Hormat

[CATATAN: Tulisan ini dimuat dalam buku Pendidikan Karakter dengan Metode Sentra, Yudhistira dan Siska Massardi (2012). Dalam Metode Sentra, pembangunan sikap merupakan bagian integral dari proses pembelajaran. Sehingga, setiap kejadian yang terkait dengan interaksi antarmurid adalah subyek pembelajaran yang membutuhkan perhatian, pengawasan dan penanganan oleh guru, berdasarkan pedoman dan prinsip-prinsip pendidikan yang sehat dan bermakna.]

Suatu pagi, Fikri dan Sony terlibat perselisihan yang berubah menjadi baku pukul. Saat guru memergoki kejadian itu, Sony sudah menangis. Jarum jam menunjukkan pukul 09.15 WIB. Berarti, waktu bermain bebas selesai, dan kegiatan Sentra untuk kelas TK B Batutis Al-Ilmi, hari itu harus segera dimulai.

Tapi, guru memutuskan tidak langsung memulai Sentra, dengan pertimbangan bahwa Fikri dan Sony berhak mengikuti kegiatan Sentra tanpa beban masalah. Guru memberi kepercayaan kepada keduanya untuk menyelesaikan masalah mereka sendiri seraya mengingatkan, bahwa teman-teman yang lain menunggu mereka selama 10 menit. Rupanya, Fikri dan Sony berhasil memanfaatkan dengan baik toleransi waktu itu. Keduanya bersalaman, lalu belajar dan bermain bersama di Sentra dengan nyaman.

Nukilan kejadian di atas menampakkan indahnya proses anak belajar tentang suatu nilai yang kelak berguna buat diri mereka. Mereka belajar mencapai resolusi konflik dalam bentuk sederhana. Namun, niscaya akan tertanam kuat pada kedua anak itu bahwa aturan main diperlukan dalam hidup untuk membuat setiap orang merasa nyaman, termasuk dirinya. Membuat orang lain nyaman berarti menghargai dan menghormati hak-hak orang lain.

Semakin anak terlatih membuat orang lain nyaman, semakin banyak dia merasakan kenyamanan dari sikap orang lain kepadanya. Dengan itu, anak lebih mudah mencerna logika pentingnya tatakrama atau sopan santun dalam bergaul. Sebab, mereka merasakan kenyamanan kongkret dari sikap atau perbuatan yang membuat orang lain nyaman. Pada tingkat yang lebih tinggi, anak belajar merasakan bahwa menghormati orang lain pada hakikatnya menghormati diri sendiri. Sehingga, anak sesungguhnya belajar mencari rahmat yang dijanjikan Allah Swt kepada setiap orang beriman bila saling menjaga dan memelihara persaudaraan.

“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara. Maka, damaikanlah (hubungan) antara keduanya, dan bertakwalah kalian kepada Allah agar kalian mendapat rahmat. (Q.S. Al-Hujurat: 10).

Pengalaman Fikri dan Sony juga menunjukkan bahwa kepercayaan yang guru berikan menjadi sumber motivasi yang kuat bagi keduanya untuk menemukan kepuasan batin dalam menerima adanya hak-hak orang lain. Artinya, anak usia dini pun sesungguhnya memiliki bekal kemampuan yang patut dihormati dalam menyerap pengetahuan, pemahaman, dan kesimpulan yang berguna.

Seperti yang dilakukan guru TK Batutis Al-Ilmi saat itu, guru dapat memperkuat pemahaman yang dicapai anak hanya dengan menegaskan fakta-fakta saja. Kepada Fikri dikemukakan bahwa Sony menangis karena dia merasa tidak nyaman. Sebaliknya, kepada Sony dikatakan bahwa Fikri telah mengaku salah dan telah meminta maaf. Dan keduanya begitu puas. Sungguh cara yang indah menghormati anak agar mereka bisa memahami dan memaknai sikap hormat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s