Ambisi “Pertanyaan Amerika”

Pemikir Swiss, Jean Piaget, yang terkenal dengan teori “perkembangan kognitif”-nya, punya istilah menarik: “Pertanyaan Amerika”. Gara-garanya, setiap memberi ceramah di berbagai forum di Amerika Serikat, dia sering mendapat pertanyaan sejenis ini: “Apa yang bisa saya lakukan untuk membuat anak saya mencapai tahap kognitif lebih tinggi lebih cepat?” Itulah yang dia sebut “the American question”.

Menurut Piaget, pembelajaran anak harus berlangsung secara alamiah. Anak-anak tidak boleh didorong dan ditekan untuk mencapai terlalu banyak terlalu cepat dalam perkembangan mereka, sebelum kematangan mereka benar-benar siap sesuai tahapan-tahapannya.

Dalam iklim persekolahan yang serba selektif dan kompetitif, banyak orangtua mudah tergoda pada berbagai tawaran yang menjanjikan terpenuhinya ambisi-ambisi sejenis “Pertanyaan Amerika” tadi. Anak lebih cepat bisa membaca. Anak lebih cepat pintar berhitung. Anak lebih cepat mahir berbahasa Inggris. Anak lebih unggul. Anak berhasil masuk sekolah favorit.  Anak menjadi lulusan SMA termuda dan terbaik. Dan,…. pokoknya Anak saya  juara!

Ambisi-ambisi itu memang tumbuh bersama dan ditumbuhkan oleh “industri jasa” pendidikan. Semakin tinggi dan semakin besar ambisi-ambisi itu tumbuh, semakin tinggi dan semakin besar pula industrinya tumbuh. Ada permintaan, ada penawaran. Dan, sudah terbukti, “industri jasa” pendidikan tidak berkepentingan dengan urusan bagian-bagian lain yang mendasar dari tumbuh kembang anak, selain akumulasi pengetahuan.

Ambisi-ambisi itu mencerminkan betapa besarnya perhatian orangtua akan nasib masa depan anak. Namun, pada saat yang sama itu mencerminkan pula betapa besarnya pengabaian orangtua terhadap keberadaan diri anak sebagai seseorang, sebagai pribadi, yang situasi kehidupannya di masa depan tidak mungkin bisa diteropong oleh orangtua.

Lho, bukankah orangtua harus mendidik anak, memberi bekal terbaik, dan menyiapkan mereka dengan sebaik-bainya? Yesss, absoulutely! Dan bekal terbaik itu bukan jumlah pengetahuan yang terakumulasi; bukan rapor yang bergelimang angka sembilan-sepuluh; bukan pula piala dan piagam juara kelas sampai juara olimpiade sains.

Bekal terbaik adalah tumbuhnya otot-otot dasar kehidupan untuk menjadi manusia pembelajar sepanjang hayat. Otot-otot dasar kehidupan itu harus dan hanya bisa dibangun sampai pendidikan dasar. Pendidikan dasar dalam hal ini bukan hanya mencakup Sekolah Dasar, tapi yang bahkan lebih penting, adalah periode paling awal kehidupan: pendidikan usia dini, usia 0 sampai  7 tahun.

Pembelajar Sepanjang Hayat  tahu apa yang dia butuhkan dan tahu cara yang baik untuk memenuhi kebutuhan itu. Ya, menjadi manusia yang mampu mengenali diri dan membawa diri menjalani kehidupannya. Tak ada sedikitpun yang perlu dikhawatirkan jika otot-otot dasar kehidupan itu tumbuh sehat dan alami.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s