Brutalitas Verbal-Visual versus Kesantunan Berkelas di Media Sosial

Media sosial membawa banyak manfaat buat saya dalam belajar mengenali diri, membawa diri dan menempatkan diri. Sebagian manfaatnya, banyak keteladanan yang baik yang saya temukan dari pergaulan di media sosial. Tentu saja, tak terhitung manfaatnya dalam memerkaya pengetahuan dan wawasan. Tapi, dalam tadarus pribadi kali ini saya SEDANG berusaha memetik dan merumuskan hikmah yang terkait dengan relasi sosial.

Tak mudah. Sebab, selain keteladanan yang baik semacam kesantunan komunikasi berkelas, berlimpah juga contoh negatif yang membuat saya rentan terbawa arus brutalitas verbal-visual. Jika itu terjadi, jelas penyebabnya bukan kekuatan contoh negatif dari luar, melainkan keunggulan potensi brutalitas dalam diri saya sendiri, dan media sosial adalah cermin otentik kepribadian. Lalu, apakah valid jika saya berharap anak-anak yang tumbuh bersama saya tumbuh secara berbeda dari cermin otentik itu?

Yang berat sebetulnya bukan serbuan contoh negatif eksternal, tapi selera, sudut pandang dan mungkin kadar intelektual serta estetik sering membuat saya menikmati aneka brutalitas verbal dan visual di media sosial. Meninggalkan jejak suka, bahkan ikut tertawa-tawa. Saya belum bisa membayangkan bagaimana menjawab jika suatu saat nanti anak saya bertanya, “mengapa Bapak menyukai itu?” Belum terbayang juga apakah saat ditanya begitu suatu hari nanti saya masih menyukainya atau tidak. Maka, semakin tak terbayangkan bagaimana beratnya tantangan buat anak-anak saya.

Walau begitu, entah bagaimana menjustifikasinya, saya kok tidak siap menerima kenyataan yang sering membuat cemas banyak orang (terutama kalangan pendidik) bahwa perubahan iklim sosial dari generasi ke generasi selalu diiringi degradasi kualitas-kualitas kepribadian. Koridor permisifisme mengembang kian lebar dan perilaku yang tadinya tabu diterima menjadi hal yang biasa, wajar dan malah dielu-elukan sebagai kepantasan dengan zaman.

Saya belum tahu bagaimana cara menghindarkan diri dari keikutsertaan berkontribusi dalam arus degradasi itu selain belajar, mengamalkan hasil belajar dengan sekuat daya, berdoa dan berserah diri kepada Sang Pembimbing yang Maha Kuasa Maha Menyelamatkan. Semoga Allah swt melindungi dan menyelamatkan kita dan anak-anak kita. Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s