Hari Ibu dan Kegundahanku dalam Perjalanan Pulang

Setahun yang lalu kutemukan beberapa lembar tulisan tangan berisi kumpulan syair yang kubuat semasa kuliah. Kebanyakan berisi curahan hati seorang remaja yang sedang berjibaku berusaha mencari pijakan perjalanan di usia yang menurut para ahli dikelompokkan sebagai masa ketidakstabilan emosi. Aku membuat sampul untuk kumpulan syair itu dengan judul “Sajak-Sajak Sepi”.
Baca-baca lagi syair-syair itu membuatku tersenyum geli. Tapi, apakah masa itu (masa ketidakstabilan emosi) saat ini sudah terlewati buatku? Hmm… tidak terlalu aman juga sebetulnya untuk mengaku seperti itu. Sekurang-kurangnya, salah satu syair yang kutulis dan kuunggah dalam catatan facebook setahun lalu sampai kini masih sangat kuat mewakili perasaanku, mewakili kegundahan perjalanan pulang kembali kepada Allah swt. Semoga hasil investasi tabungan jariyah terus mengalir untuk Ibuku dan Bapakku. Ya Arhamarrahimin irhamna. Selamatkanlah kami semua dalam perjalanan ini, Ya Allah. Amin Allahumma Amin.

Ini adalah catatan yang kuunggah di Hari Ibu tahun lalu, 22 Desember 2013.
————–
Sejenak Mengenang Masa Lalu
December 22, 2013 at 6:58am

Hujan menyembunyikan matahari pagi 22 Desember 2013. Aku teringat pada kumpulan puisi-puisi yang kutulis semasa peralihan dari remaja ke dewasa. Sayang sekali, tidak ada satu pun puisi yang kutulis semasa SMA yang masih terpelihara. Tidak apa-apa. Tapi, yang kucari untuk hari ini ketemu. Puisi ini bertarikh 3 Desember 1986, beberapa bulan setelah aku lulus SMA dan memulai belajar hidup di rantau, jauh dari ibu dan bapakku. Usiaku hampir 18 tahun waktu menulis puisi ini di Malang, kota rantau pertamaku.

Kutemukan Diriku Terhempas

ibu…
kemarin lusa tangisku
adalah senyum kasih sayangmu
manakala aku masih alpa
dalam tidur kebimbangan
saat aku harus mengeja setiap rona
membaca diriku sendiri

ibu…
kemarin lusa aku menangis
karena uang sakuku habis
sedang tak kutemukan lagi engkau
di halaman sekolah
engkau telah menunggu lama
lama sekali kehadiranku di rumah
membawa bakti

ibu…
kemarin lusa aku menangis
karena tidak punya baju baru
untuk kupakai berdandan
agar aku bisa tersenyum menerima doamu

ibu…
kemarin lusa tangisku reda
karena engkau masih punya uang sisa belanja
dan aku menyesal telah membeli buah duka
karena serakah

ibu…
kemarin lusa tangisku reda
karena engkau masih punya sisa uang belanja
dan aku menyesal telah melupakan pesanmu
yang tersimpan di saku bajuku
karena bangga

ibu…
hari ini tangisku tak pernah reda
karena aku semakin berusia
dan entah kapan engkau harus menunggu
aku bisa melangkah di belakang jejak kasihmu
hari ini pula aku masih merangkak tertatih-tatih
mencari cahya lentera yang engkau nyalakan di pagi tadi
sedang malam keburu mengurung bayangku

ibu…
aku ingin sekali menerangi diriku sendiri
agar aku bisa memijakkan kakiku
di belakang jejak kasihmu
dan aku bisa tidur di malam yang tenang
bersama keralaanmu

ibu…
maafkanlah karena jiwaku yang rapuh dan lemah

ibu…
telah kutemukan diriku terhempas

(malang, 3 Desember ’86)

Rabbighfirli wa liwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghira. Sudah tiga tahun lebih Ibuku berpulang. Dan hari ini, puisi hidupku belum beranjak jauh dari puisi remajaku. Aku masih mencari jejak-jejak dalam peta yang dibuatkan Ibuku, sekolah pertamaku. Selamat Hari Ibu

Bogor, 22 Desember 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s