Yudhistira ANM Massardi…. He’s Back (2)

Terus terang saja, sependek pengalaman saya sebagai wartawan, membuat lapoan hasil liputan peristiwa budaya dan kesenian adalah bagian pengalaman yang paling minim saya rasakan. Bisa dihitung dengan jari tulisan saya di segmen ini sejak berkarier di dunia jurnalistik pada tahun 1993. Jadi, harap dimaklumi saja kekurangan-kekurangan dalam tulisan saya ini. Jangan tanya kenapa saya berani menulisnya, ya karena ini blog pribadi saya. Ampun, ampun, ampun.

Bukan berapologi, tapi faktanya ketika masa-masa emas kepengarangan Yudhistira ANM Massardi di dekade 70-an, saya benar-benar masih “piyik“. Saat cerpen Yudhistira mulai nongol di koran harian ibukota tahun 1970 (usianya baru 16 tahun), saya baru berumur satu tahun. Di usia 22 tahun, cerpen-cerpen Yudhisitra muncul setiap pekan di koran nasional.

Saat novel Arjuna Mencari Cinta dirilis tahun 1977, saya baru kelas 3 Madrasah Ibtidaiyah (SD). Mana tahu saya urusan cerpen dan novel. Saat lagu “Kepada Angin dan Burung-burung” sering mendayu-dayu dari siaran RRI Surabaya yang ditangkap radio transistor milik Bapak saya, saya belum lulus SD. Jelas saja, saya tak mungkin mengerti isi syair lagu itu, apalagi tahu siapa yang menulis syair lagu itu, walaupun saya benar-benar kesengsem dengan lagu itu.

Jadi, ada alibi periodikal buat saya kalau “resensi” atas pentas pembacaan 99 Sajak Yudhistira ANM Massardi ini kurang atau malah tidak bermutu. Yang penting buat saya, kalau pementasan itu diulang lagi, saya akan kejar, pokoknya harus nonton lagi. Walau Yudhistira Massardi yang usianya sudah berkepala enam mengaku staminanya tidak sesegar dulu, olah vokal dan power suaranya masih benar-benar prima, memukau, memilukan dan meledakkan tawa.

Banjir lagi?
Ya, ya, ya, banjir lagi
Cuma bandang yang ke luar batasan
Karena sungai menciut
Karena sampah ketinggalan truk
Karena rumah mengerami penduduk

….. (Sajak Sembilan Rasa, 2)

Pak Jokowi saja bisa jadi presiden
Masak kamu tidak bisa bahagia?
Meskipun masih agak norak, okelah dia
Jangan menilai orang dari sampul bukunya
Tak semua orang suka membaca buku!

….. (Sajak Sembilan Rasa, 6)

Usil? Ya, Yudhistira, memang begitu orangnya… eh, puisi-puisi Yudhistira memang begitu. Kumpulan puisinya Sajak Sikat Gigi ditetapkan dewan juri yang dibentuk Dewan Kesenian Jakarta sebagai satu dari empat buku puisi terbaik 1976-1977. Tiga lainnya adalah Amuk, karya Sutardji Calzoum Bachri; Meditasi, karya Abdul Hadi WM; dan Peta Perjalanan, karya Sitor Situmorang. Penobatan buku puisi Yudhistira itu tak ayal menuai kontroversi. Selain digugat “kekurang-setaraannya” dengan nama-nama besar itu, sajak-sajak Yudhistira melawan “arus utama” puisi liris yang dominan di masa itu.

Dan, sampai ke buku 99 Sajak-nya ini, Yudhistira terus membawa elemen-elemen jenaka, mbeling, getir dan… memilukan.

Adakah hakim yang adil
Ketika seorang nenek menggigil
Di kursi pesakitan, di ambang jeruji besi
Di antara taring iblis yang bengis?

…. (Sajak Sembilan Bulan, April)

Merdeka!!!

Itu adalah “kita”
Bukan “mereka”
Sampai kapan pun
Itu adalah “kita”
Bukan “mereka”!

Tapi mereka selalu ada
Di mana-mana
Tapi kita selau tak ada
Di mana-mana

Jadi, yang kita proklamirkan 70 tahun silam itu apa?
Kemerdekaan atau Kemerekaan?

…. (Sajak Sembilan Bulan, April)

buku 99 sajak

Semasa SMP, saya sangat menyukai acara “Berbisa”, kependekan dari “Berbincang Santai” talk-show di Radio Suzana Surabaya. Acara itu sebetulnya bincang-bincang penyiar dengan remaja pendengar yang sudah mendaftar terlebih dulu, dan memberi kesempatan untuk unjuk kebolehan seperti main gitar, bernyanyi, baca puisi dan sejenisnya. Layaknya kebanyakan anak desa pada itu, saya bisa membayangkan saja bisa ikut acara itu.

Nah, sesekali ada tamu istimewa, yakni artis dari Jakarta. Salah satu yang tak luput dari pantauan saya di acara itu adalah Franky & Jane, saat mempromosikan album “Siti Julaikha”. Terus terang, saat itu saya hanya menikmati estetika vokal dan musik country-nya saja. Lirik lagu itu hanya terasa sebagai nukilan eksotika desa dengan ladang-ladang tebu dan pabrik gula, dan kisah-kasih asmara sepasang buruh pabrik.

Bertahun-tahun kemudian, ketika membeli kaset kumpulan lagu Franky & Jane, sesudah lulus kuliah, saya baru bisa mencermati dan merasakan nada getir lagu itu. Maklum. Kegetiran lagu itu hanya terasa setelah sampai pada bagian akhir syairnya.

Ketika lahir anak pertama
Mereka sudah tidak bekerja
Pabrik gula kurangi tenaga kerja
Mesin-mesin telah tiba

….. (Siti Julaikha)

Nah, ada satu lagi lagu Franky & Jane yang syairnya sangat saya sukai, Seperti Mata Air Kehilangan Sungai. Lagu itu tidak pernah saya kenal sebelum membeli kaset tersebut sekitar tahun 1992. Tapi, kalau saya nyanyikan lagu itu di depan Bu Guru Siska Massardi, saya dipelototin, walaupun sang penulisnya tersenyum-senyum saja. Mungkin karena suara saya serak-serak menyebalkan.

Petani mencari kerja di kota
Orang kota mencari kekayaan di desa
Apa lagi-kah yang tersisa
Bagi Kau dan Aku

…….. (Seperti Mata Air Kehilangan Sungai)

Yang jelas, yang bukan sekadar tersisa, dan kini dipilih oleh Yudhistira-Siska Massardi, adalah ladang amal di dunia pendidikan, dunia yang penuh puisi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s