Kembalikan Ikan-ikan Milik Rakyat Indonesia

Gulagalugu Suara Nelayan
(Leo Kristi)

Berayun-ayun laju
Perahu pak nelayan
laju memecah ombak
Perahu pak nelayan
{buih-buih memercik di kiri-kanan} 2x
Peraaahuuu…

Lihat-lihat nelayan rentang jala pukat
tarik-tariklah tambang
Umpan sudah lekat
{ikannya melompat-lompat} 2x
Riang riaaa…

Jauh di kaki langit terbentang layarmu
kadang naik
Kadang turun
Dimainkan oleh ombak
badai laut biru

Gulagalugu Suara nelayan
Ber-ayun2 laju
Ber-ayun2 laju…
gulagalugu Suara nelayan
Ber-ayun2 laju
Ber-ayun2laju…
musik

Berayun ayun laju perahu pak nelayan
laju memecah ombak perahu pak nelayan
{buih-buih memercik di kiri-kanan} 2x
Perahuuuu…

Jauh di kaki langit terbentang layarmu
kadang naik
Kadang turun
Dimainkan oleh ombak
badai laut biru

{gulagalugu Suara nelayan}
Ber-ayun2 laju ber-ayun2 laju} 3x
laylaylaylaylaylaylaylaylaylay laylaylay…3x
hmmm…

Ibu Susi, teruslah bekerja. Semoga rakyat Indonesia semakin sehat dan sejahtera, tanpa harus mengagumi kemajuan-kemajuan yang dicapai oleh Singapura, Malaysia atau Thailand. Sebab, ternyata sekarang mulai terang benderang bahwa ketiga negara itu tumbuh antara lain dengan memakan makanan haram ikan-ikan milik rakyat Indonesia.

Saya mau berbagi cerita tentang banyak Pak De, Pak Lik, dan saudara-saudara sepupu jauh saya di perkampungan nelayan Desa Paciran, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Semasa kecil saya dulu, mereka menggantungkan hidup keseharian dari rezeki di laut. Mereka berangkat setelah shalat subuh dengan perahu-perahu kecil berwarna putih yang biasa kami sebut “jaten”. Tidak dengan mesin, perahu-perahu itu digerakkan layar dan dayung. Pulang menjelang shalat dzuhur, mereka begitu qana’ah, begitu khidmat mensyukuri rezeki dari kerja harian. Para bibi memilah-milah ikan yang buat konsumsi di rumah dan sebagian dibawa ke pasar untuk dijual.

Saya sendiri, yang termasuk penggemar berat makanan hasil laut (seafood), tinggal di kawasan agak “pedalaman” yang lebih dekat dengan kehidupan petani, jadi hanya sesekali saja menyaksikan kesibukan saudara-saudara saya itu. Sesekali, sepulang sekolah saya diajak Umam, salah satu cucunya Wak Dahlan, menyambut kepulangan nelayan.Menyambut berarti ikut merasakan sukacita kebersyukuran atas rezeki Sang Khaliq. Mereka menyebutnya “ujur-ujur” (mungkin dari kata mujur), yang melambangkan semangat berbagi dari rezeki yang didapat. Anak-anak ikut membantu beres-beres atau mengangkat-angkat bawaan para nelayan. Setelah itu, dengan berbekal kantong plastik mereka mengumpulkan ikan-ikan pemberian para nelayan. Ikan-ikan itu dijual ke pasar, dan anak-anak mendapat uang jajan.

Sudah tiga puluh tahun lebih saya tidak menyaksikan kearifan sederhana yang penuh makna seperti itu. Saya pun tidak tahu apakah kegiatan seperti itu masih ada. Saya hanya mendengar, semakin sedikit pemuda yang tertarik menggeluti kehidupan laut. Akibatnya, sebagian besar ikan yang dikonsumsi masyarakat Desa Paciran saat ini bukan lagi hasil tangkapan nelayan Paciran sendiri,tapi “diimpor” dari desa-desa lain yang masih kuat tradisi nelayannya.

Salah satu Pak Lik saya yang tinggal di desa nelayan lain, pernah bercerita betapa kian susahnya mencari ikan bagi nelayan lokal karena bersaing dengan kapal-kapal besar modern berbendera asing. Kapal-kapal itu dilengkapi mesin-mesin pengolah, dan siap membawa pulang hasil tangkapan mereka dalam bentuk produk berkemasan kaleng. Pada saat yang sama, meskipun tidak “sebusuk” ikan yang dijual pasar-pasar dekat tempat tinggal saya sekarang di Bogor, ikan-ikan di Paciran pun sudah tidak asing dengan formalin, bahan pengawet mayat.

Ibu Susi, saya tidak tahu apakah gebrakan-gebrakan Ibu saat ini kelak akan mengembalikan kesentausaan dan kearifan hidup nelayan seperti dulu lagi. Saya masih terus menanti dengan cemas, apakah gebrakan-gebrakan Ibu akan membuat anak-anak saya bisa menikmati ikan-ikan segar yang tidak diracuni keserakahan para tengkulak. Saya masih berharap-harap gelisah apakah gebrakan-gebrakan Ibu Susi akan berhenti pada slogan kampanye “Ayo Makan Ikan”, atau berlanjut dengan pemberdayaan yang lebih substantif kehidupan para nelayan dengan added value tertentu.

Cobalah tanyakan kepada Pak Anies Baswedan, apakah sulit menyiapkan lulusan SMK yang pandai mengolah ikan dan hasil laut lain menjadi produk-produk olahan berkualitas ekspor. Setahu saya, saat ini lulusan SMK di daerah penghasil kakao punya keahlian yang kurang lebih sama dengan lulusan SMK di daerah penghasil jeruk maupun daerah lumbung padi. Saya miris sekali karena pada tahun 2010 pernah mendapati seorang pengepul daging rajungan yang sedang mengirim beberapa kotak besar daging rajungan tanpa olahan, tanpa label merek, ke Jakarta, melalui jasa pengiriman bus malam. Melihat penampilannya, pengusaha itu tampak sudah cukup makmur. Tapi, apakah menurut Ibu Susi cukup segitu, hanya sampai tingkat pengepul saja?

Tapi, apapun saya senang mengikuti berita tentang gebrakan Ibu Susi. Teruslah bekerja, agar kesejahteraan para nelayan terus berayun-ayun laju. Jangan ada lagi dagelan impor ikan banjar dari Pakistan buat orang Jakarta.

Advertisements

One thought on “Kembalikan Ikan-ikan Milik Rakyat Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s