Sekali Lagi Tentang Salah Didik Sejak TK

Mungkin ada yang masih penasaran mengapa belum lama ini saya menulis artikel tentang salah didik sejak TK. Apakah itu berarti bahwa kesalahan pembelajaran sejak TK memiliki efek permanen sampai dewasa? Benar. Secara saintifik, telah banyak studi yang menunjukkan bahwa pola asupan pembelajaran pada periode krusial, the golden age, usia dini (0 sampai 7 tahun), menjadi “predictor” yang kredibel kapasitas anak di kemudian hari saat usia dewasa. Sehingga, kekosongan-kekosongan tahap perkembangan yang tak terisi pada periode itu akan membawa kelemahan sampai dewasa, entah itu dalam daya nalar atau kemampuan berpikir logis, kedisiplinan, relasi sosial dan sebagainya.

Mungkin ada pula yang ingin berargumentasi bahwa banyak orang tidak “bersekolah” di TK, tapi tidak punya masalah kepribadian, tuh? Prestasi akademis juga bagus sampai perguruan tinggi. Benarkah begitu?

Mari kita coba cermati fakta yang sulit dibantah bahwa ada problema massal kedisiplinan di bangsa kita. Di banyak lapangan yang dijadikan tempat shalat Idul Adha, misalnya, sampah koran berserakan setelah usai ibadah. Seorang teman bercerita tentang hobi menjadi relawan di hari Minggu memunguti sampah yang ditinggalkan “massa olahragawan” di kawasan Stadion Utama Senayan.

Di jalan-jalan raya, pengendara motor atau mobil berlomba-lomba “menjadi juara” di pagi hari saat berangkat seakan-akan paling dibutuhkan di tempat kerja masing-masing. (Jangan-jangan karena sejak kecil dipacu untuk menjadi ranking satu di sekolah). Pernah saya menghadiri satu seminar, pesertanya sekitar 300 guru. Ya, guru. Setelah sesi makan siang, kotak-kotak nasi keleleran begitu saja di bawah kursi-kursi.

Baiklah, pasti banyak orang yang tidak pernah merasakan “bersekolah” di TK, tapi tidak mengidap atau terlibat kekonyolan-kekonyolan mental seperti digambarkan di atas. Namun, perlu ditekankan bahwa “tidak bersekolah” tidak sama dengan “tidak belajar”. Tak pernah menjadi murid TK, tapi tumbuh dalam keluarga yang well-informed, well-civilized, dan peduli, maka anak mendapat kesempatan belajar istimewa untuk membangun bekal hidup (life skills). Sebaliknya, walau bersekolah di TK yang super mahal, tapi hanya digenjot agar bisa masuk sekolah bonafid yang mendewa-dewakan prestasi numerikal di rapor, sementara orangtua lebih bangga mampu “membeli” pendidikan ketimbang melibatkan diri secara intensif dalam pendidikan anak, makan yang didapat adalah kerawanan.

Nah, untuk membayangkan betapa tidak sempitnya makna belajar, saya ingin ajak pembaca untuk menengok kembali artikel lama di Komunitas Metode Sentra Indonesia yang berjudul Mamah-mamahan dan Belajar Memahami Kehidupan. Permainan “mamah-mamahan” adalah bentuk main peran yang muncul secara alamiah pada anak usia dini. Dalam Metode Sentra, permainan itu dibuat menjadi by-design, karena di dalamnya kaya akan kesempatan yang sangat berharga untuk membangun kemampuan anak dalam hal berbahasa, berkomunikasi, berhubungan dengan orang lain, mengendalikan ego, berkompromi, berfikir logis, bertanggungjawab, berdisiplin, conflict resolution, dan banyak lagi.

Jadi, teman-teman yang masih punya anak usia dini, senyampang punya kesempatan, nikmatilah kesempatan bermain bersama anak di rumah dan memberi pengalaman-pengalaman yang terbaik untuk bekal hidup anak. Lebih dari itu, tak ada orangtua yang khatam belajar menjadi orangtua, karena setiap pengalaman kebersamaan dengan anak adalah pembelajaran bagi orangtua.

Advertisements

One thought on “Sekali Lagi Tentang Salah Didik Sejak TK

  1. anita

    Saya punya anak usia 3,2th baru berjalan 2bl ini dia masuk tpa kelas todler. Alhamdulillah ada banyak perubahan positif, ada pijakan pendidikan karakter seperti yg bapak jelaskan di atas. Saya pun banyak belajar dr guru2nya bagaimana memperlakukan anak saya. Saya bersyukur menemukan guru2 itu.

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s