Pilih Pemimpin yang Berprestasi

Pilih Pemimpin yang Berprestasi

Dalam satu shalat Jumat di Bekasi (sudah cukup lama, lebih dari setahun lalu), saya terkesan dengan khatib yang menyajikan analogi indah tentang bagaimana seharusnya ber-Islam. Kalau kita ingin menunjukkan buah mangga dari pohon kita rasanya enak, istimewa dan hebat, maka kasih ke tetangga biar tetangga merasakan dan membuktikan enaknya, keistimewaannya dan kehebatannya. Jangan cuma dengan kata-kata saja.

Kalau kita ingin menunjukkan Islam itu hebat, maka jadikan diri kita bukti otentik bahwa Islam itu hebat dan menyenangkan. Jangan cuma mengandalkan kata-kata, tapi harus dengan perilaku, perbuatan dan prestasi kita. Apalagi hanya dengan mencela golongan lain.

Ya, mencela mangga tetangga rasanya asam sama sekali tidak membuat mangga kita jadi primadona, apalagi kalau ternyata banyak orang terpesona dengan mangga tetangga. Jadi lucu, lugu dan malulah.

Rasanya, isi khutbah itu sangat relevan dengan situasi saat ini. Kalau saya melihat tokoh politik Muslim yang saya anggap pantas menjadi pemimpin, maka saya pun tetap harus melihat apa saja kehebatannya. Tidak mungkin saya mengukur ketaqwaan orang karena itu wewenang Allah. Tapi, kalau tokoh itu benar-benar menyalakan obor syahadat, menegakkan tiang-tiang shalat, menghamparkan zakat, berbaju puasa dan mengaktualkan haji dalam setiap detik dan jengkal langkah kehidupannya, maka itu akan terbukti dalam akhlaknya.

Kalau akhlaknya minus, pribadinya tidak menyenangkan, tidak berprestasi tapi sombong, maka dipastikan syahadatnya berhenti di bibir, shalatnya selesai di sajadah, zakatnya minimalis, puasanya hanya menahan haus dan lapar, dan hajinya (kalau sudah) sekadar tamasya fisik belaka. Akhlak minus berarti ibadahnya kosong tanpa dampak dan karena itu tanpa makna. Padahal, akhlak al-karimah adalah buah dari ibadah yang bermakna, yang manfaatnya bisa dirasakan oleh orang lain, yang produktivitasnya membahagiakan diri dan orang lain, yang ilmu dan prestasinya selalu membuatnya dirindukan.

Jadi, sebagai manusia biasa, cara saya memilih pemimpin adalah dengan memilih berdasarkan integritas akhlaknya yang unggul penuh prestasi, bukan berdasarkan iklan ketaqwaannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s