Meneladani Kesadaran Insaniyyah Nabi Musa AS

Allah swt menganugerahi Nabi Musa AS (‘alaihissalam) keutamaan ilmu. Allah swt juga menggenapkan kesadaran manusiawi Nabi Musa AS sebagai makhluk yang lemah melalui ujian dan bimbingan. Maka, ketika kaum Bani Isra’il bertanya, Nabi Musa AS menegakkan kesadaran itu dengan tatakrama makhluk yang lemah, “Aku berlindung kepada Allah dari (bahaya) kebodohan.” (Q.S. 2:67)

Belajar adalah tangga penyempurnaan terus-menerus manusia menuju keselamatan dalam pertemuan puncak dengan Allah swt, Pembimbing segenap alam semesta. Mendaki tangga itu tidak dengan sendirinya jaminan keselamatan. Tapi, keselamatan tidak mungkin tercapai tanpa pendakian tangga itu (Q.S. 2:214). Dalam pendakian itu, Allah swt menyediakan pedoman, sarana dan fasilitas bagi manusia agar terhindar dari marabahaya. Allah swt terus memanggil-manggil setiap jiwa agar terus mendaki dengan istiqamah dalam jalan syahadat, agar selalu membersihkan diri dengan shalat dan zakat, membersihkan diri dengan puasa, agar selalu bekerja keras dan menyembelih setiap berhala yang menutupi mata hati.

Setiap derajat yang dicapai manusia bukan hasil kepintaran dan kecerdasan manusia, melainkan karena kemurahan Allah swt pada pribadi yang waspada di tangga pembelajaran (Q.S. 58:11). Waspada dengan kelemahan diri, waspada pada setiap ancaman terhadap keselamatan diri, waspada dalam kesadaran insaniyyah Musa AS. Kewaspadaan membantu ikhtiar manusia, yakni melakukan usaha terbaik dengan kesabaran, berserah diri pada ketetapan Allah swt, dan senantiasa memohon ampun.

Taqwa dalam bahasa Arab memilik akar kata waqa-yaqi-wiqayah, yang mengandung makna memelihara, menjaga diri dari bahaya. Dalam pengertian syari’ah, seperti yang selalu ditaushiyahkan para khatib di mimbar khutbah Jumat adalah melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Dengan pengertian itu, maka taqwa meniscayakan kewajiban belajar tiada henti. Sebab, taqwa adalah proses tiada henti penyempurnaan jiwa melalui sarana-sarana pembersihan (Q.S. 91:8-9).

Dalam kehidupan nyata, pembelajaran dan penyempurnaan seharusnya termanifestasi dalam bentuk amal kebajikan yang berlandaskan iman, dan interaksi taushiyah (saling menasihati) dalam kebenaran dan kesabaran (Q.S. 103:3). Sehingga pendakian benar-benar mencapai keselamatan.

Maka, dalam kesadaran akan kemurahan kasih sayang Allah Ar-Rahman Ar-Rahim, dalam kesadaran akan kedha’ifan diri dan bahaya yang senantiasa mengancam keselamatannya, sungguh tak akan sempat seseorang berpikir untuk menista orang lain. Kesadaran akan kelemahan diri meringankan langkah orang untuk belajar, mencaritahu, dan saling bertaushiyah dalam kebenaran dan kesabaran, karena dalam dirinya ada kewaspadaan.

Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari kebodohan dan kesombongan diriku sendiri. Ampunilah aku. Amin ya Rabbal ‘alamin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s