Sekolah Dasar Is Primary School (2)

[CATATAN: Tulisan ini adalah bagian kedua dari dua tulisan. Yang pertama sudah diunggah cukup lama, pada 13 Desember 2015. Baru hari ini lanjutannya bisa dibuat.]

Ada baiknya me-recall terlebih dahulu bagian penting dari tulisan sebelumnya, yakni fungsi dan tujuan pendidikan dasar (ini resmi, lho):

Peraturan Pemerintah No. 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan. Pasal 67 ayat (1) berbunyi:

Pendidikan pada SD/MI atau bentuk lain yang sederajat berfungsi:
a. Menanamkan dan mengamalkan nilai-nilai keimanan, akhlak mulia, dan kepribadian luhur;
b. Menanamkan dan mengamalkan nilai-nilai kebangsaan dan cinta tanah air;
c. Memberikan dasar-dasar kemampuan intelektual dalam bentuk kemampuan dan kecakapan membaca, menulis, dan berhitung;
d. Memberikan pengenalan ilmu pengetahuan dan teknologi;
e. Melatih dan merangsang kepekaan dan kemampuan mengapresiasi serta mengekspresikan keindahan, kehalusan, dan harmoni;
f. Menumbuhkan minat pada olahraga, kesehatan, dan kebugaran jasmani; dan
g. Mengembangkan kesiapan fisik dan mental untuk melanjutkan pendidikan ke SMP/MTs atau bentuk lain yang sederajat.

Ayat (3) berbunyi:
Pendidikan dasar bertujuan membangun landasan bagi berkembangnya potensi peserta didik
agar menjadi manusia yang:
a. beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, dan berkepribadian luhur;
b. berilmu, cakap, kritis, kreatif, dan inovatif;
c. sehat, mandiri, dan percaya diri; dan
d. toleran, peka sosial, demokratis, dan bertanggung jawab.

Indah, sehat, dan membahagiakan, walaupun tidak sederhana tentu saja. Jika taat pada fungsi dan tujuan seperti uraian di atas, maka sangat pantas mengharapkan seorang lulusan SD/Madrasah Ibtidaiyah adalah pribadi yang sudah siap bertanggungjawab pada dirinya, memahami dan menyadari apa yang diperbuatnya, apa akibatnya dan bertanggungjawab atas apa yang dilakukannya. Ia tahu apa yang dibutuhkannya, dan tahu bagaimana cara mencukupi kebutuhannya. Belum independen sepenuhnya, memang. Tapi dia sudah memiliki bekal yang cukup kokoh untuk mengembangkan diri menjadi pribadi yang independen.

Ini sejalan dengan definisi “operasional konkret” dalam terminologi tahap perkembangan kognitif Piaget, dan selaras dengan pengertian aqil baligh dalam ajaran Islam. Ciri-ciri kognitifnya, anak sudah memahami pentingnya urutan, prosedur, aturan, hubungan sebab-akibat, sampai pada tingkat menyatu dengan perilaku sehari-hari. Tidak ada paradoks lihai mengerjakan operasi matematika penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian, tapi boros jajan karena semata-mata tidak mampu mengendalikan keinginan.

Atau, anak hafal di luar kepala dalil hadits tentang kebersihan sebagai bagian dari iman, tapi membuang bungkus snack sekenanya sambil tetap bermain. Tidak. Anak yang sudah mencapai tahap “operasional konkret” tahu dan mampu menjalankan prosedur “one-operation” menikmati kudapan, dari membuka bungkus, mengunyah makanan, sampai membereskan sampahnya. Yang seperti itu tidak mungkin pernah tercapai tanpa penuntasan tahap “pra-operasional” di usia dini. Pemahaman tentang aturan dan prosedur sampai tingkat menyatu dengan perilaku sehari-hari tidak mungkin dibentuk hanya dengan mengandalkan penuangan pengetahuan tentang tata tertib, ajaran syari’at dan sejenisnya, tapi hanya bisa dibentuk melalui proses dalam situasi konkret.

Sampai pada titik ini, seharusnya sudah sangat jelas apa yang telah hilang dari sekolah-sekolah dasar atau madrasah-madrasah ibtidaiyah kita: keutuhan belajar yang bermakna. Belajar telah direduksi menjadi parade penuangan pengetahuan sebanyak-banyaknya untuk keperluan mengasah keterampilan menjawab soal-soal ujian, bahkan untuk perburuan gelar kontes, pacuan, arena, olimpiade dan… entah apapun namanya. Selesai sekolah, anak menghadapi kenyataan lain bahwa hidup itu bukan hanya butuh keterampilan mengerjakan soal ujian; bahwa daya juang dan ketahanan diri itu tidak sama dengan kemahiran kompetisi ujian nasional atau olimpiade. Daya juang dan ketahanan diri itu benar-benar harus tumbuh dalam konteks yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Seperti apakah situasi konkret yang dibutuhkan agar anak dapat menumbuh-kembangkan dirinya secara utuh, sehat, lancar dan optimal? Mari, saya ajak menengok satu fragmen situasi belajar di Sekolah Batutis Al-Ilmi, Pekayon, Bekasi. Di satu hari, guru Matematika mengajak teman-teman (guru menyebut anak dengan sebutan “teman”) kelas III untuk field trip sederhana, mengunjungi pedagang comro tak jauh dari sekolah. Saat pijakan awal (persiapan sebelum berangkat), mereka berdiskusi tentang prosedur (seperti apa yang perlu dan tak boleh dilakukan selama field trip) sampai merencanakan informasi apa saja yang akan dicari (termasuk rumusan pertanyaannya).

Pulang dari field trip anak-anak menuangkan pengalaman dari kegiatan yang hanya sekitar satu jam itu ke dalam tulisan dan gambar di kertas kosong. Sudah pasti, hasil coretan-coretan anak itu tidak seragam, tidak sama rata, tidak mengacu pada standar baku seperti menjawab soal-soal ujian. Tapi, bisakah dibayangkan betapa kayanya pembelajaran dari kegiatan sederhana itu?

Anak belajar membuat comro yang dipraktikkan saat sesi Sentra Cooking. Anak belajar tentang menghitung modal, belanja, dan keuntungan. Anak belajar hubungan sebab-akibat antara kedisiplinan bangun pagi untuk belanja dan mengolah bahan dengan hasil kerja. Anak belajar tatakrama berkomunikasi dengan orang yang baru dikenal. Anak belajar (mengembangkan) keterampilan menulis. Anak belajar tentang situasi yang tidak pasti, adakalanya dagangan laris, adakalanya sepi. Anak belajar kesabaran, ketekunan, tanggungjawab…. Daftarnya bisa panjang, dan di situlah peran kualitas guru menentukan. Dari guru yang kaya pengetahuan, kreativitas, wawasan, anak mendapatkan banyak hal.

Sudah itu saja. Kalau setuju dengan pesan yang tersembunyi dari tulisan ini, maka sebagai orangtua maupun guru, pembaca tidak akan lagi resah dengan Ujian Nasional.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s