Organisasi dan Konflik: Renungan Dangkal Saja

Sewaktu menerima rombongan kami di kantornya satu hari di tahun 2005, notaris terheran-heran karena jumlah kami “banyak”. Sepanjang kariernya sebagai notaris, baru kali itu dia melayani pendirian sebuah yayasan dengan jumlah pendiri 25 orang. Yang biasa terjadi, yayasan didirikan oleh satu atau dua orang saja.

Tapi, belakangan notaris itu berterus terang bahwa penjelasan terkait dengan alasan kami mengapa jumlah pendiri begitu banyak, ternyata turut membantu memudahkan proses pengurusannya sampai ke Kementerian Hukum, Perundang-undangan dan Hak Asasi Manusia, karena sesuai dengan semangat Undang-Undang Yayasan Tahun 2001. Singkat cerita, dalam waktu sekitar tiga bulan, Yayasan Insan Nahlah Semesta sudah tercantum di Lembaran Berita Negara.

Alasan kami sederhana. Pendirian yayasan memang kehendak kolektif warga masyarakat yang terhimpun dari obrolan-obrolan “swasta” antarwarga di dan sekitar Perumahan Tamansari Bukit Damai, Desa Curug, Gunungsindur, Bogor. Warga mendambakan suatu wadah milik bersama untuk menghimpun sumberdaya dalam rangka memenuhi kebutuhan di bidang pendidikan, khususnya tempat mengaji anak-anak. Agar punya pijakan untuk berkembang, wadah itu harus berbadan hukum. Karena milik bersama, tidak boleh ada individu yang berusaha mengeruk keuntungan untuk kepentingan pribadi.

Maka, dambaan itu cukup ideal untuk membayangkan semangat non-profit sebuah organisasi. Warga bergotong-royong menghimpun sumberdaya (khususnya finansial). Sumberdaya dikelola dengan baik agar meningkat dan bertambah, dan setiap peningkatan atau pertambahan sumberdaya dimanfaatkan untuk memperbaiki layanan yang diselenggarakan Yayasan, tidak ada yang dikumpulkan sebagai revenue untuk dibagi-bagi untuk para pendiri.

Walau belum terwujud secara ideal, begitulah yang terjadi. Sampai sekarang warga (bukan hanya pendiri) dengan sukarela menyedekahkan sebagian rezeki melalui yayasan, baik sedekah finansial maupun waktu dan tenaga. Dari meminjam rumah, kemudian menyewa rumah, saat ini kegiatan yayasan sudah dilakukan di gedung sendiri. Rancangannya bangunannya sih untuk tingkat, tapi saat ini bangunan baru satu lantai. Mudah-mudahan segera ada rezeki untuk meneruskannya.

Di satu sisi, sifat kebersamaan dan kolegial pengelolaan yayasan itu membahagiakan. Sekurang-kurangnya, hal itu menguatkan keyakinan kami bahwa lembaga pendidikan milik masyarakat sebagai institusi non-profit, bukan milik individu sebagai “entitas bisnis terselubung”, itu benar-benar bisa terjadi. Tapi di sisi lain hal itu tentu saja membawa konsekuensi yang tidak ringan. Karena digerakkan oleh banyak orang dengan isi kepala yang warna-warni, perkembangannya harus melalui jalan terjal berliku. Kemajuannya tentu saja tak pantas dibandingkan dengan jenis lembaga pendidikan yang didirikan satu-dua orang dengan bekal modal finansial yang berlimpah.

Sebagian konsekuensinya bahkan bisa dibilang menyedihkan, yakni konflik antarsesama warga. Sebagian warga yang pada mulanya guyub berdiskusi menjadi renggang hubungannya. Kecurigaan, distrust, dan ketidaksukaan tumbuh dalam gunjingan. Sebagian warga yang semula bersemangat terlibat dalam pematangan gagasan pendirian yayasan mundur teratur. Dan lain-lain. Akibatnya, gagasan pendirian yayasan yang bergulir sejak tahun 2002 itu baru terwujud tahun 2005. Pun ketegangan tak segera mereda setelah pendirian yayasan.

Seandainya saja hasil karya Mark Zuckerberg sudah kami rasakan saat itu, mungkin linimasa akun Facebook saya penuh dengan “trades of fire”. Oh, tidak, Mark, …. maaf, maaf, sungguh saya tak bermaksud menganggapmu memfasilitasi pertengkaran. Saya hanya ingin bercerita saja bahwa di suatu waktu, saya pernah menjadi ember penampung curhatan, kalimat-kalimat ketidaksukaan satu orang terhadap lainnya, atau bahkan hujatan. Juga kalimat-kalimat pedas yang ditujukan kepada kelemahan, kekurangan dan ketidakmampuan saya, pun sampai ke telinga saya. Tapi, karena otak saya hanya mampu menampung keinginan teman-teman yang bersemangat mewujudkan cita-cita Yayasan, saya malah lupa kalimat-kalimat yang begitu-begituan.

Jadi, Mark, kayaknya kita sepakat bahwa “Time heals.” Pada akhirnya badai reda, karena setiap orang punya kebaikan. Cukup beri kesempatan kebaikan itu tumbuh dan berkembang sehingga menutupi setiap kekurangan. Saya tidak punya ilmu resolusi konflik, saya juga tidak punya kemampuan leadership yang istimewa, sehingga saya tidak punya keterampilan menangani keburukan orang lain. Yang ingin saya ceritakan hanya, saat ini Yayasan mengelola TPQ An-Nahl dan TKIT An-Nahl yang para gurunya sudah ikut pelatihan Metode Sentra di Sekolah Batutis Al-Ilmi, Pekayon Bekasi. Metode Sentra yang kami terapkan menjadi daya tarik sekolah kami, sehingga menjadi pilihan orangtua anak-anak yang rumahnya cukup jauh dari sekolah kami.

Itu saja, Mark, dan saya masih harus banyak belajar kepada para guru TPQ dan TKIT An-Nahl, tentang kesabaran, daya juang, pengabdian, dan keikhlasan, dan terlebih lagi, sebagaimana yang dilakukan para guru, belajar pada anak-anak yang belajar di sana. Semoga kami terus memiliki kesabaran untuk belajar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s