Ketika Sukses Menuju Kegagalan

[CATATAN: Kemarin saya share link di Facebook artikel Jessica Lahey yang dimuat di situs berita http://www.theatlantic.com tanggal 8 Agustus 2015. Artikel itu adalah nukilan dari buku Lahey yang berjudul The Gift of Failure (2015). Saya coba terjemahkan artikel versi ringkasan tersebut, berkaitan dengan musim teror pendidikan bernama Ujian Nasional (UN). Meskipun UN tidak lagi mutlak menentukan kelulusan, tapi ia tetap dan akan terus diabadikan menjadi berhala pendidikan oleh anak, orangtua, guru, sekolah, dan… jangan-jangan Menteri Pendidikan juga. Semoga bermanfaat.]

Tekanan untuk mencapai prestasi akademis adalah sebuah kejahatan terhadap belajar.

Saya sudah empat tahun mengenal ibu yang duduk di depan saya dalam konsultasi orangtua-guru ini, dan kami sudah melalui banyak hal dalam kebersamaan. Saya mengajar tiga anaknya, dan saya ingin mengatakan bahwa kami telah menjadi sahabat selama masa kebersamaan kami. Dia seorang ibu yang teliti, yang jelas mencintai anak-anaknya dengan sepenuh hati. Saya selalu jujur kepadanya tentang kekuatan dan kelemahan anak-anaknya, dan menurut saya dia percaya kepada saya dalam hal menyampaikan hal yang sebenarnya. Tapi, ketika dia mengadukan kecemasan yang sedang mengganggunya saat ini, saya hanya bisa mengangguk, dan berusaha mengulur waktu.

“Prestasi Marianna baik-baik saja, saya tak mencemaskan hal itu, tapi dia tampaknya tidak lagi mencintai belajar.”

Di atas segalanya, kami memang mengajarkannya untuk takut akan kegagalan. Ketakutan itulah yang sejatinya merusak cinta belajarnya.

Ibu Marianna benar sekali. Saya melihat hal yang sama tentang puterinya dalam dua atau tiga tahun yang sudah berjalan, sebagai guru Bahasa Inggris, Latin dan Menulis, dan saya punya satu jawaban, tepat di ujung lidah saya, apa sebenarnya masalahnya. Tapi, saya terjebak di antara tanggungjawab membantu Marianna dan kesadaran bahwa ibu ini tak siap mendengarkan apa yang harus saya katakan.

Yang sebenarnya –untuk orangtua ini dan begitu banyak orangtua lain—adalah ini: Puterinya telah mempersembahkan dorongan alamiah keingintahuan dan cinta akan belajar sebagai pengorbanan di altar prestasi, dan ini kesalahan kita. Kedua orangtua Marianna, guru-gurunya, masyarakat pada umumnya –kita semua telah menimpakan kejahatan ini pada belajar.
Dari hari pertama sekolahnya, kita mengarahkan dia menuju altar itu dan melatihnya untuk mengukur kemajuan dengan menggunakan poin, angka dan hadiah. Kami mengajarkan kepada Marianna bahwa potensinya terikat pada kecerdasan intelektual, dan bahwa kecerdasan intelektual itu lebih penting dari karakternya.

Kita mengajarnya untuk pulang dengan bangga menyandang nilai-nilai A, trofi kejuaraan, dan diterima di sekolah tinggi, dan kita tanpa sengaja mengajarkan kepadanya bahwa kita tidak benar-benar peduli bagaimana cara dia mendapatkannya. Kita mengajarkan kepadanya untuk mengorbankan apapun demi melindungi kesempurnaan akademis dan ekstrakurikular, dan bahwa lebih baik berhenti ketika keadaan membutuhkan tantangan ketimbang mengambil risiko menodai catatan kesempurnaan itu. Di atas segalanya, kita mengajarkannya untuk takut kegagalan. Ketakutan itulah yang menghancurkan cinta belajar.

Saya menatap ibu yang memancarkan kecemasan di wajahnya ini, pensilnya yang seperti ingin menuliskan apapun kata-kata bijak saya. Saya berjuang mencari cara yang halus untuk menjelaskan bahwa omelan harian tentang poin dan angka dua-duanya melanggengkan ketergantungan Marianna pada kecenderungan ibu untuk menyelesaikan masalah dan intervensi atas nama Marianna, dan mengajarinya bahwa iming-iming eksternal jauh lebih penting ketimbang usaha yang diinvestasikan Marianna dalam pendidikannya. Marianna begitu disibukkan oleh pikiran bagaimana menyenangkan kedua orangtua bahwa cinta yang biasanya dia rasakan pada belajar telah dikuasai oleh kemauan mendapat pengakuan mereka.

Seluruh ingar-bingar gangguan ibunya itu meman datang dari suatu tempat bernama cinta – itu jelas. Ibu mendambakan dunia bagi anak-anaknya, akan tetapi hal-hal yang dilakukan untuk mendorong prestasi yang dia kira akan membantu mereka memastikan kebahagiaan dan kehormatan itu justru merongrong suksesnya di masa depan.

Marianna sangat cerdas dan prestasinya tinggi, dan ibunya selalu mengingatkan hal itu setiap hari. Tapi, Marianna tidak dipuji atas ketekenuan dan upaya yang dilakukan untuk sabar memecahkan masalah sulit matematika atau berkutat dalam penyelidikan ilmiah. Jika jawaban di ujung halaman salah, atau jika dia sampai pada jalan buntu dalam penelitiannya, dia gagal –tak peduli apapun yang dia pelajari dalam perjuangan itu.

Dan bertentangan dengan apa yang mungkin dia yakini, dalam situasi-stuasi yang lebih sulit dia sesungguhnya belajar. Dia belajar untuk menjadi kreatif dalam pemecahan masalah. Dia belajar tekun. Dia belajar mengendalikan diri dan kegigihan. Tapi, karena dia takut setengah mati pada kegagalan, dia mulai mengurangi risiko-risiko intelektual. Dia punya kesulitan dalam menulis naskah kasar dan dia tidak suka berhipotesis atau berpikir keras dalam pelajaran. Dia tahu bahwa dia berusaha dalam sesuatu yang menantang atau baru, dan gagal, kegagalan itu akan menjadi bukti telak bahwa dia tidak secerdas yang diharapkan dan diinginkan setiap orang. Lebih baik selamat.

Itukah yang kita inginkan? Anak-anak yang mendapat nilai A terus, tapi benci belajar? Anak-anak yang berprestasi secara akademis, tapi terlalu takut mengambil lompatan menuju hal-hal yang tak diketahui?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s