UN yang Mahapenting

Suatu hari seorang sahabat SMP saya yang kini berkarier sebagai pekerja migran menelpon saya. Dia adalah tipe anak yang menjadi dambaan banyak orangtua, rajin,pintar dan selalu unggul dalam terminologi persekolahan. Dia juga rajin bekerja di ladang dan sawah milik kedua orangtuanya.
 
Setelah obrolan-obrolan nostalgia dan saling bertukar kabar tentang keluarga, saya iseng bertanya, “Apa manfaat ilmu persamaan kuadrat ax2+bx+c=0 dalam kehidupanmu?” Dia terkekeh dan berujar, “Kamu bisa aja. Tapi, jelas adalah manfaatnya.” Paling tidak, katanya, bisa mengajar privat matematika.” Iya juga,ya.
 
Tapi, saya tetap gelisah memikirkan, sebandingkah energi anak-anak yang terkuras untuk pertarungan UN hari ini dengan hilangnya kesempatan belajar banyak hal lain sebagai bekal kehidupan nayata mereka di kemudian hari? Atau jangan-jangan memang tidak ada yang merasakan hilangnya kesempatan itu.
 
Mungkin sudah diterima wajar belaka bahwa semua anak memang harus bertarung habis-habisan di medan yang sama mencapai keunggulan akademis yang pemenangnya adalah minoritas sangat kecil. Setelah itu, yang tersingkir dari arus kecil top performers harus mencari sendiri, mereka-reka sendiri realitas dan jalan kehidupan yang ternyata asing. Realitas mulai mengasah otot-otot dasar kehidupan seperti kejujuran, tanggungjawab, daya juang, kedisiplinan, kesabaran, daya nalar.
 
Dalam keadaan itu, beruntunglah mereka sempat mengenali dan merawat passion dalam dirinya, entah itu bermusik, berdagang, menari, bersepakbola, mengarang, bertani. berkreasi kuliner, bikin snack dari ikan…. apa saja. Tapi, seberapa banyak yang seperti itu ketika sekolah meniscayakan setiap anak berjibaku memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)?
 
Faktanya, kini begitu banyak orang dewasa Indonesia yang takjub menyadari betapa kayanya laut Indonesia dengan ikan-ikan seharga Alphard. Begitu perkasanya St*rb*ck merajalela di negeri produsen kopi. Begitu digdayanya pedagang ayam crispy asing di bumi Nusantara nan subur, Begitu lincahnya Singapura yang mungil menjadi pengekspor produk cokelat terbesar.
 
Ah, tidak apa-apalah, toh anak-anak juga bisa melamar kerja ke tempat-tempat itu. Kita lanjutkan saja UN seperti biasa. Lagi pula, banyak tenaga kerja yang terserap karena kebeadaan pesta UN. Selain itu, bisnis atau industri sekolah-sekolah unggulan juga bisa terus didorong untuk berkontribusi secara ekonomi.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s