Luasnya Langit Cita-Cita Anak Indonesia

Sebagai seorang ayah dan penyuka diskusi tentang pendidikan, buku Mari Berubah, Cintaku Negeriku (Volume 1), ini pertama-tama menyentak kesadaran saya betapa pentingnya terus membekali diri tiada henti dengan pengetahuan dan pemahaman tentang kehidupan. Hanya dengan itu, keberadaan saya sebagai orangtua bagi anak-anak saya menjadi bermakna. Buku ini membantu saya melihat betapa luasnya langit cita-cita yang tersedia bagi anak-anak Indonesia.

Kalaulah cita-cita itu seumpama langit, maka Allah mengatapi Indonesia ini dengan langit yang paling luas di muka bumi. Sayangnya, sebagian besar anak Indonesia tumbuh di sekolah-sekolah yang kebanyakan hanya memperkenalkan cita-cita yang terbatas. Saya jadi teringat kembali masa-masa ketika saya tumbuh di desa dekade tahun 70-an akhir dengan bacaan Majalah Kuncup (mungkin hanya anak-anak Jawa Timur yang mengenalnya). Salah satu rubrik yang menarik, selain cerpen dan cerita bergambar, adalah “Sahabat Kuncup”.

Di rubrik itu anak-anak berani menampilkan foto dan data diri, lengkap dengan hobi dan cita-cita. Yang suka rubrik itu tentu ingat kombinasi standar hobi olah raga, filateli, membaca, surat-menyurat, dan cita-cita menjadi dokter, insinyur, pilot, polisi, tentara, dan… tentu saja guru. Banyak juga yang menuliskan cita-cita yang tidak spesifik, seperti “berguna bagi nusa dan bangsa.”

Bila ditarik garis generalisasi, praktis, variasi cita-cita yang muncul tak akan jauh-jauh dari impian menjadi pegawai, karyawan, syukur-syukur pegawai negeri. Entah apa penyebabnya, sependek yang saya ingat, saat itu tidak pernah muncul cita-cita menjadi pebisnis, misalnya. Boleh jadi, penanaman jiwa “patriotisme” di sekolah-sekolah cukup berhasil sehingga anak-anak Indonesia terpacu dan termotivasi untuk menjadi “abdi negara”. Faktanya, sampai saat ini arena perburuan kursi pegawai negeri selalu penuh peminat yang berdesak-desakan.

Untuk mengurai dan menemukan akar masalah itu, tentu diperlukan kajian yang mendalam dan panjang. Tapi, sekurang-kurangnya dengan membaca buku kedua Bapak Erizeli Bandaro ini, saya mempunya bekal untuk meluaskan pemahaman saya tentang “abdi negara”. Anak-anak Indonesia punya kesempatan yang luas tak terkira menjadi patriot bangsa, walaupun tidak harus menjadi pegawai negeri, polisi atau tentara. Kekayaan alam Indonesia nan berlimpah membutuhkan patriot-patriot di garis depan mempelajari, mengeksplorasi, mengolah, menjaga kelestariannya dan memanfaatkannya demi kemakmuran bangsa.

cintaku negeriku

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s