Apa iya, pendidikan dijalankan berdasarkan tujuan pendidikan?

Seandainya ada 100 guru Sekolah Dasar yang menjawab di blog ini, saya menduga akan ada 100 variasi jawaban untuk pertanyaan, “Untuk apa sih, pendidikan?” What is education for? Itu baru jenjang Sekolah Dasar saja, lho. Tidak berbeda secara kontras, tentu saja. Tapi, perbedaan bidang keahlian, latar belakang sosio-kultural-geografis, latar belakang pendidikan dan pengalaman dan lain-lain, akan menghasilkan keunikan dan kekhasan sudut pandang pada jawabannya. Terkecuali, misalnya, jawaban dibuat dengan copy-paste Pasal 3 UU No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Seandainya rumusan tujuan yang khas itu benar-benar ada, maka saya percaya rumusan itu menjadi pegangan otentik bagi guru dalam menjalankan peran dan tugas mulianya setiap hari. Mulai dari perencanaan, persiapan, pelaksanaan sampai evaluasi, semua dijalankan berdasarkan tujuan itu.

Sekarang pertanyaannya, “Apakah itu Perlu?” “Bukankah tujuan pendidikan sudah ditetapkan dalam Undang-Undang dan guru adalah bagian dari –serta harus tunduk pada– Sistem Pendidikan Nasional?” Atau dalam skala yang lebih spesifik, “Bukankah guru bagian dari satuan pendidikan (sekolah), yang sudan menjabarkan tujuan nasional ke dalam tujuan spesifiknya?”

Jawaban atas semua pertanyaan di atas tentu saja terpulang pada guru, itu pun kalau pertanyaan-pertanyaan di atas dianggap cukup berharga untuk diajukan. Jangan-jangan memang tidak berharga sama sekali. Hanya saja, pertanyaan-pertanyaan “usil” seperti di atas menyediakan ruang perenungan yang bisa mendatangkan lebih banyak lagi pertanyaan, dan setiap jawabannya membawa konsekuensi praktikal dengan keunikan-keunikannya. Bila ditulis dan saling diperbagikan, ah, pasti menarik sekali. Boleh jadi, tidak akan ada lagi pertanyaan putus asa, “Kemana akan dibawa pendidikan kita?”, misalnya, saat muncul produk keputusan politik tertentu yang memengaruhi praktik pendidikan. Saya mengandaikan independensi guru demikian kuat, sehingga tidak akan banyak terpengaruh oleh perubahan iklim politik apapun.

Mari coba membayangkannya lebih mendalam. Bila ada pertanyaan apa tujuan pendidikan, maka secara otomatis setiap guru punya pertanyaan lanjutan untuk melengkapinya: “tujuan menurut kebutuhan siapa?” kebutuhan negara, provinsi, kabupaten, dst… sampai kebutuhan hidup yang unik setiap anak?” Lalu, pertanyaannya mendesak lebih dalam lagi kepada diri, “Apa fungsi, peran dan manfaat yang bisa saya berikan dalam mencapai tujuan itu?” “Apa saja yang sudah saya miliki dan apa lagi yang belum saya miliki?” “Apakah yang saya terapkan sudah sejalan dengan tujuan itu?” “Apakah cocok dengan kondisi dan situasi anak-anak yang belajar bersama saya?” “Bagaimana caranya agar fungsi, peran dan manfaat saya bisa optimal?” “Bagaimana cara meningkatkannya?”….

Banyak sekali pertanyaan, ternyata. Bayangkan bila pertanyaan-pertanyaan itu dibahas dalam rapat pleno awal tahun di sekolah. Alangkah ramainya. Bila itu benar-benar muncul, mungkin akan sangat menakutkan bagi dunia pendidikan yang mengharuskan iklim serba standar dalam segala hal. Iklim yang banyak menuntut keseragaman. Iklim yang sangat mengagungkan pengukuran, pembandingan dan seleksi serta kompetisi anak berdasarkan ukuran yang seragam. Iklim yang terus menumbuhkan kegelisahan akan target pencapaian standar, tapi pada saat yang sama juga menumbuhkan kepercayaan diri bahwa standar yang ada saat ini adalah jaminan buat masa depan anak-anak bertahun-tahun kemudian.

Kalau pertanyaan-pertanyaan itu tidak pernah ada, yang muncul dalam benak saya adalah pertanyaan yang menjadi judul tulisan ini: “Apa iya, pendidikan dijalankan berdasarkan tujuan pendidikan?” Dalam lembar-lembar Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) memang selalu ditulis Tujuan Instruksional, baik yang umum maupun yang khusus, berikut uraian strategi, tindakan kelas dan perlengkapan yang dibutuhkan. Namun, tanpa pertanyaan-pertanyaan reflektif yang spesifik, maka uraian-uraian itu hanya akan sampai pada formalitas administratif, agar bisa direkap dan dievaluasi berdasarkan predefined standards semacam KKM (Kriteria Ketuntasan Minimum). Standar-standar itu tentu saja tidak bertolak dari kondisi dan kebutuhan anak, tapi keharusan anak demi keperluan pengisian kolom angka-angka dan persentase dalam administrasi pendidikan.

Kebutuhan administrasi pendidikan itu mutlak. Tapi, apa yang bisa diharapkan dari pembelajaran yang dipaksa-selaraskan dengan kebutuhan administrasi pendidikan, yang sangat mengagungkan efisiensi, kemudahan pengukuran, dan cakupan massal?

Sampai di sini mestinya cukup jelas perbedaan antara tujuan pendidikan dan kebutuhan administrasi pendidikan. Pendidikan yang dilaksanakan berdasarkan administrasi pendidikan bertitik tolak dari kebutuhan pencapaian target standar yang sudah ditetapkan. Sedangkan pendidikan yang dilaksanakan berdasarkan tujuan pendidikan, bertitik tolak dari tujuan dan kebutuhan hidup anak dan sangat menghargai keragaman serta kekhasan setiap anak. Kalau belum jelas, berarti tulisan saya belum bagus. Itu saja, sih.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s