Integrasikan Pendidikan Prasekolah ke dalam Pendidikan Dasar

 

[PENGANTAR: Ini adalah catatan lama saya, pernah saya upload di facebook pada 12 Desember 2013, dengan judul “Problem Nomenklatur ‘Sekolah Dasar’ dan Problem Mendasar Sekolah Kita”. Dalam slide paparan Mas Menteri Anies Baswedan, pendidikan usia dini dan pendidikan dalam keluarga ditempatkan sebagai salah satu agenda besar dalam mengentaskan pendidikan nasional dari kondisi darurat. Semoga ada langkah yang lebih konkret untuk menjadikan pendidikan prasekolah sebagai sokoguru pendidikan anak-anak bangsa.]

Nomenklatur “Pendidikan Dasar” secara administratif formal yang berlaku di negara kita merujuk pada Sekolah Dasar (SD), atau dengan jargon Wajib Belajar 9 Tahun, diteruskan sampai ke SMP. Menurut Deklarasi Dakar 2000, Education for All (EPA) yang sudah diratifikasi RI, sasaran nomor satu dari enam sasaran yang ditetapkan adalah “memperluas layanan pengasuhan dan pendidikan anak usia dini.”

Menurut berbagai hasil riset mutakhir tentang tahap perkembangan anak, ada kesinambungan tak terpisahkan antara usia dini dan usia sekolah dasar, sehingga itu membutuhkan keterpaduan kebijakan agar dalam praktiknya pembelajaran anak optimal. Faktanya, sampai sekarang pemerintah tak kunjung punya konsep yang tuntas untuk memecahkan salah satu masalah pelik yang berlangsung di masyarakat. Yaitu, orangtua anak usia dini cenderung menuntut guru TK/RA/PAUD untuk “mengajarkan” baca-tulis-hitung (calistung), karena ingin anaknya bisa diterima di SD tertentu, yang memberlakukan tes calistung dalam penerimaan murid baru. Guru TK/RA/PAUD yang sudah belajar tentang tahap perkembangan anak menjadi bingung. Mengajar calistung berarti melanggar ilmu dan tanggungjawabnya, tidak mengajar calistung berarti kehilangan murid. Bagaimana pendapat Anda?

Paradigma yang sudah berurat berakar di negara kita, sekolah ibarat cetakan-cetakan standar dengan target produk yang baku, meskipun ada variasi “kw-kw” kriteria penerimaan input (calon murid) berdasarkan modal harta atau modal keunggulan kognitif. Meskipun ada semacam penelusuran minat, tapi kasta-kasta sudah ditetapkan berdasarkan nilai matematika dan sains. Jangan bermimpi kemahiran bermusik, menari atau bermain sepakbola masuk dalam percaturan kualitas akademis Sekolah Dasar. Kalau tersingkir dari jurusan IPA, ya “turun” ke IPS, atau “turun lagi” ke Bahasa, atau “turun lagi” ke kesenian atau olahraga. Pernah membayangkan anak berkata, “Cita-cita saya jadi peneliti kebudayaan,”?…. kayaknya ga keren blas gitu, …

Jangan-jangan kasta-kasta diskriminasi itulah biang kerok masalah pendidikan kita. Orang berlomba-lomba menjadikan anaknya “terpilih” di sekolah unggul. Akibatnya, yang tersingkir dari sekolah unggul (dengan kriteria-kriteria yang terbatas) menjadi residu pendidikan. Mau menengok ke dunia alternatif? Tidak dipersiapkan karena memang tidak ada sekolahnya.

Saya membayangkan, seandainya tidak ada kasta-kasta diskriminatif itu, maka maka bangsa ini tidak menyia-nyiakan sedikitpun potensi unik setiap individu anak bangsa, yang selama ini menjadi residu pendidikan. Mereka terlempar dari mesin cetakan, dan terbuang dari kamar-kamar nasib masa depan yang sudah didefinisikan, yaitu menjadi pegawai, pelamar kerja, dan akhirnya menjadi sampah tumpukan pengangguran. Menurut saya, gejala ini adalah konsekuensi logis-alamiah belaka dari paradigma dan sistem pendidikan sekolah formal yang memberhalakan standardized tests, yang hanya melatih anak untuk mengerjakan soal-soal ujian.

Selama kurang lebih 15 tahun berkarir di dunia jurnalistik, yang saya rasakan di sekeliling saya adalah kegelapan masa depan bangsa Indonesia. Namun, pada tahun 2009, tiba-tiba saya diperkenalkan dengan sebuah ikhtiar yang membuat saya jatuh cinta pada pandangan pertama. Ikhtiar pendidikan itu diboyong dari Tallahasse, Florida, Amerika Serikat, pada tahun 1996 oleh Ibu drg. Wismiarti, seorang dokter gigi yang mendadak pensiun dari profesinya dan melepas kariernya di Pemerintah Provinsi DKI Jakarta karena terpesona dengan konsep itu.

Metode Sentra, demikian konsep itu kini dikenal, yang basis utamanya adalah model kurikulum Beyond Centers and Circle Time (BCCT), terasa sangat indah karena memuliakan anak, memfasilitasi kebutuhan tumbuh-kembangnya sebagai manusia yang utuh, dan sama sekali tidak punya masalah dengan “target” sumir kurikulum nasional. Model ini semakin terasa indah karena ramah-inklusif termasuk untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Tak kalah pentingnya, model ini secara substantif sangat Islami, tapi sekaligus juga membuat sangat nyaman sahabat-sahabat non-Muslim yang belajar menerapkannya sesuai dengan keyakinan masing-masing.

Saya mengajak teman-teman menilik barang sejenak, sambil bercengkerama, bertukar pikiran tentang masa depan Indonesia yang indah di page Komunitas Metode Sentra Indonesia http://www.facebook.com/metodesentra

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s