Kyai Sabil (1)

Aku tertegun di pintu. Sekian detik berlalu sebelum saya ingat harus membalas uluk salamnya.

“Wa’alaikum salam warahmatullah wabarakatuh. Alhamdulillah. Allahu Akbar. Mbah Yai Sabil… monggo, silakan masuk?”

Lelaki sepuh. Delapan puluh tahunan. Tapi, genggamannya yang saya rasakan saat berjabat tangan seperti mengalirkan bergiga-gigabita informasi dalam hitungan detik, bahwa beliau masih segar bugar. Kakinya kokoh menapaki tiga undakan  ubin ke teras, dan langkahnya tidak terseret.

“Alhamdulillah, Mbah Yai terlihat segar,” kataku dengan pandangan takjub yang mekar begitu saja.

“Iya, alhamdulillah. Kamu sendiri bagaimana, Mas Bayu?” kata Kyai Sabil seraya menju kursi tamu.

“Alhamdulilah. Saya, isteri dan anak-anak juga sehat wal afiat. Sebentar, saya ambilkan minum,… mau dibikinkan kopi, atau teh?” kata saya seraya melangkah ke dapur.

“Kopi boleh juga. Tidak pakai gula, dan ‘adukan thawaf’.”

“Ha-ha-ha,… Mbah Yai masih ingat saja.”

Saya tersipu-sipu mengingat kembali perkenalan kami tiga tahun silam saat sama-sama bermukim beberapa hari di pesantren. Saya mengantar putra saya, dan beliau mengantar cucu. Saya menyuguhkan kopi untuk menemani obrolan kami, orang-orang yang tersingkir sejenak dari hiruk-pikuk rutinitas kerja di kota. Dalam suasana penuh canda dan keakraban itulah, saya mempromosikan “adukan thawaf” yang diajarkan seorang teman, secara bercanda juga. Mengaduk kopi berlawanan arah dengan putaran jarum jam.

“Ini, diminum air putihnya dulu, ya Mbah, sebentar lagi air kopinya mendidih.”

“Terimakasih, Mas Bayu. Wah, suami rumahan rajin juga, sempat-sempatnya bikin pisang goreng.”

“Oh, kalau yang itu, istri saya yang bikin sebelum berangkat ke sekolah, Mbah Yai. Belum. Belum rajin. Masya Allah, Mbah Yai bisa sampai juga pulau terluar ini. Matur suwun rawuhipun.”

“Ternyata tidak sulit mencarinya, koq.”
“Alhamdulillah.”

Saya kembali ke dapur, menyeduh kopi. Terasa begitu ringan tangan saya oleh rasa riang kedatangan Kyai Sabil. Pada saat yang sama, ada rasa bersalah karena belum sekalipun saya sowan ke rumah beliau.

Memang tak terlalu banyak yang saya ketahui tentang sosok Kyai Sabil. Tapi, keakraban yang mengalir begitu saja dari energi silaturahim itu seperti sebuah paradoks yang meruntuhkan seribu satu alasan dan pertimbangan.

Yang tak segara mampu saya mengerti, bagaimana Kyai Sabil begitu mantap mengunjungi saya, tanpa menelepon dulu, dan mendapati saya berada di rumah. Seperti seseorang yang sudah hafal pola kegiatan keseharian saya. Yah, saya seorang “suami rumahan”, tapi pekerjaan juga tetap mengharuskan saya sesekali berdesak-desakan di gerbong keretaapi, atau duduk sabar menikmati mood sopir angkot, yang dikejar angka setoran hari ini atau yang dikuasai rasa jenuh menghadapi kehidupan yang tidak pasti.

Yang lebih sulit saya cerna, betapa kuat ketekunan dan keteguhan Kyai Sabil menghimpun pelajaran-pelajaran kehidupan. Sehingga, walau dalam suasana canda-tawa, kata-kata seperti menemukan energi dalam rangkaian-rangkaian bernas yang dia alirkan. Hal-hal sederhana yang tidak ada di buku ilmiah atau ceramah dan khutbah para ustadz. Juga tidak ada di jurnal akademis para cendikia. Tanpa kutipan ayat-ayat mulia, atau hadits Nabi Muhammad saw. Batu-betul hal sederhana dari kehidupan orang biasa. Tapi, saya makna kata-katanya membawa aura buku ilmiah, ceramah ustadz, bahkan analisis akademis.

Ah, mungkin saya saja yang memang kurang piknik. Tapi begitulah, saya biasanya akan lebih banyak diam mencerna kata-katanya, ketimbang berdiskusi interaktif. Kepala serasa terantuk-antuk logika biasa yang terpendam di bawah debu-debu tebal kejumudan pikir. Atau yang disembunyikan oleh keasyikan berburu brevet pembelajar sepanjang hayat, pemikir kritis, manusia kreatif, dan… entah apa lagi. Keasyikan yang tiba-tiba mendarat di bumi realitas, dan Kyai Sabil seperti berkata, “Kamu lupa, ya?”.

“Ini, Mbah Yai, ‘kopi thawaf’-nya. Monggo.”

“Terimakasih, Mas Bayu.”

“Saya yang berterimakasih, tak terkirakan sukacita saya, Mbah Yai sudi bersusah-payah mengunjungi saya.”

“Tak perlu begitu. Tak perlu mengukur kebaikan dengan kepantasan siapa yang harus melakukan apa. Tidak mesti harus yang muda yang mengunjungi yang tua. Lakukan saja apa yang kamu bisa lakukan. Dan, saya merasa masih kuat untuk bepergian, ya saya lakukan saja.”

Kyai Sabil membaca rasa bersalah saya.

“Mas Bayu, kita tidak bisa dan tidak akan pernah mampu membanding-bandingkan nilai kebaikan manusia yang satu dengan yang lain. Kita hanya bertugas berbuat baik, terus belajar berbuat baik agar kita menjadi lebih baik. Belajar dari siapa saja.”

Mulai saatnya saya terdiam.

“Mas Bayu, sampeyan rajin ke masjid itu adalah ikhtiar, bukan prestasi. Sampeyan shalat dhuha, itu adalah ikhtiar, bukan prestasi. Sampeyan tahajud, itu adalah ikhtiar, bukan prestasi. Sampeyan bersedekah, itu adalah ikhtiar. Semua ikhtiar itu untuk memperbaiki hidup kita, dan bersifat tidak pasti, kita tidak punya jaminan hasilnya pasti.”

Kyai Sabil menyeruput kopinya, lalu mengambil pisang goreng yang terhidang di piring di atas meja. Suasana senyap. Kyai Sabil mengunyah pisang tanpa menimbulkan suara. Saya pun turut menemani, menikmati kopi dan pisang goreng. Tanpa berkata-kata. Lalu, Kyai Sabil melanjutkan kembali.

“Lha, kalau sadar tidak pasti dan tidak ada jaminan, bagaimana mungkin kita bisa sombong. Ingat, apapun yang sudah kita ikhtiarkan itu tidak ada apa-apanya. Tidak ada apapanya dibandingkan dengan yang seharusnya bisa kita ikhtiarkan berdasarkan bekal yang sudah diberikan kepada kita. Betul, kan?”

Saya mengangguk, menatap dan merasakan keteduhan dari air muka Kyai Sabil.

“Mas Bayu, apakah kamu tahu semua bekal yang sudah diberikan Allah kepadamu?”

Saya menggeleng pelan.

“Lha, kalau belum tahu semua, bagaimana kita bisa tahu apa yang bisa kita lakukan dengan semua bekal itu. Apalagi mensyukurinya. Bersyukur itu berterimakasih. Cara berterimakasih yang terbaik adalah memanfaatkan pemberian itu dengan ikhtiar terbaik sehingga membawa manfaat terbaik.”

“Tadi pagi, saya pelajari diri saya, saya pelajari badan saya, dan saya pelajari apa yang bisa saya lakukan. Ternyata, badan saya masih kuat untuk bepergian. Dari ragakita sendiri kita tidak  akan khatam mempelajari nikmat Allah. Ya tidak apa-apa, kita belajar terus. Berusaha berbuat baik terus. Tak usah mengukur kebaikan orang lain.”

[BERSAMBUNG]

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s