Pendidikan Menuju Lowongan Pekerjaan

Kalau dibuat daftarnya, mungkin buku seribu halaman tak cukup untuk menghimpun jenis-jenis problem kekusutan wajah pendidikan Indonesia. Ada kecurangan Ujian Nasional (jangan-jangan memang tidak pernah tidak terjadi kecurangan sepanjang masa). Ada kasus-kasus ekstrem kriminalitas pelajar, termasuk kejahatan seksual. Jumlahnya kian mengerikan dengan sebaran wilayah yang merata.

Ada pula masalah rendahnya daya saing tenaga-tenaga terdidik. Ada daya dan minat baca yang mini. Dan…. masih banyak lagi.

Ketika tersiar berita yang terkait dengan salah satu atau lebih kerut-kerut wajah buruk pendidikan seperti diatas, apa reaksi yang muncul. Biasanya muncul hiruk-pikuk sesaat saling lempar tudingan: salah guru, salah sekolah, salah orangtua, salah menteri, salah presiden…. Lalu reda dan sepi kembali seperti sedia kala.

Seandainya, nih, ya, seandainya diminta menyebutkan 100 unsur-unsur problematik dalam pendidikan kita, apa yang segera terpikir di kepala? Kalau saya mantap menyebut reduksi makna kata belajar di persekolahan.

Mengapa begitu? Sebab, di sekolah-sekolah (dan akhirnya menjadi persepsi yang berlaku di dalam keluarga), belajar itu bukan lagi pembangunan bekal kehidupan. Fungsinya telah bergeser untuk mengejar target standar-standar. Dan, tahu kan, semua target itu mengarah ke satu titik tunggal: LOWONGAN PEKERJAAN.

Buat apa sekolah tinggi-tinggi, kalau tidak dapat pekerjaan yang “enak”, “gampang” dan bikin cepat kaya? Buat apa capek-capek belajar kalau tidak berpeluang meraih kedudukan yang “basah”,  kursi pejabat, atau sekurang-kurangnya jadi PNS-lah?

Yah, sistemnya memang dibuat seperti itu. Pendidikan itu bukan membangun otot-otot dasar kehidupan manusia. Pendidikan itu untuk mendapatkan label-label pasar yang bisa dipakai untuk mencari pekerjaan nantinya. Kalaupun ada yang namanya pendidikan karakter, pembinaan soft-skill, atau apalah namanya, itu hanya selingan saja.

Jadi, ya jangan mengeluh kalau ada “ekses-ekses”  ekstrem yang dilakukan “oknum-oknum” seperti disebutkan di atas. Sistem pendidikan memang bukan dibuat untuk menangkis hal-hal seperti itu. Sistem pendidikan itu hanya untuk memacu dan terus memacu prestasi akademis sampai juara olimpiade sains dan arena perebutan piala-piala lainnya.

Kecuali kalau mau bersama-sama melakukan revolusi. Cuma, ya itu, setiap orangtua yang menginginkan revoluasi harus siap melupakan banyak hal. Lupakan sekolah favorit, sekolah bonafide, sekolah unggulan, sekolah bertaraf dan bertarif internasional. Lupakan rebutan kursi juara, mungkin juga lupakan angan-angan”kursi basah” dan lain-lain.

Sebagai gantinya, berikan kebahagiaan belajar, benar-benar kebahagiaan belajar, bagi anak-anak. Berikan kesempatan anak menumbuhkan semua otot-otot dasar kehidupannya secara terpadu, dengan sehat dan lancar, yang selama ini terserut dan terampelas oleh ambisi prestasi akademis. Berani?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s