Sebait Sajak Tentang Pulang

hari ini telah sebait sajak tentang pulang
matahari menerakan satu tanda baca pagi tadi
cahayanya melingkarkan cincin di jari manismu
lalu terus mendekatkan alamat kita

bogor, 23052015

20150523_074113

sajak persinggahan (rin)

maukah kau bisikkan lagi pada bukit
di bawah tudung fajar
yang sudah kita bingkai
apakah rindu masih sepasti muara
menyudahi garis-garis, lekukan-lekukan
… atau ini serupa lingkar gelombang pada tempayan
yang menapih setiap butir air hujan
menuangkan janji dan ikrar melimpah
sepanjang garis musim
mengalir menjadi sungai yang deras

kini, ketika doa-doa menjadi hiruk pikuk
derap langkah kita menjadi sepi
merambati jalan setapak
sejak dari alif-laam-miim
dan tanganku gemetar
melingkar di pinggangmu

kini, esok, dan selamanya
terus kupunguti setiap huruf
dari hara waktu di sampingmu
yang tiada henti menyuguhkan puisi

bekasi, 06112013

pulang bersama

gerimis turun di kaki bukit kapur
dahan-dahan kelampis berderak bergesek memetik sehelai senja
lalu membalurkan warna kuning pucat
pada sekujur tanah basah desa
rindu masih melilit rembulan
di tempat kita pernah berbincang
tentang pucuk-pucuk nyiur penjaga cita-cita purba
ombak bergulung-gulung membawakan kidung perantau yang terus gelisah
di belakang cakrawala
batu-batu karang mungkin telah lupa menagih janji
karena penantian perlahan menguap pada keriuhan angin
yang tak lagi menjejak ke garis-garis pematang sawah di dekat beranda rumah kita
sepi dan memudar
kalaulah esok hujan turun
mungkin masih bisa kugambar denahnya
lalu kita temukan jalan untuk pulang bersama

gontor, 03052013

pada sebait lagu
(Reff. 22 Mei)

jarak pandang pada sunyi serupa halimun
jarak langkah pada mimpi membelah sahara
semarak malam kota yang penuh peziarah sudah meredup
para penyanyi gypsi mulai mengemasi buku-buku puisi
kecuali sebait lagu yang membuatku ingin tetap tinggal
bersama alunan nada-nada ritmis oud
yang telah menjadi kenangan
kau dengarkah kota-kota tetap gelisah
menelikung setiap jengkal harapan?
sudilah kau menemaniku
saat ini aku hanya ingin duduk di bawah bulan
meredam desis-desis melodi yang meronta-ronta
aku ingin mengusap cermin dengan embun esok pagi
melipat selembar lagi malam
menjadi sebait lagi lagu

bogor,30052013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s