Menjadi Subyek Kemajuan Teknologi

Teknologi komunikasi-informasi, seperti teknologi-teknologi lain, hadir untuk “memanjakan” manusia. Setiap rekayasa teknologi bertujuan membawa peningkatan kemudahan pekerjaan manusia. Dulu perlu lima menit untuk menyalakan lampu petromaks, yang daya terangnya mengoreksi lampu teplok, kini cukup dengan sekali tekan tombol, lampu yang lebih terang menyala. Dulu perlu waktu sepekan menanti kabar keluarga via surat, kini orang bisa berbicara saling tatap via layar monitor dengan kerabat yang berada ribuan kilometer jauhnya.

Percepatan kemajuan teknologi informasi-komunikasi begitu dahsyat. Namun, jerat industri teknologi ini bagi penggunanya juga dahsyat. Salah satu bentuk jeratnya adalah ketagihan pada setiap pemutakhiran. Pengguna yang kecanduan rela memburu produk teknologi terbaru dengan harga berapapun. Konyolnya, pemburuan itu sering tidak lagi berangkat dari azas kebutuhan-kemudahan-manfaat, dan bahkan dalam banyak kasus justru membawa kerepotan. Produk teknologi dibeli bukan untuk meningkatkan nilai tambah (produktif), melainkan untuk dinikmati saja (konsumtif). Gadget model terbaru memiliki “harga baru” karena menyediakan fitur-fitur baru. Tapi sering, fitur-fitur baru yang menaikkan harga gadget itu tak memberi manfaat apa-apa karena si pembeli tak bisa menggunakannya, atau tidak relevan dengan kebutuhannya.

Dalam hal seperti itu, terasa sekali betapa pentingnya bekal hidup dasar (life-skill) yang sudah bisa –dan memang harus mulai– dipelajari sejak usia dini. Bekal hidup itu adalah kematangan sikap yang dibangun melalui pembiasaan-pembiasaan hal sederhana. Misalnya: gunakan air sesuai kebutuhan; makan secukupnya; matikan lampu bila tidak dibutuhkan; berusaha tidak melakukan hal-hal yang tidak perlu; dan seterusnya. Bekal hidup seperti itu tidak cukup hanya dipelajari pada tataran pengetahuan semata, tapi harus dibangun menjadi sikap hidup otomatis. Bila tidak, maka jerat semacam ketagihan pada pemutakhiran teknologi komunikasi dan informasi tak mungkin bisa dilawan. Bukan kemajuan, apalagi perbaikan hidup yang kita raih, kita malah menjadi obyek pelengkap penderita industri teknologi.

Itu hanya salah satu sisi dari banyak sisi yang perlu dicermati dalam arus deras kemajuan teknologi. Bila kita tidak cermat, banyak sisi lain efek teknologi bisa mendekonstruksi luhurnya pola dan tata kehidupan kemanusiaan kita. Ada seorang kawan bercerita. Saat BlackBerry mulai mewabah, dia dan adiknya asyik berkomunikasi chatting lewat alat canggih itu. Padahal, keduanya sedang berada di atas satu tempat tidur. Tanpa sadar, dua kakak-beradik itu menggantikan hubungan komunikasi sambung rasa personal yang indah dengan hubungan kering huruf-huruf tanpa ekspresi wajah. Mereka sekaligus membuang kesempatan melatih keterampilan berbahasa dan hubungan antarmanusia (silaturahim) yang dibutuhkan untuk meraih sukses.

Bagaimanapun kemajuan teknologi tetap mengusung manfaat dan kemaslahatan bagi umat manusia. Bayangkanlah situasi berikut ini: Semua penerbit buku tidak lagi mencetak buku pada kertas. Orang membaca buku di tablet, laptop atau PC dalam bentuk e-book yang bisa diunduh dengan membayar, misalnya Rp. 10.000, satu buku. Bila satu buku diunduh satu juta kali, maka penerbit mendapatkan pemasukan Rp. 10.000.000.000,- (Sepuluh Miliar Rupiah) dari satu buku.

Bila setiap tahun di negeri ini ada 1.000 buku yang terbit dengan rata-rata print run 3.000 eksemplar, berapa juta hektar hutan yang bisa dihemat dengan menerbitkan buku digital? Satu rim kertas HVS membutuhkan satu pohon yang berusia minimal lima tahun. Bila satu eksemplar buku dengan 100 halaman membutuhkan sepersepuluh rim kertas, maka setiap 10 buku menghabiskan 1 pohon. Artinya, setiap satu judul buku terbit seyogyanya ada 300 pohon pengganti yang tak boleh diganggu selama lima tahun kemudian. Kalau ada 1.000 judul buku, maka harus tersedia 300.000 pohon. Tapi, kalau satu buku butuh satu rim kertas, berarti tiga juta pohon hilang untuk satu judul buku. Faktanya, hutan kita terus berkurang rata-rata 47 hektare setiap tahun. Jadi, kebiasaan membaca e-book pantas ditanam sedari sekarang.

Lebih dari itu, dunia pendidikan kita membutuhkan rekonstruksi konsep dan model secara komprehensif, yang dapat membangun secara terpadu kedigdayaan sikap-sikap hidup utama kemanusiaan yang mulia, keunggulan kualitas akademik dan ketangguhan mentalitas cinta belajar sepanjang hayat. Tidak seharusnya pendidikan hanya menyiapkan generasi “yang dibutuhkan oleh” atau “memenuhi tuntutan” kemajuan teknologi, hanya generasi pekerja terbaik. Pendidikan harus membangun generasi yang mengendalikan arah kemajuan teknologi, generasi kreator, generasi yang menjadi subyek kemajuan teknologi.

Hanya dengan itu, setiap kemajuan teknologi yang diikhtiarkan selalu relevan dengan misi manusia untuk menjadikan bumi ini tempat tinggal yang lebih baik dan lebih baik. Sehingga, kita bisa mewariskan negeri ini kepada generasi yang mampu menjaga, mensyukuri dan melestarikan lingkungan hidup beserta segenap anugerah Allah swt di dalamnya dengan daya juang yang tinggi dan penuh cinta-kasih.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s