Rekonstruksi Mindset Pendidikan Agama

[Sudah berbulan-bulan penulisan buku ini terbengkalai…. baru selesai bab pendahuluan dan bab ke-2. Siapa tahu ada masukan dari para pembaca yang baik hati.]

….. Masjid-masjid di pedesaan dan diperkotaan tidak hanya kian semarak oleh hiasan dan penampilan yang memanjakan setiap mata yang memandangnya, tetapi juga semakin gegap gempita oleh melimpahnya jamaah shalat. Gedung-gedung perkantoran yang tinggi dan mal-mal di kota-kota besar berlomba-lomba melayani umat Islam dengan tersedianya tempat ibadah yang bersih, nyaman dan wangi.

Pengajian-pengajian yang disampaikan para juru dakwah semakin mudah dijangkau umat, dalam bentuk ceramah tatap muka, melalui mimbar-mimbar dakwah elektronik di televisi, sampai ke layanan tausiyah media sosial di dunia maya. Di abad perpustakaan global Google, umat Islam semakin dimudahkan untuk memperluas pengetahuan keagamaan mereka. Dari sekadar belajar membaca Al-Qur’an secara mandiri sampai menyelami kitab-kitab klasik, semua tersedia.

Setiap bulan Ramadhan tiba, kesyahduan umat meruap dari tempat-tempat ibadah. Shalat tarawih berjamaah di masjid-masjid dihiasi gairah umat yang bersemangat untuk mendengarkan tausiyah. Menyertai ceramah-ceramah para juru dakwah, laporan keuangan para takmir masjid memperlihatkan gairah umat untuk berinfak dan bersedekah.

Panitia zakat fitrah bukan hanya berhasil memotivasi umat untuk tidak lengah dari syarat keabsahan ibadah puasa itu, tetapi juga menggairahkan umat untuk melakukan zakat harta benda (zakat maal). Selain itu, tentu saja biro-biro perjalanan haji dan umrah tidak pernah kekurangan jamaah yang membutuhkan jasa mereka dalam melaksanakan ibadah napak tilas Nabiyullah Ibrahim AS.

Jelas bahwa gairah umat Islam dalam menjalankan ritual ibadah tak pernah surut. Pertanyaannya kemudian, mengapa gairah itu tidak berkorelasi positif dengan prestasi akhlak bangsa Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim?
Patut diduga bahwa biang bencana ini adalah alam pikiran pendidikan industrialistik yang merasuk juga ke dalam ranah pendidikan agama. Dalam paradigma industrialistik, pendidikan adalah instrumen untuk menghasilkan produk-produk yang sesuai dengan kebutuhan industri. Manusia-manusia diproses untuk dicetak dengan cetakan (standar-standar) tertentu menjadi sumberdaya-sumberdaya andal dalam mencukupi kebutuhan industri.

Dalam alam pikiran yang demikian, segala proses yang dirancang di dalamnya diukur dengan angka-angka numerikal yang efisien untuk memudahkan penyedia produk industri pendidikan menglasifikasi produk-produknya, walaupun secara massal. Dengan instrumen data-data numerikal, berjuta-juta anak Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, atau Sekolah Menengah Atas bisa disaring dalam waktu singkat dan efisien, untuk kemudian diberi label pada ijazahnya. Label-label itu dimaklumkan sebagai klasifikasi kesempatan dan nasib masa depan. Karena itu, anak-anak Indonesia pun menghabiskan hampir seluruh waktu dan potensi dirinya, serta tentu saja harta orangtuanya, untuk memburu label-label itu. Karena, label-label itulah penentu kesempatan meraih posisi-posisi “aman” pada jenjang-jenjang sekolah selanjutnya.

Maka, dalam alam pikiran yang demikian, tanggungjawab pendidikan direduksi menjadi kebutuhan pengajaran mencapai target-target artifisial. Jadi, kepentingannya sesungguhnya bukan pada prestasi peserta didik, tetapi lebih pada kebutuhan para penyelenggara pengajaran dalam menyajikan data secara efisien tentang hasil kerja mereka.

Maka tidak sedikit guru, termasuk guru agama, memandang tugas mendidik hanyalah memastikan para muridnya mencapai angka-angka hasil ujian yang tinggi. Orangtua pun terseret pada pola pikir seperti itu, bahwa tugas mereka dalam mendidik seolah-olah sudah tunai jika melihat nilai rapor dan ijazah anak-anak mereka bagus-bagus, dan bisa diterima di sekolah-sekolah unggulan. Target pendidikan agama, misalnya, yang seharusnya adalah pembentukan pribadi, direduksi menjadi target kemampuan para murid dalam menjawab soal-soal ujian. Sehingga, pendidikan agama dijalankan sebagai kegiatan mengajarkan pengetahuan keagamaan, bahkan dipersempit lagi menjadi keterampilan menjawab soal-soal tentang agama dalam ujian.

…..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s