Jangan Sempitkan Makna Belajar

Apa yang Anda bayangkan bila mendengar kata “belajar”? Anak duduk di kursi menghadap meja sambil membaca buku atau menulis? Anak duduk di bangku, mendengarkan guru berceramah di depan kelas? Anak berlatih mengerjakan soal-soal ujian akhir sekolah? Hanya itu? Jika ya, maka rumus alami yang menuntun persepsi itu adalah, rajin belajar, pandai mengerjakan soal ujian, mendapat nilai bagus di rapor dan ijazah, lulus sekolah, lalu menjadi buruh pabrik, pegawai swasta, atau pegawai negeri. Peserta ujian terbaik (Best test takers) akan menjadi pegawai yang baik.

Jika kita memandang bahwa anak yang sedang bermain “mamah-mamahan” adalah belajar, atau bahkan bayi yang menggenggam dan merasakan tekstur jari ibunya adalah belajar, maka kita berpeluang memiliki alternatif tak terbatas dalam membantu anak membangun bekal hidup. Bukan hanya bekal menjadi pegawai yang baik, tapi bekal menjadi manusia yang kamil dengan pilihan-pilihan masa depan yang sangat kaya.

Karena itu, yang kita lakukan tidak lagi memilah-milah mana akitivitas anak yang tergolong “bermain” dan mana yang tergolong “belajar”. Yang kita lakukan adalah membantu Anak agar kegiatan sehari-harinya terstruktur dan bermakna dalam membangun bekal hidup (life skills). Kita tidak lagi mengritik atau menegur anak-anak, “kok, bermain melulu, kapan belajarnya?” Tapi, kita membantu anak-anak terampil mengatur waktu dan kegiatannya, menjaga harga diri dan martabatnya dalam melalui proses pembelajaran dengan bahagia.

Harus diakui bahwa sekolah sebagai hasil kemajuan peradaban turut membantu tumbuhnya persepsi yang menyempitkan pengertian belajar. Belajar hanya dipahami secara terbatas pada bentuk-bentuk kegiatan yang terkait dengan konteks program sekolah. Lebih parah lagi, program sekolah yang cenderung memberlakukan kompetisi dengan standar pengukuran terbatas, tidak mengakomodasi kebutuhan tumbuhnya keunikan individu. Pada jurusan IPA di SMA, setiap anak harus siap diukur kualitasnya dengan soal-soal ujian Matematika, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, plus mata pelajaran karakteristik jurusan Fisika, Kimia, Biologi. Di Jurusan IPS, alat ukurnya adalah ketangkasan menjawab soal-soal ujian Matematika, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, plus mata pelajaran karakteristik jurusan Ekonomi, Geografi dan Sosiologi.

Cetakannya seragam. Apa akibatnya? Demi prestasi akademis yang telah direduksi menjadi kemampuan menjawab soal-soal ujian, seluruh sumberdaya anak, orangtua, guru dan sekolah, dihabiskan untuk mencapai angka-angka rapor dan ijazah yang istimewa. Kalau anak memiliki keunggulan atau kemahiran bermusik, main sepakbola, menulis cerita pendek, bermain drama, berbisnis dan lain-lain, maka cukup lakukan itu semua sebagai hobi jika ada waktu tersisa di luar program sekolah plus rentetan try-out bertubi-tubi sebelum Ujian Akhir Nasional. Jelas?

Jadi, harus bagaimana, dong? Kalau saya pribadi sudah tidak terlalu cemas dengan urusan “prestasi akademis” sekolah. Jadi, sebaiknya tidak bertanya kepada saya, jika Anda masih sibuk memikirkan tentang “prestasi akademis” sekolah seperti yang digambarkan di atas. Tapi, jika ada yang bertanya tentang sekolah yang tidak melulu berkutat dengan urusan “prestasi akademis” yang serba terbatas itu, maka saya menyarankan kalau ada waktu, silakan bertamasya ke Sekolah Batutis Al-Ilmi, di Pekayon, Bekasi. Di sana anak-anak setiap hari bahagia belajar, membangun bekal hidup secara sistematis dan terstruktur. Penerapan pembelajaran dengan Metode Sentra memungkinkan itu.

Jika beruntung menangkap esensinya setelah bertamasya ke Batutis, maka Anda akan menghargai setiap kesempatan berada bersama anak sebagai kesempatan membantu anak belajar. Entah itu saat membuat kue, memasak sup di dapur, berkebun, rekreasi, berkunjung ke rumah saudara, bahkan mandi, makan, dan beberes rumah. Semua adalah kesempatan pembelajaran (teachable moments). Tapi, semua terserah Anda.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s