Membantu Anak Menemukan-Membangun Pengetahuan dan Konsep

Di satu sesi Sentra Persiapan Kelompok B TKIT An-Nahl, Desa Curug, Gunungsindur, Bogor, Fauzi bermain puzzle lingkaran dari bahan kayu. Ada enam buah puzzle lingkaran yang masing-masing terdiri dari satu, dua, tiga, empat, enam dan delapan keping. Setelah beberapa saat bermain, dia melapor kepada guru, “Bu, aku membuat lingkaran pakai keping seperempat dan keping setengah.” Guru merespons, “Ya, kamu bisa membuat bentuk lingkaran dengan menggabungkan keping seperempat lingkaran dan keping setengah lingkaran.”

Dalam momen pembelajaran dengan Metode Sentra tersebut, respons guru membantu penegasan dan penguatan beberapa kosakata sekaligus: bentuk lingkaran, menggabungkan, seperempat lingkaran dan setengah lingkaran. Secara tidak langsung, guru juga melakukan penguatan konsep yang ditemukan Fauzi tentang alternatif-alternatif cara membuat bentuk lingkaran. Sebetulnya, momen itu masih bisa dieksplorasi lagi dengan misalnya, “Coba lihat, mari kita hitung berapa keping yang kamu butuhkan untuk membuat bentuk lingkaran itu.”
Puzzle lingkaran

Atau, guru bisa menggali kemungkinan konsep yang berhasil ditemukan anak tentang perbandingan besar-kecil. Dengan stimulus atau pertanyaan yang tepat, anak seusia Fauzi bisa sampai pada, misalnya, konsep bahwa “ternyata satu keping setengah sama besarnya dengan dua keping seperempat”. Atau, “satu keping seperempat lingkaran digabungkan dengan satu keping seperempat lingkaran sama besarnya dengan satu keping setengah lingkaran.” Dan seterusnya.

Bila guru mengartikulasikan setiap penemuan dengan kalimat yang benar, jelas dan berstruktur, maka, selain penguatan konsep yang ditemukan, anak juga mendapatkan rangsangan untuk mensistematisasi penemuan konsep, dan karena itu proses berpikirnya. Dalam hal ini, guru bukan penuang pengetahuan, seperti menuang air ke dalam gelas. Tapi, fungsi guru lebih pada menjalankan peran sebagai fasilitator, karena pembelajarannya berpusat pada proses internal yang berlangsung di kepala anak (student-centered learning). Karena itu, perencanaan yang cermat dari guru memiliki peranan yang fundamental bagi pembelajaran yang optimal dan lancar.

Begitulah antara lain gambaran aplikasi non-direct teaching dalam model pembelajaran Metode Sentra. Paradigma “menemukan” dan “membangun” pengetahuan dalam model itu banyak dipengaruhi oleh teori constructivism yang diperkenalkan Jean Piaget dan Lev Vygotsky. Jika dalam model tradisional pengacuan ketat pada target kurikulum lebih diperhatikan, dalam model pembelajaran konstruktivis guru berusaha mengalirkan pembelajaran dari pertanyaan dan minat anak. Perbedaan lainnya, dalam model tradisional pembelajaran berbasis repetisi (pengulang-ulangan), model konstruktivis lebih interaktif, membangun berdasarkan apa yang sudah diketahui anak.

Itu sebabnya, pada model tradisional guru mendiseminasi informasi, atau anak menjadi penerima informasi. Sedangkan pada model konstruktivis, guru melakukan dialog dengan anak-anak dan membantu mereka membangun pengetahuan mereka sendiri. Pada gilirannya, asesmen atau penilaian hasil belajar pada model tradisional bertumpu pada tes dan jawaban yang benar. Sedangkan pada model konstruktivis, selain tes, asesmen juga mencakup hasil pekerjaan anak, observasi, dan sudut pandang mereka.

Pada awal-awal mengikuti berita dan ulasan mengenai Kurikulum 2013 pada medio 2012, saya bersuka-cita penuh harap perubahan itu benar-benar akan mengembalikan sekolah sebagai tempat belajar, bukan tempat memburu angka nilai Ujian Nasional. Ini bukan karena klaim Mendikbud waktu itu bahwa Kurikulum 2013 adalah “perluasan konsep” dari model “Kurikulum sebagai proses” yang dikembangkan Finlandia sejak 1990-an. (Keren, kan?!!) Tapi, rasa suka cita itu lebih karena dalam paparan fiolosofinya di UU No. 67 ahun 2013 tertera jargon-jargon “berpusat pada anak”, “pembelajaran interaktif”, bahkan pergeseran dari “pembelajaran pasif menjadi pembelajaran aktif mencari”.  Pendeknya, cocok sekali dengan persepsi saya tentang makna kata belajar yang semestinya.

Namun, saya mulai galau ketika Mendikbud menjelaskan dalam dokumen paparan sosialisasi bertanggal 25 Agustus 2013, bahwa konsep Kurikulum 2013 bertumpu pada cara pandang “Eklektik” (gabungan) dari tiga teori, yaitu “Esensialisme, Progresivisme dan Constructionalisme [sic]).” Entah mana yang dimaksud Constructionalisme, karena yang umum dikenal kalangan dunia pendidikan adalah Constructivism ala Piaget-Vygotsky dan Constructionism ala Seymour Papert.

Yang lebih menggalaukan adalah ketika UU tersebut dijabarkan ke dalam Permendikbud Nomor 81a Tahun 2013. Tiba-tiba saja, muncul dalam lampiran peraturan tersebut, penjelasan filosofi “eklektik yang berakar dari filosofi perenialisme, esensialisme, progresivisme, rekonstruksi sosial, dan humanisme.”  (Jadi lima, ya?). Terserahlah, mungkin guru juga tidak butuh-butuh amat menekuni teori-teori njelimet. Namun, yang segera dirasakan oleh para guru dari pedoman penerapan Kurikulum 2013 adalah, mereka semakin terengah-engah dikejar oleh target yang dikemas sebagai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal).

Artinya apa? The same old things! Alias sami mawon. Belajar adalah mengejar target sekian paket pengetahuan untuk menjawab soal-soal ujian. Mengajar adalah mengejar target penuangan sekian paket pengetahuan yang sama ke setiap kepala dalam kelas agar “berprestasi” dalam menjawab soal-soal ujian. Administrasi pendidikan adalah mesin untuk menghasilkan lulusan-lulusan “berprestasi” menurut ukuran Ujian Nasional. Jadi, lupakan saja jargon “berpusat pada anak”, “pembelajaran interaktif”, “pembelajaran aktif mencari”. Tak bakal sampai ke target, dan bisa-bisa sekolah tersingkir dari lomba pacuan keunggulan. Kapan jadi sekolah favorit?

Ada yang berani mengabaikan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s