Untuk Siapakah Sesungguhnya Olimpiade Sains?

Beberapa hari belakangan ini banyak orang membicarakan tentang Olimpiade Sains Nasional (OSN) karena ada kasus di Semarang. Banyak orang menyangkan, bahkan ada yang memaki-maki, panitia Olimpiade Sains Nasional (OSN) Semarang karena “menjegal” anak Madrasah Ibtidaiyah maju ke tingkat provinsi, karena bukan dari kasta sekolah umum.

Terus terang, sampai hari ini saya belum menemukan jawaban yang menenteramkan atas pertanyaan untuk siapakah sesungguhnya perlombaan itu. Apakah perlombaan itu benar-benar bisa menjadi bekal kehidupan bagi anak-anak itu? Ataukah perlombaan itu sebenarnya lebih untuk kebanggaan orangtua, gengsi sekolah, atau untuk kredit prestasi pejabat? Saya hanya bisa membayangkan kerepotan murid-murid aduan itu dalam segala tetek bengek persiapan dan perjuangan merebut gelar juara.

Taruhlah dengan bekal sertifikat juara perlombaan itu, anak nanti bisa diterima di sekolah paling bona fide, terus menerus hingga perguruan tinggi paling bergengsi. Dan, dengan itu dia akan dengan mudah mendapatkan tempat kerja di kantor pemerintah atau perusahaan swasta. Tetap saja, ada harga yang cukup mahal yang harus dibayar oleh anak itu. Yaitu hilangnya kesempatan menjalani proses utuh pembelajaran untuk kehidupannya. Silakan, mungkin akan banyak orang menyodorkan hitung-hitungan faktual waktu untuk menunjukkan bahwa anak-anak aduan itu tetap bisa belajar normal di sekolah. Tapi, adakah yang sudi menggali bagaimana suara hati terdalam anak-anak aduan itu? Sesuatu yang merefleksikan kebutuhan spesifik kehidupan diri anak itu sebagai manusia utuh yang bukan terbatas sebagai petarung perlombaan? Bukan sebagai peserta kompetisi yang di dalamnya harus ada yang kalah dan menang? Sebab, anak-anak tidak hanya memerlukan kompetisi tapi juga belajar berkolaborasi.

Itu baru dari sudut pandang kepentingan anak yang meraih puncak kemenangan sebagai juara. Lalu, bagaimana dengan anak-anak yang tersingkir dari perebutan gengsi itu? Bahkan, bagi mayoritas anak di semua sekolah yang tak pernah masuk hitungan untuk duduk di deretan terdepan anak-anak istimewa yang unggul itu? Padahal, sekolah mereka telah terlanjur menjadi alat ukur kualitas seragam yang membuat anak selalu harus menatap ke deretan anak-anak unggul itu untuk mengukur dirinya sendiri, seraya berjuang sekuat tenaga untuk mendekati posisi teman-teman mereka yang unggul?

Pernahkan kita pikirkan bahwa dengan itu, kita semakin menerima sekolah lebih sebagai alat penyaringan dengan saringan yang sangat sempit. Hanya sangat sedikit anak yang berhasil, dan selebihnya adalah limbah pendidikan. Yah, ada juga sih hadiah hiburan untuk atlet bulutangkis paling jago, striker sepakbola yang paling lincah, penyanyi paling merdu suaranya, atau penari paling gemulai gerakannya. Tapi, tetap saja mereka harus diukur kualitasnya dengan penggaris yang sama, yaitu sains dan matematika. Dan, itu sebabnya sekolah belum bisa menjadi tempat belajar yang membahagiakan.

Tapi, dalam lubuk hati terdalam saya berdoa semoga semua peserta OSN adalah anak-anak yang hidup berbahagia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s