Facebook dan Salah Didik Sejak TK

Bagi orang yang berkhikmad mencari sekaligus berbagi manfaat dan maslahat, jejaring media sosial sejenis Facebook adalah berkah. Tapi, Facebook juga bisa dengan mudah menjadi etalase sampah yang mempertontonkan aib penggunanya. Betapa tidak? Hanya dengan pemahaman logika sederhana, orang bisa geleng-geleng kepala melihat kecerobohan pengguna lain Facebook. Sering kecerobohan itu begitu parah dan berakibat fatal, sehingga orang yang melihatnya hanya bisa masygul, “kok bisa begitu, ya?”

Ada yang bertengkar dan saling menista sesama pengguna Facebook, seakan-akan tidak menyadari sedang melakukannya di tempat umum dan ditonton banyak orang. Ada yang bertindak sebagai story-teller masalah rumah tangganya sendiri. Ada yang lincah mengetik makian kepada orang lain. Ada yang hanyut dalam penyeberan berita dan gambar palsu (hoax) hanya karena isinya sesuai dengan pilihan politik, ideologi, mazhab, golongan, atau kelompoknya. Bahkan, ada yang terjerat kasus pidana karena apa yang dibuat atau disebarkannya ternyata fitnah.

Bagaimana itu bisa terjadi?

Patut diduga penyebabnya adalah kekosongan yang tak terisi dalam periode paling krusial pendidikan, yaitu pendidikan usia dini (usia 0 sampai 7 tahun). Banyak orang menyepelekan pendidikan usia dini dengan menempatkannya hanya sebagai persiapan atau pemanasan memasuki pendidikan usia sekolah. Akibatnya, pendidikan usia dini sering direduksi hanya untuk mengantarkan anak bisa baca-tulis-hitung (calistung). Padahal, pendidikan anak usia dini adalah pembangunan pondasi bekal kehidupan.

Sekadar gambaran tentang kekosongan yang tak terisi itu, coba cerna tulisan esais Amerika Serikat Robert Fulghum yang berjudul All I Really Need To Know I Learn in Kindergarten (Yang Benar-Benar Perlu Saya Ketahui Saya Pelajari Semasa Taman Kanak-Kanak). Judul itu sekaligus menjadi judul buku kumpulan esainya (Fulghum, 1989). Fulghum menyebutkan daftar pengetahuan dan pemahaman dasar yang seharusnya sudah dicapai oleh anak yang lulus TK. Daftarnya bisa saja diperpanjang sendiri oleh pembaca, tapi intinya, Fulghum ingin menunjukkan bahwa ada bekal-bekal dasar kehidupa (tentu saja bukan hanya kemampuan calistung), yang sudah bisa dan harus dicapai anak setelah lepas dari periode usia dini.

Mari intip sebagian daftar Fulghum:

  • Berbagi
  • Main dengan jujur, sesuai aturan (Play fair)
  • Jangan pukul orang
  • Kembalikan benda di tempat kamu menemukannya
  • Bereskan kekacauan yang kamu akibatkan
  • Jangan ambil barang yang bukan milikmu
  • dst….

Saya ingin mengambil satu poin saja dari daftar itu untuk tulisan ini, yaitu poin ke-5, karena mudah melihat relevansinya. Bereskan kekacauan yang kamu akibatkan. Pelajaran ini begitu mendasar, mengandung makna bertanggungjawab atas apa yang diperbuat. Karena setiap orang akan dimintai pertanggungjawaban atas semua yang dikerjakannya dalam hidup ini, maka makna lain dari pelajaran itu adalah berhati-hati dalam melakukan setiap pekerjaan. Berhati-hati artinya meniscayakan keharusan lain, yaitu belajar, belajar, belajar dan belajar, serta sabar, sabar, sabar dan sabar.

Kalau pembaca ada kesempatan, ada baiknya menengok Sekolah Batutis Al-Ilmi di Pekayon Bekasi bagaimana pelajaran itu diajarkan tidak dengan ceramah guru, tapi dialirkan melalui aktivitas nyata. (Di TKIT An-Nahl dekat rumah saya, yang juga menggunakan Metode Sentra, juga diterapkan). Setiap hari anak-anak “bekerja” di Sentra-Sentra dengan prosedur kerja baku yang salah satu kegiatannya adalah beres-beres, yaitu membereskan dan menata mainan setelah selesai bermain, dan menempatkannya ke tempatnya semula.

Dalam Metode Sentra juga ada yang namanya Sentra Bahan Alam. Nama Sentra ini sebetulnya pengindonesiaan (bukan terjemahan) dari Messy Play Center. Kalau diterjemahkan secara harfiah, Sentra Main Berantakan. Memang di Sentra ini, anak-anak diberi kesempatan bereksplorasi melalui bermain dengan berbagai macam benda dan bahan. Ada finger painting, ada ublek, ada melukis, dan yang paling seru bagi anak-anak tentunya adalah MAIN AIR. Ya, main air dengan “kebebasan” yang bisa membuat sekujur tubuh dan pakaian anak-anak basah kuyup.

Tapi, “kebebasan” itu adalah poin penting untuk mengajarkan kepada anak tentang tanggungjawab dan konsekuensi. Pada usia yang lebih dini, seperti toddler, PG, sampai TK-A, orangtua dianjurkan membekali anak dengan pakaian ganti. Tapi, anak TK-B rata-rata sudah tidak membutuhkan lagi pakaian ganti. Kenapa? Karena anak-anak sudah tahu, kalau mereka terlalu asyik dan berlebihan bermain air, konsekuensinya mereka tidak berkesempatan bermain di segmen “main kering” yang menarik. Jadi, tanggungjawab, konsekuensi, sikap hati-hati, kontrol diri, tidak ditanamkan dengan instruksi, tapi dialirkan dengan penyadaran melalui pengalaman-pengalaman konkret.

Nah, kembali lagi ke soal kecerobohan di Facebook. Para pelakunya itu sangat mungkin cerdas dalam terminologi prestasi sekolah, meraih nilai istimewa di rapor, ijazah atau NEM, karena mereka ditempa dengan rentetan latihan-latihan mengerjakan soal ujian, LKS, bimbingan belajar paling top dan teror try-out yang bertubi-tubi. Tapi, kecerobohan itu jelas sekali merupakan pertanda adanya kekosongan yang tak terisi dalam periode paling krusialnya.

Pekerjaan besar buat Mas Menteri Anies Baswedan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s