prinsip lainnya adalah menjaga keaktifan kerja otak anak dengan tidak melakukan “tiga M”: menyuruh, melarang, dan marah terhadap anak. Ini antara lain mengacu pada hasil penelitian neurolog Prof Lise Elliot, yang memaklumkan bahwa marah bisa membuat sel-sel otak anak bergururan alias mati. Dan sel-sel otak yang mati tidak tergantikan, karena jumlah sel otak tidak bertambah sejak anak lahir.
Tidak mudah, memang. Selain kesabaran, guru perlu terus mengasah kemampuan berbahasa untuk mengeksplorasi kalimat-kalimat substitusi tindakan menyuruh, melarang, dan marah. Contoh, dalam satu sesi, waktu “bekerja” di Sentra telah habis dan guru ingin anak-anak membereskan mainan. Tapi anak-anak tidak melakukannya. Maka guru bisa berkata “Mainan perlu dirapikan dan disimpan kembali di tempatnya agar besok bisa dipakai lagi” (kalimat afirmasi); “Di mana tempat meletakkan mainan setelah kita gunakan?” atau “Siapa yang pertama merapikan mainannya?” (kalimat pertanyaan); atau “Alhamdulillah, Raihan sudah mulai membereskan mainannya. Siapa yang menyusul?” (gabungan kalimat afirmasi dan pertanyaan).
Kalimat-kalimat tersebut akan berbeda efeknya dengan kalimat perintah, misalnya, “Ayo, anak-anak bereskan mainannya!” Dengan kalimat afirmasi atau pertanyaan, guru memberi kesempatan lebih besar kepada anak untuk menyerap prinsip dan logika tentang apa yang perlu dia lakukan. Sedangkan dengan kalimat perintah, anak mungkin melakukan pekerjaannya, tapi dalam sistem otaknya tidak terjadi penyambungan antarsel (myelin) sebagai hasil pembelajaran prinsip dan logika. Akibatnya, anak baru akan melakukan pekerjaan bila disuruh. Saat dewasa, anak yang biasa diperintah hanya akan bekerja dengan baik bila diawasi.
Pendidikan karakter
Uraian sekilas tentang prinsip dan praktek penerapan di atas memberi gambaran betapa Metode Sentra sesungguhnya mengisi kekosongan dalam jargon pendidikan karakter yang belakangan ramai dibicarakan banyak pihak. Metode Sentra mengasumsikan pendidikan sebagai proses membangun secara terpadu dan seimbang sistem kerja otak anak. Anak tidak hanya disiapkan untuk menjadi juara Olimpiade Sains atau Olimpiade Matematika, tapi lebih dari itu, menjadi manusia pembelajar yang berkarakter dan bahagia.
Para pelaksana pendidikan tahu benar bahwa kesempatan untuk membangun sambungan-sambungan myelin secara optimal tersedia dalam periode yang sangat terbatas: usia nol sampai 7 tahun. Setelah usia itu, yang terjadi hanyalah penebalan-penebalan myelin yang sudah terbentuk. Sayangnya, program Wajib Belajar yang digalakkan pemerintah justru baru dimulai setelah “periode emas” tersebut. Sebagai program hasil keputusan politik, Wajib Belajar tentu melewati proses panjang dan berliku. Karena itu, perlu waktu pula untuk mengubahnya. Namun tidak adakah cara yang ringkas untuk menelurkan keputusan politik untuk sebuah permasalahan bangsa yang mendasar: pendidikan karakter?
Antusiasme para guru pendidikan anak usia dini terhadap Metode Sentra sebetulnya sangat tinggi. Itu tergambar pada seminar di beberapa kota dalam setahun terakhir ini, antara lain di Bandung, Pekalongan, Tasikmalaya, Sidoarjo, Bogor, dan Tangerang. Kementerian Pendidikan Nasional pun sudah dua kali menerbitkan modul pelatihan BCCT (2004 dan 2006) dan telah melatih ratusan tutor untuk disebar ke seluruh Indonesia. Namun, di pusat maupun di daerah, para pejabat terkait masih bersikap ambivalen.
Pernah dalam satu seminar, seorang pejabat “meminta kepastian” kepada pengurus Himpunan Pendidik dan Pekerja Pendidikan Anak Usia Dini (Himpaudi), apakah Metode Sentra memang yang terbaik. Logikanya, pemerintah dengan segala sumber dayanya adalah pihak yang lebih kompeten untuk melakukan telaah mendalam untuk menjawab pertanyaan seperti itu. Hasil telaah itu kemudian bisa ditelurkan menjadi sebuah keputusan politik. Mengingat, menimbang, dan seterusnya… maka tentu tak berlebihan bila berharap ada cara yang ringkas untuk menelurkannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s