Happy Learning is Belajar dengan Bahagia

 
Ujian Nasional sebagai faktor motivasi belajar? Come on. Alangkah sempitnya jika tujuan belajar adalah mampu menjawab soal ujian. Kegembiraan karena mendapat penghargaan adalah kegembiraan yang bersifat sementara, karena kegembiraan itu sebatas kegembiraan material, atau setinggi-tingginya kegembiraan emosional. Mengapa? karena kegembiraan itu berasal dari unsur eksternal. Ketika unsur yang eksternal itu hilang, maka hilang pula kegembiraannya.
 
Motivasi internal untuk belajar itu sangat berlimpah jika ditumbuhkan dengan benar. Rasakanlah pada diri sendiri, betapa senangnya ketika kita mampu dan berhasil mengerjakan bermacam-macam hal. Betapa bahagianya ketika kita mampu menyelesaikan pekerjaan dengan tuntas. Betapa bahagianya ketika kita bisa mengerjakan sesuatu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Itulah kebahagiaan spiritual yang langgeng. Itulah hakikat belajar untuk kehidupan.
 
Ujian Nasional untuk memetakan mutu pendidikan? Come on. Renungkanlah analogi sedernaha ini:
 
Sertifikasi halal untuk produk makanan tidak dikeluarkan setelah pengujian satu persatu produk makanan yang siap dipasarkan. Capek, tau? Caranya bukan begitu. Yang diuji adalah sampel bahan bakunya, cara penyiapannya, alat-alat yang digunakan, mesin uintuk memrosesnya, cara mengolahnya. Proses produksi yang diteliti dan diuji. Mengapa? Karena dengan proses produksi yang menjamin kehalalan, maka produk makanannya terjamin halal. Tak perku lagi menguji satu persatu makanan dalam kemasan, baru boleh dijual.

Lalu, mengapa pula untuk memetakan mutu pendidikan harus menempeli satu-satu label pada setiap anak? Apa kau anggap anak-anak itu keramik yang harus disortir? Kalau harus menguji anak, cukup sampel saja, tidak perlu semuanya. Dan, yang lebih penting itu bukan Standar Kompetensi Lulusan (SKL), tapi standar proses produksinya. Katanya situ masih punya tujuh Standar Mutu Pendidikan lainnya? Ujilah itu. Periksa dengan teliti apakah isi pembelajarannya berkualitas? Apakah proses pembelajarannya bermutu? Apakah guru-gurunya kredibel? Apakah fasilitas sarana-prasarananya memadai? Apakah proyek pembangunan gedungnya dikorupsi? Apakah pengadaan bukunya tidak patgulipat pejabat-penerbit-sekolah? Apakah pendanaanya benar? Apakah sistem evaluasi berjalan dengan baik dan kontinyu?

Kalibrasi semua unsurdan proses produksinya. Itu baru namanya evaluasi pendidikan. Kalau semuanya benar, pasti anak-anak bahagia belajar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s