Kisah Ibrahim (Renungan Idul Adha)

[Tulisan ini saya tulis hampir dua tahun lalu dalam Note di Facebook tanggal 19 Oktober 2013, dengan judul yang sama: Kisah Ibrahim (Renungan Idul Adha). Buat pengingat diri dan sekaligus untuk pengarsipan, saya upload di blog. Syukur-syukur kalau ada teman yang sudi berbagi pandangan dan pengetahuan untuk memerkaya pembelajaran saya.]

Mungkinkah ada manusia ahli sejarah di penggalan masa sekian ribu tahun yang lalu, yang dapat menukilkan secara meyakinkan kisah hebat seorang manusia hebat bernama Ibrahim (Abraham)? Bagi umat agama-agama “Abrahamic”, kisah-kisah itu final sebagai wahyu Tuhan. Apa yang muncul kemudian sebagai Genealogy (Silsilah) dari Abraham sampai Yesus, atau dari Ibrahim sampai Muhammad, lebih merupakan telaah atas teks biblikal, atau umat Islam mengenalnya sebagai sumber-sumber kisah Israiliyat.

Sejarawan Inggris Simon Sebag Montefiore dalam bukunya, Jerusalem: The Biography, berusaha menyuguhkan “sejarah” Kota Tiga Agama itu mulai dari riwayat David (Dawud), hanya sekitar 1.000 tahun sebelum masa Jesus (Isa). Tak sampai ke Musa (Moses), apalagi Abraham (Ibrahim), yang jaraknya sekitar 2.000 tahun sebelum Jesus. Lagi-lagi, seperti yang tergambar dalam catatan-catatan kakinya, Montefiore menyuguhkan “sejarah” David dengan sumber teks biblikal.

Dalam satu penggalan masa sekitar 600-an tahun setelah Jesus (Isa), nun di Jazirah Arab, Muhammad saw menceritakan kembali kisah tentang Ibrahim. Buku Montefiore memang bukan tentang Abraham atau Ibrahim, jadi maklum, bila dia pun tidak tertarik untuk menelisik siapakah gerangan guru sejarah yang mengajarkan kisah itu kepada Muhammad saw. Cuma, dalam buku sejarahnya itu, Montefiore dengan takjub mengisahkan bagaimana sekelompok tentara udik dari Jazirah Arab memperdaya militer adidaya Romawi. Jadi, “sejarah” Muhammad dalam suguhan Montefiore hanya berada dalam konteks riwayat Yerusalem, riwayat kota tiga agama yang menisbatkan diri pada Ibrahim.

Spiritualitas Ibrahim yang agung mengalir dan meresap ke dalam Yerusalem, yang tragisnya, menjelma menjadi pusaran konflik terpanjang dalam sejarah umat manusia. Konflik turun-temurun atas nama kehormatan dan harga diri “celestial” itu justru semakin menggamblangkan proporsi Yerusalem yang “terrestrial”, Yerusalem yang membumi, Yerusalem yang historikal, dan Yerusalem yang profan. Yerusalem tidak akan pernah sepadan dengan sumber spiritualitasnya, kisah Ibrahim, yang terekam keotentikannya dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur’an. Kisah Ibrahim jelas melampaui domain sejarah.

Di tengah padang tandus, Ibrahim bersama keluarga dan keturunannya mengajarkan jalan penempaan diri menjadi manusia-manusia unggul: selalu dekat dengan rumah Allah yang suci, menegakkan shalat dalam kehidupan, membawa manfaat bagi manusia dengan kerja keras, dan memandang rizki sebagai skenario terbaik dari Sang Pemilik Kehidupan. “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (Q.S. 14:37)

Jalan Tauhid itu tidak akan pernah menjadi lebih mudah. Jalan itu terus menanjak dengan beban nafsu materialistis yang semakin berat. Karena itu, manusia membutuhkan pengingat akan nubuwat Ibrahim sekurang-kurangnya lima kali dalam sehari di bagian akhir shalat, sebelum menebarkan salam dan menderapkan langkah untuk bekerja dan berkarya. Selain itu, puncak nubuwat Ibrahim didaraskan kepada manusia secara gegap gempita setahun sekali melalui syari’at haji dan Idul Adha.

Tanpa pengingat itu, manusia akan menempuh jalan terbalik, selalu langsung memulai dengan perhitungan rizki material yang disangkanya prestasi. Langkahnya digerakkan oleh pertanyaan “wani piro?” Hanya memilih dan melakukan pekerjaan atau perbuatan yang langsung berkaitan dengan ukuran material. Mereduksi hubungan kemanusiaan dengan ukuran material. Memilih sekolah buat anak dengan bayangan masa depan material, dan seterusnya. Seakan-akan yang material itulah yang pasti, yang tidak nisbi. Begitu samarnya kenisbian yang material itu, bahkan manusia berani menggadaikan hartanya yang paling berharga: martabat dan harga diri.

Kisah Ibrahim adalah spasi, ruang yang memungkinkan manusia bisa berteduh dalam perjalanan jauh dengan segala bekal yang dianugerahkan Allah swt. Spasi itu bukan tanda baca titik yang menghentikan pengembaraan. Spasi itu adalah ketenteraman yang membawa manusia melalui kegelisahan demi kegelisahan. Spasi itu membawa manusia melewati kelelahan demi kelelahan. Spasi itu kepastian jalan manusia untuk pulang kepada-Nya.

Allaahumma shalli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad, kamaa shallaita ‘alaa Ibraahiim wa ‘alaa aali Ibraahiim.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s