Belajar Sentra Balok dan Belajar Ibadah Shalat

Setiap kali ikut shalat berjamaah di Masjid Al-Barkah, sebuah masjid kecil dekat tempat tinggal kami, saya selalu terharu dengan ikut sertanya banyak anak usia dini sampai remaja. Ada yang bersama ayah mereka. Ada yang datang berombongan sebaya karena ayah mereka mungkin masih berada di tempat kerja. Penanaman kebiasaan baik yang, terus terang, tak mudah juga bagi saya sebagai orangtua, karena saya sendiri masih mengidap masalah keteladanan konsistensi.

Dalam keterharuan itu, tanpa sedikitpun mengecilkan arti ikhtiar penanaman kebiasaan baik yang selalu saya saksikan, ada sebersit kegundahan dalam hati saya. Mungkin ini juga hal yang lazim terjadi di tempat-tempat lain. Ketika imam sudah memimpin takbiratul ikhram, ada saja anak yang masih mengobrol. Atau di tengah pelaksanaan shalat, ada anak-anak kecil yang becanda sesama mereka. Sudah barang tentu, kehusyukan jamaah menjadi terganggu.

Sesekali, sebelum memulai shalat, imam atau anggota jamaah berinisiatif menasihati anak-anak agar tidak gaduh saat shalat. Terkadang nasihat disampaikan dengan nada yang tinggi. Ada pula anggota jamaah yang berusaha mengatur barisan anak-anak untuk meminimalkan potensi keinginan untuk bercanda. Dan, banyak lagi ikhtiar lain untuk membantu anak-anak itu agar bisa menjalankan ibadah dengan baik. Namun, ternyata tak mudah. Kegaduhan tidak hilang.

Sebagian isi hati saya tergoda untuk melompat langsung pada kesimpulan bahwa penanaman kedisiplinan anak-anak, termasuk dalam menjalankan ibadah, memang butuh waktu dan kesabaran orangtua atau orang dewasa yang mendampingi mereka. Namun, sebagian isi hati saya masygul, jangan-jangan ada sesuatu yang kurang tepat dalam cara kita sebagai orangtua menanamkan kedisiplinan itu. Soal keteladanan tertib beribadah, jelas para anggota jamaah di Masjid Al-Barkah tidak ada masalah. Bagaimana dengan di rumah dan di sekolah? Apakah di rumah pijakan yang didapat anak-anak dari orangtua tentang pentingnya ketertiban beribadah sudah kuat? Apakah hal yang sama juga didapat anak-anak dari guru mereka di sekolah?

Kedua pertanyaan itu perlu kita dalami lagi. Bagaimana semestinya menanamkan kedisiplinan dan ketertiban dalam shalat? Bagaimana prosesnya? Apakah dalam proses pembelajaran ibadah yang dijalani anak ada bagian yang menyangkut, misalnya, menata sikap diri, dan tidak terbatas pada rincian ritual dan hafalan bacaan-bacaan dalam shalat? Apakah pengajaran ibadah menyentuh serta memperhatikan aspek nalar-kebahasaan (sesuai tingkatan anak) tentang seluk beluk ibadah shalat? Atau, “pokoknya ini ibadah wajib, dan harus dikerjakan”?

Pertanyaan-pertanyaan itu tiba-tiba berkecamuk dalam pikiran saya setelah dua hari, Rabu dan Kamis lalu (15 dan 16 Januari 2015), saya diberi kesempatan oleh Ibu Fitri Maulina, Kepala Sekolah TKIT AN-Nahl, Gunungsindur, Bogor, untuk belajar. Karena ada urusan keluarga, Ibu Ari Wijayanti selaku pengasuh Sentra Balok berhalangan hadir, dan saya diminta menemani anak-anak bermain di Sentra Balok. Di TKIT AN-NAHL, Sentra Balok baru dibuka mulai semester genap 2014-2015, walaupun Metode Sentra sudah diterapkan sejak empat tahun silam. Selain Kepala Sekolah yang telah mengikuti pelatihan lengkap, seluruh guru TKIT AN-NAHL telah belajar Metode Sentra di Sekolah Batutis Al-Ilmi, Pekayon, Bekasi.

Lho, apa hubungan Sentra Balok dan Ibadah Shalat? Tidak apa-apa kalau ada yang bertanya begitu. Tapi, begitulah kejadiannya. Baiklah, saya lanjutkan dulu cerita tentang Sentra Balok di TKIT AN-NAHL.

Karena harus ada micro-teaching dulu buat para guru, Sentra Balok buat anak-anak baru dimulai pada pekan ketiga Januari. Dua hari itu saya berkesempatan menemani anak-anak Kelompok B, dan itu pengalaman pertama bagi mereka bermain di Sentra Balok. Saat sesi pijakan awal, setelah membahas Materi Tema Anatomi Laba-laba, saya sampaikan kepada anak-anak rangkaian prosedur kerja (bermain) di Sentra Balok. Pada grup hari pertama, anak-anak relatif tidak terlalu sulit mencerna pengertian prosedur kerja. Namun, pada grup hari kedua, ada dua anak yang mengalami kesulitan mencerna pengertian “Membangun di atas alas.”

Beberapa kali saya ingatkan tentang prosedur itu, dengan mengartikulasikannya secara jelas dalam nada datar, tetap saja ada beberapa keping balok disusun di luar alas. Saya menangkap, sepertinya kedua anak itu belum menangkap pengertiannya. Lalu, saya coba “tingkatkan” dosis affirmative statement dalam lima continuum itu dengan kalimat, “Pak Yanto melihat ada beberapa balok disusun di luar alas.” Kontan saja salah satu dari dua anak itu menyahut, “Ya, ya, aku mengerti.” Lalu, mereka berdua meneruskan pekerjaan dengan mulai memindahkan balok-balok dari luar alas.

Pengalaman itu menyadarkan saya kembali bahwa guru, juga orangtua, tak boleh berhenti belajar dari anak-anak. Belajar tentang apa hambatan belajar yang dialami anak. Belajar tentang apa kekurangan kita sebagai guru dan orangtua dan belajar memperbaikinya. Belajar tentang proses-proses yang dapat membantu memudahkan anak belajar. Belajar tentang banyak hal.

Di situlah relevansi yang saya temukan dengan soal kegelisahan di Masjid. Pengalaman menemani anak-anak bermain di Sentra Balok itu menggiring saya untuk introspeksi, betapa banyak kekurangan saya sebagai orangtua dalam membantu anak beribadah. Saya menyadari bahwa pembelajaran ibadah (khususnya shalat) yang dilalui anak-anak nyaris tak beranjak dari rincian ritual dan hafalan bacaan. Anak-anak tidak atau kurang mendapat kesempatan untuk mencerna pengertian, hakikat, tujuan dan manfaat shalat. Anak-anak kurang mendapat kesempatan untuk membangun pemahaman bahwa shalat yang mereka lakukan adalah momen keintiman konsultasi dengan Dzat Pengasih-Penyayang yang mencukupi segala kebutuhan hidup mereka.

Hanya dengan pengajaran ihwal kewajiban dan rincian ritual serta hafalan bacaan, bagaimana mungkin kita mengharapkan ketertiban dan kedisiplinan anak-anak dalam shalat? Bagaimana mungkin mengantarkan anak-anak kepada suatu sikap ibadah sebagai kebutuhan, tanpa menyentuh aspek nalar-kebahasaan mereka? Bagaimanapun ketertiban dan kedisiplinan adalah kualitas yang tumbuh seiring dan bertumpu pada pemahaman serta nalar. Jika tumpuan pemahaman dan nalar kuat, anak-anak bisa mencapai kualitas tertib dan disiplin, tanpa harus melalui tindakan penertiban dan pendisiplinan.

Semoga Allah mengampuni dosa-dosa saya, dosa-dosa ibu dan bapak saya, menyayangi mereka sebagaimana mereka menyayangi saya di waktu kecil. Semoga Allah memuliakan mereka dan semua guru saya. Amin ya Rabbal ‘alamin.20150114_104744

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s