Dagelan MKD dan “PR” Besar Revolusi Pendidikan

Khalayak umat media sosial hari-hari ini “terkesima” dengan dagelan badut-badut yang tengah bermain peran sidang-sidangan ala Makelar-Koplak-Dagelan. Tontonan lucu itu disiarkan televisi dan diulas secara massif di media sosial dengan rasa mual, perih dan pilu, seakan-akan bangsa ini baru terjaga dari tidur panjang. Kalaulah umat media sosial punya waktu sejenak untuk mengenali apa yang terjadi sehari-hari di sekeliling, sejatinya tidak terlalu sulit menemukan sumber kepiluan itu.
Sebut saja apapun bentuk anomali kematangan usia yang tak dibarengi dengan kematangan pikir dan moral, entah itu di jalan raya, di meja-meja birokrat dan pejabat, di pasar, di kantor-kantor bisnis mentereng…. apapun. Semua mengarah pada satu sumber: kekosongan tahap perkembangan yang tak terisi pada periode krusial, yakni periode usia dini.
Seorang teman yang beragama Katolik bercerita bahwa sebagai salah satu syarat kelengkapan menikah, dia dan pasangannya harus mengikuti pendidikan pranikah di gereja hingga enam bulan lamanya. Di kalangan Kristen, lama pendidikan serupa bervariasi, ada yang hanya satu bulan, tapi ada yang sampai satu tahun. Bagaimana di kalangan Islam? Saya sendiri praktis tidak pernah melalui pendidikan semacam itu. Siapkan persyaratan-persyaratan administratif, sebar undangan, ijab-qabul, selesai, sah!
Saya baru mengetahui adanya pendidikan semacam itu dan akhirnya belajar apa yang seharusnya saya pelajari sebelum saya menikah bertahun-tahun kemudian, setelah ketiga anak saya lahir. Ya, sejujurnya saya baru mengetahui dan menyadari pentingnya pendidikan semacam itu saat anak-anak saya, terutama yang sulung, sudah melewati periode krusial pembangunan bekal kehidupannya. Pembelajaran tentang masalah penting itu bagi saya baru terjadi saat saya mengenal pelatihan Metode Sentra di Sekolah Al-Falah Jakarta Timur dan kemudian Sekolah Batutis Al-Ilmi Bekasi, sejak 2009, atau sepuluh tahun setelah saya menikah.
Mengapa saya katakan pendidikan pranikah itu penting? Periode usia dini kehidupan anak (0 sampai 2 tahun) adalah periode paling krusial pembangunan bekal kehidupan. Dalam terminologi neurosains, pada periode inilah 80 persen penyambungan antarsel otak (atau myelinasi) tercapai. Pada usia 6 tahun, 95 persen myelinasi selesai, dan sesanya diteruskan sampai dengan usia 11 atau 12 tahun. Itulah struktur dasar, cetak biru kehidupan anak manusia.
Dalam terminologi tahap perkembangan kognitif Piaget, rentang usia dua tahun sampai dengan enam tahun adalah proses penyempurnaan pribadi mulai dari tahap sensorimotor sampai anak merampungkan basis praoperasional. Pada tahap sensorimotor, di mana anak belajar tentang dunia konkret di sekelilingnya, sudut pandang anak bersifat egosentris. Semua hal di sekelilingnya dipandang dengan persepsi “aku dan milkku”. Jika tahap ini berproses tuntas dan mulus, anak akan mampu bergeser meluaskan sudut pandang yang bukan hanya diri dan miliknya semata.
Begitu seterusnya, dengan asupan-asupan yang sesuai takaran dan tahap-tahap perkembangan, anak seyogyanya mampu merampungkan periode praoperasional saat memasuki usia Sekolah Dasar (SD). Bila tahap praoperasional tuntas, berarti anak mampu mengerjakan suatu pekerjaan dengan tuntas dan bertanggungjawab, atau dalam kalangan psikolog dikenal dengan istilah one-operation skill. Salah satu cirinya, anak tidak akan berpindah ke pekerjaan lain sebelum satu pekerjaan dia tuntaskan. Ciri lainnya, anak tahu apa saja yang dibutuhkan untuk menuntaskan pekerjaannya.
Ada banyak contoh yang menunjukkan tidak tuntasnya tahap praoperasional pada masyarakat. Kalau suatu hari Anda sempat berkunjung ke Ciputat, Pamulang (Tangerang Selatan), Parung (Bogor), atau Pondok Labu (Jakarta Selatan), anda akan mengetahui ada trayek angkutan kota yang jelas-jelas merujuk keempat nama tempat itu. Ada trayek, tapi tidak satupun terminal tersedia di keempat tempat itu. Di Ciputat dulu ada terminal yang cukup besar, tapi lahannya telah dialihfungsikan menjadi pusat perbelanjaan.
Itu artinya, jangankan untuk memahami apalagi mengurai sebab-akibat tentang keruwetan dan kemacetan lalulintas, mengerti logika dasar trayek-terminal saja tidak sanggup. Tapi, itulah faktanya. Dengan kekosongan tahap praoperasional itu, tak mungkin seseorang mampu dengan sendirinya mencapai tahap operasional konkret yang otentik sampai berpikir abstrak, logis-kritis, tahap yang seharusnya sudah tuntas ketika anak masuk jenjang sekolah SMP.
Jadi, sambil tertawa terpingkal-pingkal menyaksikan badut-badut MKD, mari menertawai diri, menertawai bangsa kita yang punya “PR” besar untuk merevolusi pendidikan. Kalaupun sistem pendidikan nasional belum bisa diajak serta, kita mulai dari lingkup terkecil: keluarga. Harap maklum, ide Menteri Pendidikan Anies Baswedan untuk membentuk Direktorat Keayahbundaan sudah tergulung arus kepentingan kemapanan birokrasi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s