Seberapa Besar Puasa Membekas dalam Kehidupan?

[Nukilan Khutbah Jumat]

Hari ini adalah Jumat terakhir di bulan Sya’ban. Isnya Allah semoga kita semua diberi kesempatan oleh Allah swt untuk menikmati kembali keberkahan dan kemuliaan bulan Ramadhan. Amin ya Rabbal ‘alamin. Di majelis yang mulia ini, perkenankan khatib mengajak jamaah untuk merenungkan serta mengukur diri seberapa pencapaian kita dan seberapa banyak kekurangan diri kita dalam menerapkan hasil pembelajaran di bulan Ramadhan yang lalu.

Karena itu, khatib yang dhaif ini membawakan khutbah dengan tema Puasa di Bulan Ramadhan sebagai Madrasah. Dengan kata lain, puasa di bulan Ramadhan adalah bulan penempaan diri kita agar menjadi semakin baik dan semakin baik, sehingga kita benar-benar mencapai derajat manusia yang bertaqwa. Amin ya Rabbal ‘alamin.

Sebagai madrasah atau program pendidikan pribadi, bulan Ramadhan menyediakan kurikulum yang sangat kaya. Seluruh aspek kehidupan kita dilatih dan diasah agar semakin berkualitas, yaitu aspek fisik, aspek psikologis, aspek sosial, dan yang paling penting aspek ruhiyah.

Mengapa aspek ruhiyah adalah aspek yang paling penting? Sebab, satu-satunya misi hidup kita, apapun peran kehidupan yang kita jalankan, adalah pulang kembali kepada Allah swt dalam keadaan suci diridhai. Dalam surat Asy-syams ( Q.S. 91: 6-10) Allah menunjukkan tujuan hidup kita melalui proses penyempurnaan jiwa. Wanafsin wama sawwaha. Fa alhamaha fujuraha wataqwaha. Qad aflaha man zakkaha wa qad khaba man dassaha. Demi jiwa dan penyempurnaannya. Maka aku ilhamkan keburukan dan ketaqwaan. Maka beruntunglah orang yang menyucikannya dan merugilah orang yang mengotorinya.

Sukseslah orang yang membersihkan jiwanya.

Sebagai refleksi atas pelaksanaan selama sebelas bulan dari hasil pembelajaran di bulan Ramadhan yang lalu, mari kita ukur diri, ukur pencapaian kita dalam aspek-aspek tersebut.

Pertama, mari kita ukur seberapa puasa (yang berarti menahan diri) membekas dalam kualitas fisik kita, dalam kualitas jasmani kita. Apakah tubuh kita semakin terjauh dari makanan-makanan yang haram, makanan-makanan yang bukan hak kita? Bahkan apakah tubuh kita terhindar dari makanan-makanan yang halal tetapi berlebihan? Allah swt mengingatkan, kulu wasyrabu wala tusyrifu, innallaha la yuhibbul musyrifin. Makan minum yang berlebihan sudah pasti mendatangkan penyakit. Makan minum yang berlebihan membuat jiwa kita tidak peka pada kebutuhan atau penderitaan sesama. Dan itu akan menjerumuskan kita. Na’udzu billah.

Kedua, mari kita ukur seberapa puasa membekas dalam kualitas psikologis kita. Apakah kita masih mengalami hambatan dalam bersikap secara bijaksana terhadap masalah-masalah yang kita hadapi? Apakah kita masih suka bermalas-malasan? Atau apakah daya juang kita semakin kokoh dalam mewujudkan kebaikan? Apakah kita semakin matang dan terbebas dari kekuasaan hawa nafsu dalam menentukan langkah-langkah kehidupan dan seterusnya. Apakah kita masih mudah marah? Rasulullah saw bersabda. Laisa asy-syadidu bisyur’ah, innama syadidu man yamliku nafsahu ‘indal ghodhobi. Orang yang kuat itu bukanlah orang yang hebat dalam berkelahi. Sesungguhnya orang yang kuat adalah orang yang sanggup menguasai hawa nafsunya saat marah.

Ketiga, mari kita ukur seberapa puasa membekas dalam kualitas pribadi kita sebagai makhluk sosial. Seberapa baik kepedulian sosial kita? Seberapa peka kita terhadap nasib saudara-saudara kita yang ditimpa kemalangan? Seberapa baik kita dalam bergaul di tengah masyarakat? Kita diperintahkan shalat secara berjamaah, maka kita juga diperintahkan untuk berjamaah, selalu ada dalam barisan perjuangan umat, dalam barisan membangun umat. Tidak sendiri-sendiri.

Keempat, mari kita ukur seberapa puasa membekas dalam kualitas ibadah kita dan keikhlasan kita dalam beribadah. Apakah kita semakin dekat dengan Al-Quran? Apakah kita masih dikuasai oleh kebutuhan dan hawa nafsu fisik kita? Apakah harta masih lebih kuat menguasai jiwa kita, atau sebaliknya jiwa kita yang semakin kokoh mengendalikan harta untuk kebutuhan jihad di jalan Allah dan seterusnya.

Jika kita mengukur secara teliti dengan semua ukuran-ukuran itu, maka niscaya kita akan merasakan betapa masih lemahnya diri kita. Betapa jiwa kita masih centang prenang. Betapa jiwa kita masih sering dikalahkan oleh dorongan hawa nafsu. Betapa jiwa masih sering menghamba pada kepentingan fisik semata. Betapa dalam sebelas bulan terakhir ini, kita belum bersungguh-sungguh menerapkan hasil pembelajaran kita pada bulan Ramadhan yang lalu. Sehingga kita selalu membutuhkan kehadiran bulan Ramadhan untuk memperbaiki diri.

Karena itu, marilah menudukkan hati dan kepala kita, beristighfar, memohon ampun atas segala keteledoran kita, atas kealpaan kita terhadap kesempatan yang diberikan Allah swt. Semoga kita benar-benar siap menyambut bulan Ramadhan yang mulia dengan niat yang sungguh-sungguh memperbaiki diri. Semoga Allah memasukkan kita semua dalam golongan orang-orang yang selamat, golongan orang-orang yang bertaqwa. Amin-amin ya Mujib assailin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s