Adab Berniaga, Adab Muamalah, Adab Politik…. Hidup Beradab

Salah satu ajaran budi pekerti yang kerap diajarkan di sekolah melalui pelajaran agama adalah adab berniaga. Di madrasah, dalam Mata Pelajaran Akhlaq, teladan kejujuran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menjadi rujukan utama. Sungguh teladan yang indah. Berniaga dengan memperlihatkan atau menjelaskan kebaikan-kebaikan sekaligus kekurangan-kekurangan barang yang diperniagakan.

Karena saya bukan guru dan juga belum pernah sukses jadi pedagang, maka tulisan ini memang tidak dimaksudkan untuk membahas bagaimana adab berdagang yang baik dan semestinya. Entah kenapa, tiba-tiba kegelisahan saya terhadap ingar-bingar politik di media sosial terantuk pada memori tentang ajaran budi pekerti itu.

Entah kenapa pula tiba-tiba saya membayangkan politik itu tak ubahnya perniagaan. Perniagaan jasa. Ada seorang pemilik lahan pertanian yang sangat luas, sehingga tidak mungkin dia menggarap sendiri lahan pertaniannya. Ada penyedia jasa datang menawarkan jasa menggarap lahan. Ada aturan-aturan, ada kesepakatan, ada ijab-qabul perjanjian pengikatan jual-beli.

Tapi, sebelum itu tercapai, jika merujuk ajaran budi pekerti di atas, penyedia jasa mungkin akan menjelaskan apa saja yang dimilikinya. Mulai dari bibit unggul, tenaga-tenaga ahli agronomi sampai personel lapangan yang terampil, ahli pengendalian hama, pompa irigasi bertenaga surya,  bahkan mungkin sampai teknologi pengolahan pasca panen.

Namun tak ketinggalan, ia juga menjelaskan, mungkin kekurangan dan efek pestisidanya,  menurunnya daya listrik pompa saat cuaca mendung, atau bahkan tabiatnya sendiri yang mudah marah. Pendek kata, saat kesepakatan tercapai kedua belah pihak benar-benar nyaman dan rela dengan segala konsekuensi yang telah dibeberkan di atas meja.

Dan lagi, yang datang menawarkan jasa ternyata tidak hanya satu, melainkan beberapa, sehingga pemilik lahan bisa membanding-bandingkan untung rugi dari tiap-tiap penawaran.

Ngeri membayangkan seandainya para penyedia jasa baku-fitnah untuk merebut minat pemilik lahan. Apalagi fitnahnya tak berhubungan dengan urusan penggarapan lahan pertanian. “Si itu antek Majapahit.” “Si anu mata-mata Pajajaran.” “Awas, dia keturunan Jenghis Khan.” “Bahaya, dia didanai Pol Pot.” Waduh!

Bukan masalah bingungnya pemilik lahan yang  mengerikan. Tapi, sumberdaya pemilik lahan dan segenap keluarga, sanak-kerabat yang terdekat sampai yang terjauh habis buat membiayai dan melibatkan diri dalam baku-fitnah para penyedia jasa. Sampai harus berutang segala, yang akan dibayar kalau panen itu benar-benar nyata.

Ah, jangan-jangan cuma saya saja yang lebay menanggapi media sosial. Di dunia nyata tidak begitu, kok. Biasa-biasa saja, tidak ada perang fitnah pedagang. Semua bergaul dengan beradab.

Eiits…. awas, ya. Korupsi dan permufakatan jahat pedagang, pencoleng, pejabat dan politikus itu bukan dongeng. Nah, kalau yang ini ga papa diramein di media sosial. Asal bener, ada fakta. Itu baru namanya hidup beradab.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s