Polisi Tidur dan Problem Pendidikan

Setiap pagi, saat mengantar anak pergi ke sekolah dengan sepeda motor, saya melewati ruas-ruas jalan terjal berbatu. Di musim kemarau debu bertebaran, dan di musim hujan genangan air dan tanah becek mengharuskan saya mengerahkan keterampilan mengendalikan setir. Tapi, dalam tulisan ini saya tidak sedang ingin mengkritisi pemerintah. Saya hanya menuangkan lamunan tentang kaitan antara “jalan yang bagus” dan “problem pendidikan”.

Baiklah, sebelum ada yang bertanya apa hubungannya, saya teruskan cerita saya terlebih dulu. Dalam perjalanan menuju sekolah anak saya itu tentu saja ada ruas-ruas jalan yang sudah lumayan, dan ada yang sudah sangat nyaman dilewati. Hanya saja, pada ruas-ruas jalan yang nyaman itu, tiba-tiba saja muncul pertanyaan di benak saya, benarkah orang Indonesia itu sudah pasti dan selalu menginginkan jalan yang rata dan nyaman dilewati? Soalnya, pada banyak titik di atas jalan yang sudah rapi itu ternyata dibuat dengan sengaja gundukan, atau dipasang batang balok kayu yang melintang. Ya, orang menyebutnya “polisi tidur” –entah bagaimana riwayat munculnya istilah itu.

Sudah pasti, rintangan itu membuat berkendara menjadi tidak nyaman. Tapi, rintangan itu ada karena kepentingan sebagian pengguna jalan itu juga, bahkan stake-holder yang paling utama, yakni masyarakat yang tinggal paling dekat dengan jalan itu. Jadi, ternyata orang Indonesia tidak selalu menginginkan jalan yang rata dan nyaman dilewati. Bila jalan “terlalu nyaman” ada kekhawatiran kendaraan melaju cepat dan membahayakan. Karena, jalan memang bukan hanya untuk dilewati kendaraan, tapi juga pejalan kaki.

Apakah tidak ada cara lain selain memasang penghambat laju kendaraan dengan “polisi tidur”? Sebetulnya, dalam peradaban masyarakat modern ada yang namanya rambu-rambu lalulintas yang bisa dipasang di pinggir-pinggir jalan, dan tentu saja termasuk rambu yang memberi petunjuk agar pengendara melambatkan kendaraan, misalnya. Namun, apa boleh buat, munculnya ide “polisi tidur” itu menunjukkan adanya keputusasaan pada fungsi rambu lalulintas. Ada semacam kesepakatan tak tertulis bahwa manusia Indonesia tidak mampu membaca dan mematuhi rambu lalulintas, sehingga harus dibuat “polisi tidur”.

Itulah yang saya sebut sebagai problem pendidikan. Dalam banyak hal, bukan hanya urusan “polisi tidur”, ada indikasi kuat tidak tuntasnya pembangunan kemampuan berpikir abstrak karena keroposnya pondasi berpikir konkret pada periode usia dini. Sehingga, di usia dewasa, orang memerlukan portal untuk mengetahui bahwa kendaraannya tidak boleh masuk. Tanda forboden atau letter “S” adalah tanda abstrak yang tidak bisa dicerna oleh daya berpikir.

Orang memerlukan buldoser untuk menyadari tidak boleh membangun bangunan liar di kawasan tertentu. Pejabat negara perlu masuk penjara untuk menyadari bahwa korupsi itu dosa dan nista. Pemilik perusahaan perkebunan perlu mengetahui perusahaannya ditutup untuk menyadari bahwa pembakaran hutan yang membawa penderitaan banyak orang adalah tindakan terkutuk. Peraturan dan Undang-Undang adalah rumusan abstrak yang tidak bisa dicerna daya nalar. Pemahaman dan kesadaran hanya muncul ketika ada bukti konkret, nyata di depan mata.

Maka, bangsa ini membutuhkan upaya revolusioner membenahi pendidikan usia dini. Mengapa? Karena kepasitas berpikir abstrak hanya bisa terbangun dengan kokoh bila memiliki pondasi yang kuat sejak usia dini. Pertama-tama, berpikir abstrak itu harus memiliki pondasi nalar berbasis konkret yang akan mengantarkannya dalam proses peranjakan yang mulus menuju kemampuan berpikir abstrak.

Sejak usia dini, anak harus tahu bahwa mainan yang berantakan memerlukan pekerjaan untuk merapikan dan beres-beres agar menjadi rapi dan bisa digunakan lagi. Lantai yang basah dan licin perlu dilap agar kering dan aman untuk dilewati. Jerigen yang kosong bisa terisi air dengan cara mengerahkan tenaga untuk menuang melalui corong, atau dengan hand-pump. Dan seterusnya. Itulah sebabnya, dalam praktik pembelajaran dengan Metode Sentra, kebutuhan akan bermain diperlakukan sebagai menu yang sama krusialnya dengan menu pembelajaran kognitif seperti baca-tulis-hitung.

Jika tidak pernah mengalami dan terlibat dalam peristiwa-peristiwa konkret seperti itu, maka yang tertulis di otak anak sampai dewasa adalah semua sudah ada yang membereskan. Otak tidak bekerja dengan semestinya, karena telah diwakilkan oleh orangtua yang “rajin” dan “penyayang”. Kelak di masa dewasa, ia pun tidak memiliki daya juang, karena dalam pikirannya bekerja itu ya mendapatkan upah atau gaji, bukan berkarya dan terus memperbaiki diri. Berbisnis itu ya mendapatkan untung, bukan melayani pelanggan dan relasi.

Nah, dalam lamunan saya, jika anak-anak Indonesia saat ini merasakan model pembelajaran sebagaimana sekolah-sekolah yang menggunakan Metode Sentra, kelak tidak dibutuhkan lagi sarana-sarana konkret untuk menyadarkan orang akan aturan main-main, prosedur dan tanggungjawab. Bukan hanya tidak butuh “polisi tidur”.

Advertisements

2 thoughts on “Polisi Tidur dan Problem Pendidikan

  1. Saya kopas bagian yg paling konkrit ini Pak … sembari bertanya : apakah sudah ada tanda2 kejadian-nya ?
    “Jika tidak pernah mengalami dan terlibat dalam peristiwa-peristiwa konkret seperti itu, maka yang tertulis di otak anak sampai dewasa adalah semua sudah ada yang membereskan. Otak tidak bekerja dengan semestinya, karena telah diwakilkan oleh orangtua yang “rajin” dan “penyayang”. Kelak di masa dewasa, ia pun tidak memiliki daya juang, karena dalam pikirannya bekerja itu ya mendapatkan upah atau gaji, bukan berkarya dan terus memperbaiki diri. Berbisnis itu ya mendapatkan untung, bukan melayani pelanggan dan relasi. “

    Like

    • Saya malu sebetulnya, Pak Pur, karena secara tanpa sadar, sebagian gejalanya terkadang muncul pada diri saya sendiri. Jadi, paling tidak, kalau ada pembaca yang juga merasakannya sebagai otokritik, mudah-mudahan ada perbaikan pada generasi-generasi mendatang.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s