Yudhistira ANM Massardi… He’s Back!

Tadi malam saya menjadi fans yang sangat beruntung. Menyaksikan pentas pembacaan sajak-sajak dan sekaligus peluncuran buku antologi puisi 99 Sajak Yudhistira ANM Massardi. Acara spesial di Galeri Indonesia Kaya, Mal Grand Indonesia, Jakarta Pusat itu benar-benar sajian keren, lengkap dan maknyus. Nanti, saya ceritakan agak detil. Tapi, saya mau bercerita tentang keberuntungan saya dulu.

Saya sengaja datang ke tempat pentas jauh sebelum acara, beberapa saat sebelum gladi resik yang dimulai sekitar tengah hari. Ini semacam upaya “penebusan dosa” karena saya sudah agak lama “membolos” belajar di Kampus Kehidupan Sekolah Batutis Al-Ilmi, sekolah gratis untuk kaum dhu’afa yang dikelola pasangan Yudhistira-Siska Massardi. Jadi, ini bukan semata-mata karena “ancaman” puteri beliau Matatiya Taya, yang sudah mengabulkan request saya agar di acara itu ia menyanyikan salah satu lagu favorit saya, “Kepada Angin dan Burung-burung”. Katanya, “Awas kalau Pak Yanto ga dateng.” Ngeri, ga, coba?

Begitu tiba, saya mendapat kejutan istimewa, karena sang Maestro menghadiahi tandatangan dan pesan indah yang sudah dituliskan di salah satu halaman depan buku itu. Oh, melambung rasanya hati ini. Bukunya keren abis, sajak-sajak keren dengan ilustrasi-ilustrasi keren dari Ramadhan Buqie, seniman perancang grafis dan perupa lulusan ITB.

Jadi, saya langsung saja pura-pura ikut sibuk membantu dengan memegang handycam. Padahal, jujur saya belum enthos mengoperasikannya. Setelah nanya-nanya tentang tombol ini tombol itu, saya tongkrongi kamera yang –mohon jangan ditertawakan, karena yang memasang kamera di tripod adalah Mbak Taya– yang sudah tegak di tribun paling atas itu. Saya coba mainkan tombol zoom-in zoom-out saat gladi resik, biar gambarnya bervariasi. Tapi, lagi-lagi mohon jangan ditertawakan, karena pada saat acara yang sesungguhnya, keterampilan ber-zoom-ria yang masih terbatas itu tidak saya gunakan sama sekali, karena saya benar-benar terpesona dari awal sampai akhir. Jadi, shooting acara itu benar-benar anteng, karena saya cuma memainkan tombol “rekam” dan “berhenti” saja. Ah, pengin malu, jadinya.

Saat sesi launcing buku, seluruh penonton mulai senyap, hanyut dibuai oleh cerita Sang Pengarang tentang proses kreatifnya, 99 sajak dalam tiga bulan! An unbelievable come-back. Dalam sepuluh tahun terakhir, Yudhistira “Arjuna Mencari Cinta” Massardi memang lebih menikmati dunia barunya, dunia pendidikan. Bersama sang isteri, Siska Massardi, ia mengelola sekolah Batutis Al-Ilmi di Pekayon Bekasi, yang sekaligus juga menjadi laboratorium pelatihan guru. Ya, pasangan suami-isteri itu gencar mengkampanyekan sebuah model pembelajaran modern, Metode Sentra. Puluhan sekolah dari berbagai daerah sudah mengirim guru untuk mengikuti pelatihan di Batutis.

Meskipun demikian, Yudhistira tidak benar-benar meninggalkan dunia sastra. Karena sekurang-kurangnya dua kali dalam setahun, ia selalu menulis sajak, yaitu di bulan Februari saat ulang tahunnya sendiri dan di bulan April saat ulang tahun sang isteri. Nah, tahun ini ada “pendatang baru” yang ikut ulang tahun. Mei tahun lalu, ia menjalani operasi jantung, dan 99 Sajak ini menjadi kado untuk “pendatang baru”-nya itu.

Yudhistira membuka pentas pembacaan sajak dengan “Sajak Sembilan Rasa”. Bagi yang pernah terksesima menikmati antologi puisi Rudi Jalak Gugat (1982) dan Sajak Sikat Gigi (1983), kerinduan akan citarasa jenaka dalam kritik-kritik sosial Yudhistira tentu segera terobati. Ya, berkali-kali, setelah membawa hanyut hadirin ke dalam kepiluan panjang, tiba-tiba dalam dua-tiga tekukan diksi, Yudhistira meledakkan tawa penonton. Meski begitu, bahkan dalam nuansa kemuakan yang paling tak tertahankan terhadap kondisi yang menjadi sasaran kritiknya, nada-nada kata tawadhu Yudhistira tetap tidak memekakan indera kesantunan. Begitulah, sajak-sajak yang tadi malam juga dibacakan oleh kembaran Yudhistira, Noorca Massardi, dan adik mereka, Adhie Massardi, terus mengayun antara kepiluan, kemuakan dan kejenakaan.

Lalu tibalah sesi yang menghadirkan kembali memori saya dalam periode akhir SD dan awal SMP. Saya tidak begitu mengenal penyanyinya waktu itu. Tapi, lagu berirama balada berjudul “Kepada Angin dan Burung-burung” kerap menemani saya saat bersiap-siap berangkat ke sekolah, karena sering diputar RRI Surabaya menjelang atau sesudah siaran berita pagi. Lagu itu terasa begitu berbeda dari banyak lagu-lagu artis pop yang biasa saya gandrungi masa itu. Di kemudian hari, di tahun 1993, waktu mulai bekerja sebagai wartawan, saya “berhasil” membeli kaset kumpulan lagu-lagu Franky & Jane, yang di dalamnya ada lagu itu. Kaset itu suka saya putar saat mengerjakan berita di kantor dengan tape recorder yang biasa saya pake untuk merekam wawancara. Eh, ternyata banyak teman-teman kator yang suka juga ikut mendengarkan.

Nah, bisa bayangkan, bagaimana perasaan saya ketika di tahun 2007 saat bertemu dan berkesempatan bekerja bersama sang pengarang syair lagu itu? Dan, pada malam pentas pembacaan “99 Sajak”, vokal lembut Taya dengan iringan gitaris keren Iga Massardi dan Gerald, akhirnya tuntas menenggelamkan saya dalam kenangan dan melupakan saya pada urusan zoom-in zoom-out kamera. Ditambah lagu “Perjalanan” yang menyayat kalbu itu, maka lengkap sudah keberuntungan saya sebagai fans.

Tapi, masih ada dua bonus yang luar biasa pada acara itu. Pertama, musikalisasi sajak yang dibawakan trio Iga, Tika, Gerald. Iga dan Tika pernah berkolaborasi dalam grup band Tika and the Dissident. Sedangkan Gerald adalah partner Iga dalam grup band Barasuara. Persekutuan olah vokal Tika yang begitu prima dengan kreasi efek gitar elektrik Iga-Gerald benar-benar lancar dan tepat sasaran dalam mengartikulasikan “Sembilan Sajak Sungai”.

Bonus keduanya adalah ketika duet aktris senior Renny Djayusman dan puterinya, Yuka, benar-benar mengaduk-aduk emosi penonton saat mereka bersahut-sahutan membawakan “Sajak Sembilan Bulan”. Sajak “Januari” sampai “September” itu seakan tumbuh di panggung menjadi sebuah drama yang bernyawa dengan puluhan, ratusan, atau bahkan ribuan pemain. Ada hakim yang membuat kumuh hukum, politisi licik dengan janji-janji dari mulut nan berbisa, aktor-aktor penggelapan sejarah, penjajah yang ada di mana-mana, dan tentu saja ada rakyat yang terus tenggelam dalam fatamorgana kemerdekaan.

Saya benar-benar kesulitan merangkum cerita tentang sajian tadi malam menjadi satu kalimat. Syukurlah, Tika, vokalis yang didaulat MC untuk menyampaikan pesan-kesan, agaknya cukup membantu saya dalam menemukan ungkapan yang efisien. Malam itu, menurut Tika, adalah persembahan keluarga Massardi yang pantas disebut “one-stop-shopping” family karena bakat-bakat yang tumbuh dalam keluarga itu begitu lengkap. Sastrawan, musikus, penyanyi, dan tentu saja penggiat pendidikan. Dan, asal tahu saja, keberhasilan penyelenggaraan event tadi malam tak lepas dari besutan tangan dingin seorang event organizer belia Kafka Dikara, putra bungsu Yudhistira-Siska Massardi yang masih berstatus mahasiswa.

Dan, saya beruntung berada di tempat dan waktu yang tepat sebagai penggemar syair-syair lagu dan sajak-sajak Yudhistira ANM Massardi. He’s back.

iga

Yudhis-Rainny

Renny-Yuka
NOTE: Mbak Rainny Massardi, mohon izin, ya, memasang foto-foto di tulisan ini.

Advertisements

2 thoughts on “Yudhistira ANM Massardi… He’s Back!

  1. Pingback: Renny Djajoesman Sujud « Yanto Musthofa

  2. Pingback: Cinta Mengurung Yudhistira “Arjuna” Massardi | Yanto Musthofa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s