Tambah Tugas Tambah Kesempatan Belajar (Pengalaman dengan APE Balok Unit di TKIT An-Nahl Gunungsindur Bogor)

Hampir dua tahun kami menunggu, alat permainan edukatif (APE) Balok Unit kini akhirnya tersedia di sekolah kami, TKIT An-Nahl di Perumahan Tamansari Bukit Damai, Desa Curug, Kecamatan Gunungsindur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Meskipun bahan bakunya melimpah di negeri sendiri, APE standar internasional ini sulit didapat oleh sekolah-sekolah Indonesia. Pembuatannya membutuhkan keahlian dan pengetahuan yang memadai, kendali mutu yang ketat dan tentu saja teknologi mesin yang memenuhi standar agar APE untuk jenis main pembangunan itu memberi manfaat yang semestinya.

Kami sempat tergoda juga untuk membeli sembarang balok unit yang tersedia banyak di pasar APE, supaya anak-anak TKIT An-Nahl segera merasakan main balok. Harganya pun sangat-sangat jauh lebih murah. Tapi, mentor kami Ibu Siska Y Massardi (Chief Trainer Metode Sentra dari Sekolah Batutis Al-Ilmi, Bekasi) tidak merekomendasikan. Sebab, balok-balok unit yang dibuat asal jadi tanpa memperhatikan standar presisinya bisa berdampak merugikan bagi pembelajaran anak. Maka, kami pun menebalkan kesabaran menunggu, dan alhamdulillah kesabaran kami terbayar.

Balok Unit atau Unit Block adalah APE yang didesain tokoh pendidikan Amerika Serikat Caroline Pratt pada dekade 1930-an. Desain itu tetap menjadi standar baku di sekolah-sekolah modern di dunia. Untuk mendapatkan gambaran tentang Main Balok, silakan pembaca membuka-buka kembali Majalah Media Media Panduan Sentra Vol 1 sampai 7, dan Buku Pendidikan Karakter dengan Metode Sentra.

Untuk mendapatkan gambaran teoretis tentang main pembangunan Balok Unit, pembaca bisa mencerna artikel yang ditulis oleh Laura Stannard, Charles H. Wolfgang, Ithel Jones dan Pamela Phleps berjudul “A Longitudinal Study of the Predictive Relations Among Construction Play and Mathematical Achievement”. (Stannard dan Phelps adalah duo ahli dan praktisi pendidikan anak usia dini dari Tallahassee, Florida, Amerika Serikat, yang sudah beberapa kali menjadi pembicara dalam konferensi di Indonesia). Artikel itu dimuat dalam jurnal Early Child Development and Care (vol. 167, 2001).

Saya berandai-andai, jika Mas Menteri Anies Baswedan membaca artikel itu, lalu datang ke Sekolah Batutis Al-Ilmi untuk melihat dan ikut bermain balok bersama anak-anak di sana, maka dia akan segera berkoordinasi dengan Menteri Kehutanan dan Menteri Perindustrian. Lalu, keluar kebijakan bersama untuk mengalokasikan kayu-kayu pinus atau kayu karet super untuk produksi APE Balok Unit berkualitas paling baik di dunia. Sehingga, kelak anak-anak Indonesia tidak stress karena dijejali soal-soal matematika asal comot dari dunia antah berantah. Anak-anak Indonesia menjadi manusia-manusia unggul dalam konteks logico-mathematical terms. Dan, seperti saya tulis pada artikel sebelumnya, main balok menyediakan kesempatan yang melimpah ruah bagi anak-anak untuk belajar tentang kedisiplinan, tanggungjawab, kerja sama dan banyak lagi.

Para peneliti di bidang main pembangunan (construction play), termasuk para penulis artikel yang saya sebutkan di atas, umumnya selalu merujuk pada pandangan Piaget (1967) yang membagi aktivitas pembelajaran anak menjadi dua, yaitu pembelajaran pengetahuan fisik (physical knowledge) dan logik-matematik (logico-mathematical knowledge). Pengetahuan fisik didapat anak dari aktivitas dengan benda-benda, yang antara lain membantu mereka melakukan generalisasi atas benda-benda yang mereka miliki atau ada di sekitar mereka. Pengetahuan logik-matematik yang dipelajari anak-anak meliputi konsep-konsep seperti klasifikasi, seriasi, hubungan-hubungan ruang dan waktu, bentuk, jumlah, dan lain-lain.

Nah, saat bermain balok, anak-anak mengonstruksi pengetahuan bukan hanya dari pengalaman fisiknya saja, tapi yang lebih penting, dari refleksi atas balok-balok yang disusunnya. (Sekali lagi, jangan menyebut anak belajar sambil bermain, karena anak memang benar-benar belajar serius melalui bermain). Dengan dasar penguatan seperti itu, maka kemahiran matematik anak di kemudian hari tidak tereduksi hanya pada kemahiran prosedural (procedural fluency), tapi menjangkau semua aspek pembelajaran matematik mereka, yakni pemahaman konseptual (conceptual understanding), penalaran adaptif (adaptive reasoning), procedural fluency dan disposisi produktif (productive disposition). (Artikel singkat tentang ini pernah saya tulis dengan judul Refleksi tentang Belajar Matematika).

Alhamdulillah, saya dan para guru TKIT An-Nahl mendapat tugas sekaligus kesempatan tambahan untuk terus belajar bersama anak-anak melalu Sentra Balok.

20150114_104633

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s