(Hanya Cuplikan)

“Jadi, mau pilih bersenang-senang atau berbahagia?”
“Ah, perbandingan dalam pertanyaanmu itu bukan ‘apple to apple’.”
Biarin, aku lebih suka buah lokal Indonesia, terutama duku sama manggis.”
“Ok, walau sebetulnya ada juga apel lokal Malang… intinya, kamu tak bisa membandingkan mana lebih enak, duku atau manggis. Itu soal selera.”
“Terus, apa menurutmu pilihan bersenang-senang dan berbahagia itu bukan soal selera?”
“Itu dua hal yang tidak setingkat, tidak selevel.”
“Maksudmu?”
“Berbahagia adalah sikap, seperti juga menderita. Senang atau sedih adalah kepingan-kepingan pengalaman. Bahasa gaulnya, takdir.”
“Coba cermati baik-baik pertanyaan saya, ‘BER-senang-senang atau BER-bahagia’…. Jadi, itu soal sikap, soal selera.”
“Oo…. OK. Aku mengerti maksudmu. Berarti kita sependapat. Berbahagia itu sikap mengelola rasa senang, sedih, harapan, keyakinan….”
“…kesabaran, kerja keras, kepuasan, tantangan….”
“Ah, tapi kamu kelihatan lebih sering bersenang-senang?”
“ha-ha-ha-ha-ha…… itu takdir!”

Dia selalu datang setelah waktu makan siang. Aku yakin bukan karena dia senang dengan kopi seduhanku, yang kuaduk dengan putaran berlawanan arah jarum jam sebanyak 21 kali. Lalu kami seakan-akan dua sahabat yang sudah sangat lama kenal. Walau hanya dalam waktu tak sampai satu jam, obrolan-obrolan kami begitu padat. Pukulan kritiknya sering telak. Sering sambil terbahak-bahak menertawakanku, dia pamit pergi begitu saja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s