Dunia Pendidikan yang Saya Jauhi

Saya sudah tidak begitu ingat apa yang berkecamuk dalam kepala saya saat itu. Ternyata, saya pernah menulis bahwa saya bercita-cita menjadi penulis. Kalimat itu saya tuangkan dalam Skripsi S-1 saya pada paragraf pembuka Bab Pendahuluan (Introduction), di sub bab A (Background of the Study).

Oh, ya, jangan tertawa, ya… judul skripsi saya “mainstreambingitz: “Correlation Between the Writing and Reading Abilities of the Second Year Students of SMA Muhammadiyah 6 Paciran Lamongan”.

Di paragraf pembuka itu saya tulis begini:

It has been the writer’s ideal to become a professional writer. He started later to learn English intensively as a foreign language and such intention remains in his mind. Needless to say, writing skill will be of exclusive advantages in the modern life. His writing skill, however, does not seem to increase so satisfactorily even in Indonesian, his native language, that no satisfying work of writing has been created by him except some poor ones. This led him to learn the nature of writing skill.

Bagaimana sekarang?
Dengan karier sebagai jurnalis, dan kemudian penerjemah dan penulis lepas, tentu saja saya memang banyak menulis. Tapi, sebagai pengarang (author)? hmmm… belum ada apa-apanya… baru beberapa potong artikel opini saja, dan buku pertama saya masih “sabar” menanti sentuhan.

Tapi, saya bahagia karena dalam mengejar cita-cita itu saya seperti mendapat beasiswa belajar pada banyak dan bermacam-macam guru untuk bermacam-macam matapelajaran. Ada akuntansi, ekonomi, bisnis, finansial, politik, pemerintahan, agama, sejarah, antropologi, pertambangan, metalurgi, …. dan tentu saja pendidikan. Entah kenapa, yang saya sebut terakhir ini seperti magnet yang tak kuasa saya lawan.

Saya lulusan sekolah calon guru (Fakultas Tarbiyah) yang sudah bertahun-tahun berusaha lari dari dunia pendidikan dengan menjadi wartawan. Tapi, ya gitu, deh…. berkenalan dan belajar pada sastrawan senior Bapak Yudhistira “Arjuna Mencari Cinta” Massardi, saya malah diajak membantu menulis buku pendidikan dan menerbitkan majalah pendidikan. Lalu, yang paling mutakhir, berkenalan dan belajar pada pebisnis internasional, Bapak Erizeli Bandaro, lagi-lagi saya menjadi editor buku yang begitu intim dengan dunia pendidikan.

Dan, momen indah itu benar-benar terjadi…. Pak Yudhistira dan Bu Siska Massardi berfoto bersama Pak Erizeli Bandaro dan istri saat peluncuran buku Cinta yang Kuberi. Mereka adalah guru kehidupan saya. Mereka peduli dan telah berbuat nyata untuk perbaikan negeri ini. Saya tidak melupakan cita-cita, dan saya bersyukur dengan beasiswa belajar ini. Semoga Allah swt. meridhai. Amin ya Rabbal ‘alamin.

CYK pake sendok

Empat Guru

Buku Pendidikan Karakter dg Metode Sentra

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s