Dirgahayu Batutis, Kampus Universitas Kehidupan

Pada tahun 2007, saya lupa tanggal berapa dan bulan apa, saya mendapat kehormatan untuk menjadi pembicara dalam diskusi peluncuran buku di komunitas alumni ESQ di Jakarta Convention Center. Saya hanya ingat waktu itu bulan puasa. Yang pasti, saat itu adalah masa-masa awal persahabatan saya dengan (dan pembelajaran saya pada) sastrawan-wartawan senior Yudhistira ANM Massardi. Saya membantu beliau mengelola majalah komunitas Nebula.

Buku yang diluncurkan berjudul “Rumah Kisah: Selamat Datang di Garasi”. Buku itu ditulis Siska Yudhistira Massardi, isteri sang guru. Belum banyak saya ketahui tentang latar belakang sang penulis pada waktu itu. Saya hanya sesekali bertemu ketika di kantor majalah, karena istri bos tergolong ibu-ibu cantik dermawan yang suka membawakan makanan, dan kami para anak buah menjadi anak sholeh yang kebagian rejeki ikut menikmati makanannya.

Tanpa curiga apa-apa, saya terima saja buku itu sembari menjawab terimakasih ketika diminta menjadi pembicara. Buku saya masukkan ke dalam tas, dan saya pun melanjutkan pekerjaan sehari-hari di kantor. Buku baru mulai saya baca dini hari seusai makan sahur, sambil duduk santai di ruang tamu. Lalu, tiba-tiba saya memutuskan harus masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu. Sebab, jika saya teruskan membaca di ruang tamu, saya benar tak siap menjawab kalau anak-anak atau isteri saya bertanya mengapa ada hujan airmata di pipi saya. Buku itu saya “habiskan” menjelang berangkat ke kantor, setelah menguras airmata saya.

Buku itu sangat berkesan, iya, karena isinya mengaduk-aduk emosi dengan untaian kisah first hand experience, ditulis oleh pelakunya sendiri. Tapi terus terang, sampai usai acara diskusi peluncurannya, buku itu belum juga menembus kesadaran saya bahwa sang penulis buku sesungguhnya adalah seorang guru kehidupan, yang di kemudian hari banyak mengisi “perjalanan pulang” saya. Buku berisi kisah jatuh-bangun perjuangan Ibu Siska dan Pak Yudhis membangun sekolah gratis untuk kaum dhuafa di Pekayon, Bekasi. (Kalau penasaran tentang buku itu, saya tak mau cerita lebih panjang lagi. Tapi, saya masih ada stok beberapa, kalau mau beli.)

?????????????
Buku Rumah Kisah

Baru di tahun 2010, saya “berkenalan” lebih dekat dengan Ibu Siska. Ceritanya dimulai dari tawaran bos, setelah sama-sama berhenti dari majalah komunitas, untuk membantu menggarap penulisan buku tentang pendidikan. Saya memang menyukai isu pendidikan, tapi yang lebih membuat saya tertarik saat itu sebetulnya hanya karena saya menyukai pekerjaan yang berurusan dengan buku. Jadi, hayuuuk aja, tawaran itu saya samber dengan suka cita.

Rupanya, itulah titik awal saya “dijerumuskan” kembali ke dunia pendidikan, setelah selama belasan tahun berusaha “mengingkari” masa lalu saya sebagai lulusan Fakultas Tarbiyah (Pendidikan), dengan menjadi wartawan. Saya memang pernah mencicipi pekerjaan mengajar selama satu semester di tahun 2003, gara-gara seorang teman kuliah yang sudah menjadi dosen asli di almamater saya kwalahan dengan jumlah kelas yang harus diasuh. Maka, saya pun nyambi menjadi dosen jadi-jadian untuk matakuliah Bahasa Inggris. Tapi, hanya bertahan satu semester, dan saya angkat tangan, karena terasa cukup berat menyeiramakan kerja mengajar dengan kesibukan sebagai wartawan.

Nah, saat menggarap penulisan buku bersama bos itulah, saya merasa seperti sedang “dipermalukan” sebagai seorang lulusan Fakultas Tarbiyah. Kami mengerjakan proyek penulisan buku milik Sekolah Al-Falah, sebuah sekolah elite di Ciracas Jakarta Timur, terdiri dari empat buku tentang panduang pendidikan anak usia dini dengan model Sentra. Dikenal dengan nama BCCT (Beyond Centers and Circle Time), model ini sudah dieksperimenkan tak kurang dari 15 tahun di Sekolah Al-Falah, yang pertama kali mengimpor dari Tallahasse, Florida, Amerika Serikat.

Ketika mendapat kesempatan menjadi peserta pelatihan guru di Sekolah Al-Falah sebagai bagian dari tugas menggarap penulisan buku, saya merasakan BCCT (kami menyebutnya Metode Sentra) benar-benar mengaduk-aduk dan mendekonstruksi pemahaman saya tentang pendidikan. Ibu drg. Wismiarti Tamin, pemilik Sekolah Al-Falah dan Master Trainer Pendidikan Sentra, mengantarkan saya kepada cakrawala baru pendidikan yang humanis. Bukan hanya itu, sebagai ayah dari tiga orang anak, saya tersadarkan bahwa saya melakukan begitu banyak kesalahan dalam mengantarkan perjalanan hidup anak-anak saya pada periode paling krusial, yaitu periode usia dini. Singkat cerita, saya benar-benar jatuh cinta dengan Metode Sentra.

Rupanya, Ibu Siska telah mengkloning model Sekolah Al-Falah sejak tahun 2006, atau satu tahun setelah berdiri pada 5 September 2005. Maka, setelah penulisan buku Sekolah Al-Falah, “kisah cinta” saya dengan Metode Sentra pun berlanjut di Batutis, yang pada tahun 2010 mulai menerbitkan Media TK Sentra (Media Panduan Sentra). Kecintaan saya kepada Metode Sentra kemudian saya tularkan kepada para guru TKIT An-Nahl di Bogor. Kami pengurus Yayasan Insan Nahlah Semesta dan pimpinan TKIT sepakat mengirim secara bertahap guru-guru untuk mengikuti pelatihan di Sekolah Batutis Al-Ilmi. Alhamdulillah enam guru kami di TKIT An-Nahl sudah ikut pelatihan dan sejak tahun 2011, sudah melaksanakan secara penuh Metode Sentra.

Ibu Siska lalu menawarkan kepada saya untuk magang mengajar di Batutis sebagai bekal untuk menulis buku-buku yang terkait dengan Metode Sentra. Maka, selama setahun (2011-2012) saya pun menjadi guru Bahasa Indonesia kelas III dan IV SD Batutis. Walaupun hanya dua hari dalam seminggu, tugas itu benar-benar membuat saya tidak bisa berleha-leha. Tugas itu lebih tepat disebut sebagai belajar ketimbang mengajar. Pun, para guru di Batutis sudah sangat menjiwai motto yang dimaklumkan sejak pertama kali mereka bergabung bahwa setiap hari ketika berangkat dari rumah menuju sekolah, pertanyaan yang dibawa adalah “Belajar apa saya hari ini dari anak-anak?”

Mengapa begitu? Guru Batutis tidak direkrut untuk sekadar menuangkan pengetahuan ke kepala anak-anak, dan memastikan target-target pembelajaran tercapai sehingga mereka mampu menjawab soal-soal ujian. Tidak, bukan hanya itu. Selain memastikan diri siap dengan bekal pengetahuan untuk proses pembelajaran, setiap hari setiap guru Batutis dituntut untuk membaca, mengamati, mencatat dan membuat laporan jengkal demi jengkal perkembangan setiap anak pada setiap aspek pertumbuhannya. Psikologis (emosional-intelektual), sosial, fisik, guru Batutis harus peka terhadap apa saja yang melingkupi proses pembelajaran setiap anak.

Ketika muncul gejala yang menghambat pembelajaran atau perilaku yang tidak selaras dengan perkembangan alamiahnya, guru harus menggali penyebabnya dan merumuskan langkah-langkah solusinya. Itu sebabnya, setelah jam belajar selesai pada sekitar pukul satu siang, semua guru berkumpul untuk menyampaikan laporan, dan membahas persiapan untuk pembelajaran esok harinya. Itu sebabnya, saya merasa mengajar mahasiswa lebih sederhana ketimbang menjadi guru Batutis. Tidak percaya? Silakan mencoba.

Menjadi guru Batutis, walau hanya satu tahun, saya merasa seperti sedang kuliah, ya, kuliah di sebuah universitas kehidupan. Saya ditempa untuk sabar menjalankan dan merasakan bagaimana SOP Metode Sentra bekerja, membantu anak-anak tumbuh menjadi manusia yang bermartabat. Airmata meleleh ketika suatu hari saya datang kembali ke kelas SD Batutis, saat sudah tidak mengajar lagi. Saya menyaksikan dengan mata kepala sendiri, seorang anak berkebutuhan khusus (ADHD) yang beberapa tahun sebelumnya sering tantrum, terlihat begitu tenang dan berwibawa. Ibu Siska bercerita anak itu alhamdulillah praktis sudah tidak pernah mengalami tantrum lagi. Di lain kesempatan, saat Batutis Fair, anak-anak yang pernah membuat saya kelelahan saat harus melakukan intervensi fisik melerai perkelahian, memandu saya seraya menjelaskan hasil karya mereka dan adik-adik kelas mereka yang sedang dipamerkan. Subhanallah. Mereka semua begitu indah.

Dirgahayu Batutis Al-Ilmi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s